
Darren masih memandangi wajah temannya lalu menggumamkan sesuatu, "komitmen elo tuh gak akan ada gunanya kalo cowoknya kaya Marco. Percuma, dia bakal temuin si adek kelas ganjen itu lagi liat aja dah. Sesuprise itu nanti kalo loe liat cowok loe." dengus Darren benar-benar lelah atas sikap bodoh Jaesi sebagai teman ia tak mau kalau temannya berada dalam kesusahan tapi yang jadi teman malah gqk tau diri. Harusnya Jaesi sama Jaeran itu lebih pantas pacaran daripada sebagai teman dekat yang dalam diam menyimpan rasa suka, "punya temen gak ada yang beres satupun. Giska pinjem tipek!"
"Pinjem! Beli!" pekik Giska yang tak berikan barangnya. Darren merenggut kesal karena gak diberi pinjam oleh teman sekelasnya itu dan malah berakhir adu mulut antara mereka berdua Giska gak mau bendanya hilang lagi karena terakhir kali meminjamkan pada cowok berlesung pipi itu tipeknya hilang entah ke mana, Darren kalau mengembalikan selalu dilempar makanya barangnya selalu hilang. "Terakhir barang gue loe lempar ilang sampai sekarang gak ketemu!" sinis gadis itu. Giska memang seperti ini jika ada yang berani padanya ya hanya Darren doang yang lain cuma bisa menonton saja.
"Ya udah si kampret! Gak usah ngegas gak lagi bawa motor kan?!" balas pemuda berdimple itu gak kalah sungut. Darren menyulut emosi Giska walau begitu keduanya gak akan adu mulut dalam waktu lama setelah beberapa detik perempuan yang melayaninya itu tampak bosan dan langsung melengos pergi, Darren pun bakal diam saja. "Kenaapa gak ada yang beres sama warga kelas gue!" gerutu cowok itu yang kemudian menyusul Jaesi ke kantin. Dilihatnya teman perempuannya itu sedang tergelak bersama Marco dan jangan lupa ada Jaeran serta Cilla juga di samping mereka. Rupanya gadis itu benar-benar bakal melupakan Jaeran kelihatan sekali gadis di sana itu tak melirik ke arah samping mejanya, Darren menghela pelan. Lagi kaya begitu Vanilla datang bersama robongannya duduk di hadapan kedua pasangan itu.
Marco merapikan meja mereka lalu berjalan menggenggam tangan Jaesi yang gak meluntur senyumnya, "jangan pernah berubah ya." Jaesi mengerat pegangannya lalu menatap manik pacarnya dengan dalam. Ada yang kebakar tapi bukan kayu, ada yang patah tapi bukan pensil, perasaan Jaeran berkecamuk saat itu ketika melihat adegan di depannya. Marco sempat melihat kejadian itu lalu menyeringai pada Jaeran diam-diam cowok yang bersama Cilla itu mengepalkan tangannya kuat, gak berselang lama Darren masuk tapi Jaesi sudah mau pergi. Pemuda berlesung pipi itu menahannya sebentar namun cekalan tersebut dilepas paksa sama Marco.
"Jaes, loe yakin nyakitin diri sendiri kaya gini," bisik Darren agar gak ada yang mendengarnya. Gak butuh beberapa saat buat Marco menarik Jaesi ke arah kelasnya, agar gak ada lagi yang mengganggu mereka berdua.
__ADS_1
"Yakin."
"Kalo ada apa-apa kasih tau gue," balas cowok itu yang langsung pergi dari sana gak berselang lama Jaeran meliriknya dengan tatapan sinis. Entah kenapa teman seperbasketannya itu kaya lagi nahan marah begitu bahkan Cilla gak tau sikap kesal yang ditunjukan oleh Jaeran karena apa, pemuda yang kini pergi mengarah ke lapangan basket lagipula di sana masih ada Jantho yang bisa ia ajak main. "elo apain Jaeran? Gak kasih jatah malming?" Cilla menoleh namun hanya diam saja perasaannya mengatakan bahwa Jaeran kesal karena tingkah aneh Jaesi.
