
Pagi ini Jaesi sudah bersiap buat pergi dan melakukan rencana awalnya di depan adiknya juga lagi memakai sepatu dan menalikannya, laki-laki yang berparawakkan sipit itu gak menunggu sang kakak buat masuk ke dalam mobil. Jaeril memanasi kendaraan mereka lalu membiarkannya begitu saja, cowok itu agak gak yakin sama rencana kakak perempuannya karena walau bagaimanapun juga Jaeran dan juga Marco sulit disatukan ... Jaesi tersenyum penuh pada adiknya kemudian menepuk pundak adik cowoknya pelan. Jaeril gak paham lagi sama jalan pikiran kakak perempuannya. "Nanti elo jadi orang pertama yang liat mereka kompak, yakin gue." Jaeril menghela panjang lalu mengangguk pas dalam perjalanan ke dufan gadis itu kaget saat Marco sama Jaeran malah ngajak pasangan mereka, adik cowoknya mengerutkan keningnya heran sebelum memberikan bukti chat pada Jaeril.
"Ngapain mereka ajak loe jalan kalo misalkan cuma buat elo sakit hati?!" seru pemuda tersebut yang memutar balik dan Jaesi sontak membelalak kaget, Jaeril seakan menolak usulan kakaknya. Jaesi kekeh mau melaksanakan niatnya itu tapi juga adiknya bersih keras gak pingin sesuatu terjadi padanya, Jaesi janji gak akan sedih kalau melihat keromantisan mereka berempat.
"Gue tetap bakal ngajak mereka jalan, soalnya mereka yang mau."
"Terserah loe deh, tambeng banget." Jaesi mengulas senyumnya gadis itu yakin dirinya tidak sendirian karena bakal ada Jacob, seenggaknya gak ngenes banget begitu loh: Jacob sudah banyak mengirimkan pesan pada Jaesi tapi cuma dibaca doang sebenarnya tujuan gadis itu apa mengajak mereka semua liburan bareng. Sesampainya mereka berdua sudah disambut dengan pemandangan gak enak dan buat Jaesi gak nyaman, Marco memang mantannya tapi kan gadis itu berniat balik sama mantannya tersebut gak peduli disebut sebagai gadis gak tau diri juga bukan masalah baginya.
Jacob berteriak lalu mendapatkan pukulan pada kepala belakangnya, "Jaesi!!" teriaknya yang kaya orang gak ketemu seabad.
"Berisik!"
"Ada Cil—" Jaesi langsung menutup mulut kakak dari Jaeran itu dan menariknya ke arah jalanan ancol, gadis itu membiarkan semua orang mengantri terlebih dulu dan dirinya bisa meluapkan kekesalannya dengan meneriaki telinga Jacob. "la, lho udah tau ya?!" heboh laki-laki bertubuh bongsor itu.
__ADS_1
"Udah, bahkan izin sama gue." Jaeril mengikuti langkah kakaknya bersama Marissa, cowok tersebut tampak acuh tapi debaran didada Marissa gak bisa dikontrol. "gue bodoh si pas bilang iya sama ajakkan mereka berdua, harusnya gue tolak aja." Jaeran kaya keliatan lemah banget dihadapan Cilla karena gak bisa berbuat banyak selama perjalanan selalu di ajak bicara. Jaesi lagi asik ngobrol tiba-tiba ponselnya dicopet, gadis itu bahkan gak pikir panjang buat mengejar pencopetnya. Pantai Marina memang luas dan sering banyak yang mengunjungi tapi siapa menyangka kalau Jaesi bakal kemalingan lagi, kali ini gadis itu pasti bisa melawan karena tempatnya lumayan ramai berbanding terbalik waktu ditol bepas.
Cewek itu memasang pertahanan bahkan Jaeril sama Jacob gak sadar kalau gadis itu mengejar pencuri. "ya loe tau elo beg— Jaesi, mana?" tanya Jacob sama Jaeril.
"Lha sama abang tadi!"
"Ya iya tapi kaga ada?!" keduanya membelalak sudah bisa menduga kalau gadis itu pasti berulah lagi sementara Jacob, Marissa dan Jaeril mencari Jaesi. Marco menikmati waktunya bersama Vanilla, saat dirinya melihat sosok yang gak asing berlari ke arah luar pantai, keduanya seakan gak peduli. Jaesi masih melawan pencopet itu dengan kemampuannya bahkan gadis tersebut hampir membunuh sang pencopet kalau gak karena pengunjung setempat, kebetulannya gadis itu juga menyelamatkan tas lain. "MUNAROH!!!" pekik Jacob khawatir lalu berjalan cepat.
