
Jaeril merebahkan tubuhnya lalu menatap langit kamarnya dengan tatapan sendu, dia sendirian di rumah gak ada orang sama sekali bukannya ia terbiasa tapi hari ini dirinya sedang butuh tempat buat bercerita. Saat suara Jaesi menggema cowok itu langsung menoleh ke arah pintu kamarnya, Jaeril beranjak lalu melangkah keluar. Ditatapnya Jaesi sama Marco yang lagi duduk berdua sambil saling menautkan tangan keduanya, rupa-rupanya kakak perempuannya lagi jadi lem. Lengket. Jaeril menghela semakin panjang kemudian mengutuk kejombloannya. Asli kenapa ia gak lebih beruntung daripada Jaesi mereka satu orang tua tapi kenapa malah kisah percintaannya lebih nelangsa ketimbang Jaesi, "hah elah, gini banget." Jaesi menghentikan langkahnya lalu mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa loe? Gak lagi sawan, kan?"
"Sawan matamu! Habis kena tolak gue!" Jaesi membelalak lalu tertawa keras melihat kegalauan adiknya yang lagi mikirin kisah percintaannya, Jaeril memasang wajah sedatar mungkin kemudian menghela kasar dan menoyor kepala kakaknya. "Sike! Seorang Jaeril kena tolak, whoa ini si lebih dari berita bagus." Jaesi melengang ke kulkas dan mengambil minuman berkaleng di dalam lemari es itu, tak perlu mengkhawatirkan Jaeril: baginya sang adik sudah cukup mampu menghadapi masalah cintanya sendiri. Jaesi mengerti gak semuanya bisa Jaeril dapatkan dengan mudahnya mungkin saja adiknya harus sedikit lebih bersabar buat narik perhatian gebetannya, "gebetan elo tuh Juliana, kan?" kakak perempuannya itu menatap tak percaya adiknya setelah usai menceritakan kejadian sebenarnya.
"Gue kesal karena yang nikung itu Zergan, jadi gitu deh." Jaeril mendengkus pendek lalu meletakan gelasnya kembali setelah Jaesi balik ke ruang tamu, gadis itu terkejut karena Marco gak ada di tempatnya. Jaesi agak menghela nafasnya kesal kemudian melirik adiknya begitu terlihat di depan mata, "kakak loe gak mau bantu gue gitu?" Jaesi saja bingung dengan kisah percintaannya bagaimana ia bisa bantu adiknya.
"Duh, gak bisa Jae. Elo coba sendiri ya." Jaesi meraih jaket kulitnya lalu berlari ke arah garasi rumah dan segera menyalakan mesin mobil, Jaeril masih mengikutinya dari belakang membuat sang gadis tampak serba salah melihatnya. "nanti aja habis gue pergi, sekarang loe keluar dari mobil, please gue lagi buru-buru gak ada waktu sama sekali."
__ADS_1
"Emang loe mau ke mana si?"
"Urusan biasa," Jaeril agak mencibirnya sedikit lalu keluar dari mobil dan membiarkan kakak perempuannya pergi begitu. Jaesi menarik persenelingnya dengan kecepatan penuh namun ketika melewati rumah sahabatnya itu, Jaeran agak terperanjat sama aksi teman perempuannya itu. Sebenarnya mau menyusul tapi lagi ada Cilla di rumahnya mau buat alasan gak enak juga kalau biarin Cilla menunggunya selama itu, Jaeran gak mau jadi sahabat yang jahat tapi dia juga gak mau terlibat perselisihan sama gebetannya sendiri ... Jaeran tersenyum tipis pada anak tetangganya yang lewat barusan bukan hal lumrah jika ada yang melihat dirinya membawa seorang perempuan selain Jaesi. Banyak yang berharap cowok itu jadi menantu para ibu-ibu komplek termasuk mama Jaesi yang jelas-jelas tau kalau putri sudah punya gandengan, mama Jaesi sendiri dikenal sebagai penagih tuperware.
Mama Jaesi tersenyum pada bunda Jaeran yang lagi menawarkan kue kering pada ibu-ibu arisan. "saya tadi liat Jaeran bawa satu orang gadis? itu siapa Jeng?" bunda Jaeran hanya tersenyum pada salah ibu komplek.
"Kenapa emangnya bu?" tanya bunda Jaeran.
"Mau ke mana mama Jaesi?" ujar bunda Jaeran.