"Gue gak tau." sahutnya agak ketus, Darren mengerutkan keningnya lalu menghela keras. Harusnya mereka bisa mengontrol perasaan masing-masing, kenapa juga Jaeran sangat membenci Marco dan juga menggunakan alasan yang gak masuk akal ketika ditanya hal tersebut.
Jaeril jalan ke dalam kelas dengan pandangan kosong ya walau bagaimanapun juga yang selama ini berusaha untuk mendekati Juliana cuma dirinya tapi malah temannya yang dapatin semua haknya, Marissa tadinya mau meledek tapi itu ia urungkan karena melihat suasana hati Jaeril. Ia tau kapan harus bercanda dan kapan harus serius, Marissa melengang pergi dengan begitu acuhnya. "apa?!" seru cowok yang berdiri di depan pintu kelas. "gue lagi males ribut, skip dulu berantemnya." mendadak Marissa merasa penasaran sama kekesalan Jaeril.
"Terserah," balas Jaeril lagi yang langsung mendorong perempuan di depannya begitu saja. Agak kasar tapi gak sekasar itu kok, cuma Marissa memang sedikit bebal saat di dorong oleh cowok tersebut ... Marissa bahkan gak berkata apa-apalagi saat melihat Jaeril tampak suntuk. "berani ganggu, gue tampol." kecam adik laki-laki Jaesi yang sontak saja membuat Marissa melotot.
__ADS_1
"Ouh loe berani sama perempuan!" pekik perempuan di hadapan Jaeril.
"Perempuan jadi-jadian kaya elo ngapain harus takut!" sembur Jaeril yang gak kalah sungut. Pemuda itu sendiri yang bilang gak mau diganggu tapi ia malah membangunkan singa betina, Jaeril gak peduli sama itu yang terpenting baginya adalah kemarahannya tersalur. Bahkan salah satu temannya selalu menjadikan keduanya sebagai pasangan dalam setiap kelompok tapi bukannya akur malah semakin saling menghina.
"Kalian kalo tengkar mulu bisa saling jatuh cinta lho," peringat ketua kelas.
"Najis!"/"najis!" ujar mereka berdua secara berbarengan tapi itu malah memperburuk situasi yang di mana Jaeril makin sebal, adu mulut keduanya pun kian panjang dan gak berkesudahan itu membuat sang ketua kelas merasa lelah buat melerai mereka. Jaeril bergegas masuk ke dalam kelas lalu mengambil tasnya kemudian segera pulang ke rumah, pemuda itu bahkan gak menoleh kanan dan kiri saat jalan ke parkiran. Mungkin suasana hatinya benar kacau sehingga cowok itu selalu melamun sendirian salah seorang temannya melihat ketika Jaeril hendak menyalakan mesin motornya, Julian tampak memasang wajah agak gak enak hati.
"Sory ya Ril gue gak tau kalo si kacrut udah deket sama cowok lain."
__ADS_1
"Gak apa, lagian itu kan kembaran loe bagaimana bisa elo gak tau si." sahut Jaeril agak kesal sama kelakuan temannya sendiri bukan bagaimana-bagaimananya masalahnya selama ini kan dia yang berjuang agak gak adil saja. Julian merasa gak enak hati sungguh, itu juga kalau bukan karena teman satu ekstrakulikuler Julian gak mungkin mau melakukannya. Jaeril merebahkan tubuhnya lalu menatap langit kamarnya dengan tatapan sendu, dia sendirian di rumah gak ada orang sama sekali bukannya ia terbiasa tapi hari ini dirinya sedang butuh tempat buat bercerita. Saat suara Jaesi menggema cowok itu langsung menoleh ke arah pintu kamarnya, Jaeril beranjak lalu melangkah keluar. Ditatapnya Jaesi sama Marco yang lagi duduk berdua sambil saling menautkan tangan keduanya, rupa-rupanya kakak perempuannya lagi jadi lem. Lengket. Jaeril menghela semakin panjang kemudian mengutuk kejombloannya.