"Tapi—"
"Loe hampir smakedown orang!!! pulang!!!" tarik Jaeril yang marah karena kakaknya sembarang memakai bela dirinya, untung saja pencopet itu segera dibawa pergi kalau gak mungkin tinggal nama ditangan Jaesi, sepanjang jalan cowok tersebut mengoceh saja menceramahi kakaknya. Jaesi mencibir kelakuan adiknya yang akhirnya ditolerir buat main-main di dufan dulu kan memang pada awalnya begitu tapi karena Jaeril buntutin mau gak mau deh masuk Marina.
"Loe sama Marissa nanti gue sama Jack." usul gadis itu pada saat masuk ke dalam dufan jalan Jaesi sama Jaeran saling berbelakangan jaraknya lima inci tanpa keduanya sadari, Jaeran tau kalau cowok bongsor itu adalah kakaknya. Namun ia gak sadar kalau gadis kepang satu itu merupakan Jaesi. "gue mau permen kapas!" Jaesi kelihatan lebih bahagia, Jacob membelikannya semua yang diminta gadis tersebut.
__ADS_1
"Bentuk hati, karena hatinya punya Yayang Njae."
"Matamu Njae! ayo ke sana main tembak-tembakkan yang menang traktir Sbuck!" Jacob gak kaget sumpah gadis ini otaknya memang penuh sama makanan jadi gak heran kalau maunya gratisan, Jaesi ketawa lepas banget pemuda di sampingnya ikut tersenyum sayangnya Jacob gak punya perasaan apa pun sama Jaesi. Sudah lama sekali pemuda itu buang karena dahulu adiknya sangat terobsesi mendapatkan Jaesi sampai keduanya terjebak zona persahabatan. Jaeran merasa seperti mendengar suara Jaesi, entahlah bagaimana bisa ia menggagali rencana yang sudah lelaki itu susun agar bisa berduaan sama sahabat perempuannya. Kalau Marco memang gak begitu niat buat ajak Jaesi jalan dan kebenaran sekali Vanilla meminta ikut jadi sekalian saja.
Cilla memandang sekeliling dengan wajah yang riang bahkan lebih berbinar dari sebelumnya. "makasih udah ajak aku jalan!" seru gadis tersebut riang Jaeran gak terlalu fokus, ia mematri pandangannya pada sosok perempuan yang bersama kakaknya. "kamu mau, kan ajak aku lagi nanti?" Jaeran mengangguk sambil menunjukkan deretan giginya.
"Iya." sahut sang kekasih sekenanya.
Marissa berteriak jengkel karena terus saja ditinggal sama Jaeril, "loe pikir gunanya apa ngajak!!" teriak gadis yang seumuran dengannya. Jaeril mendengkus sebal lalu meliriknya sekilas bersikap dingin, cowok itu masih belum bisa lupa bagaimana cara Marco menyakiti kakaknya lagian juga Jaeril sama sekali gak membalas perlakuan kakak laki-laki Marissa.
"Ya gak tau kan cuma disuruh kakak gue doang." Marissa menyesal mengiyakan ajakkan itu dengan harapan cowok yang berjalan meninggalkannya itu mau membuka hatinya lagi untuk dirinya. Marissa menghentikan langkahnya yang sontak saja membuat Jaeril ikut terhenti, adik dari Marco ini hendak mengatur detak jantungnya yang bertalu-talu. "loe ngapain?" Marissa menggeleng perlahan sembari tersenyum manis.
"Gak," semu merah dipipinya. Cilla dan Jacob pergi bersamaan sampai di menit berikutnya Jacob tau kalau Jaesi salah genggam tangan pemuda lain ketika kembali dari beli es krim, bahkan pandangan Cilla sampai ditutupi menggunakan badan besarnya. Keduanya sama-sama terkejut saat ada dibiang lala, Jaesi diam saja lalu mengamati sekitar mereka mendadak mesinnya berhenti hingga gak sengaja Jaeran menahan si gadis yang berada dipojok dirinya menggunakan satu tangan karena terlalu kaget. Tatapan keduanya sangat dalam ada rasa bahagia di dalam debaran mereka berdua, Jaesi dan Jaeran gak melepaskan pandangan mereka sampai mesinnya kembali bergerak.
__ADS_1