__ADS_1
"Ah, maaf mba kayanya aku gak bisa lama-lama," tukas mama Jaesi yang sangat buru-buru. Karena tak mau anaknya kenapa-napa di jalan, "anakku si Jaesi kerampokkan di jalan. Mobilnya hilang saat lagi turun di area bepas, maaf sekali lagi. Aku permisi dulu." bunda Jaeran terkejut lalu hendak meminta Jaeran mengantarnya namun sayangnya Jaesya selaku ibu dari Jaesi dan Jaeril sudah pergi lebih dulu, sesampainya di rumah mama berteriak pada putra bungsunya untuk segera menjemput kakak perempuannya itu. "JAERIL!!!" panggil mama gak santai.
"Apa sih ma? gak usah teriak, aku gak budek." dengus cowok itu yang memakai celana pendek dan kaus putih oblong berlogo hati, Jaeril memainkan ponselnya sebentar lalu menoleh pada mamanya yang tengah marah-marah. Sedangkan Jaesi merasa hari ini adalah hari paling sial baginya, karena lagi-lagi dia lihat Marco jalan sama Vanilla dan lebih sialnya lagi ya itu mobilnya hilang saat turun untuk menenangkan diri di daerah bepas becakayu, Jaesi menangis sehabis mengirim pesan pada mamanya. Gadis itu gak berpikir kalau Marco bakal pergi ke area puncak yang membuatnya berakhir seperti ini.
"Kakakmu kena rampok, mobilnya hilang! Cepat jemput kasian dia di daerah tol gak ada kendaraan!" Jaeril tadinya terlihat gak peduli saat mendengar apa yang mamanya katakan ia menyemburkan airnya begitu saja.
"Demi ma?!" mama mengangguk lalu Jaeril dengan cepat meraih jaket, namun ia baru ingat kalau celananya kurang pantas digunakan. "ah, iya. Celana!" berbanding terbalik sama bunda Jaeran yang jalan ke kamar putranya untuk menyuruh hal yang sama seperti mama Jaesi lakukan. Jaeran mengerutkan keningnya heran saat bundanya masuk ke dalam kamarnya, ouh ya Cilla baru saja pulang karena keduanya kembali bertengkar ... bunda Jaeran mengusap pelan surai anaknya dan menasihati putranya agar bersikap sewajarnya pada setiap teman perempuannya.
"Kamu sebenarnya lebih nyaman sama siapa?" tegur bunda pada Jaeran dan membuat kerutan di dahi cowok itu muncul. "bunda gak mau maksa kamu tapi kalian udah dekat dari kecil, jangan kasih harapan ke cewek lain kalo hati kamu aja masih bergantung ke Jaesi kasian Cilla." menohok sekali ucapan bunda tapi itu membuat Jaeran sadar ke mana ia harus menaruh rasa, "Jaesi kemalingan tadi mama Jaesya ngasih tau bunda. Jemput sana." Jaeran agak ragu dengan tindakkannya itu soalnya mereka sama-sama lagi dalam fase sulit.
__ADS_1
"Bunda Jaeran harus gimana? apa yang harus Jaeran lakukan."
"Pikirkan nanti, sekarang jemput Jaesi dulu." ketika Jaeril hendak mengeluarkan motornya pemuda itu melihat Jaeran sudah lebih dulu pingin mendatangi sang kakak, Jaesi pasti akan menolaknya. Pasti itu. Jaesi menolehkan kepalanya cepat lalu tangannya terjatuh ini di luar dugaannya, bukan keluarganya yang datang. Jaesi memundurkan langkahnya kemudian berbalik arah menjauh dari hadapan Jaeran, cowok itu menarik lengan si gadis lalu mendekapnya erat. Sangat erat sehingga gak jarak bagi keduanya, cowok itu merenggangkan tubuhnya lalu hal yang seharusnya tidak terjadi. Terjadi begitu saja, bahkan tanpa Jaeran sadari sudah mencium sahabatnya sendiri, Jaesi membeliak kaget lalu menamparnya. Itu saat pertama Jaeran memerlakukan gadis tersebut bukan sebagai seorang sahabat tetapi sebagai wanita. Mendadak hujan turun dan membuat suasana semakin sendu, Jaesi memegang erat detak jantungnya yang berpacu begitu hebat akibat aksi Jaeran barusan.