
Jaeran merebahkan tubuhnya pada sofa panjang yang ada di kamarnya. Pemuda itu menatap langit kamarnya yang kini sudah berbeda warna menjadi hitam keabuan, Jaeran bahkan masih memikirkan keadaan Jaesi yang sebenarnya gak perlu buat dicemaskan. Gadis itu lebih dari kata sehat. Sang pemuda masih tetap berusaha mengirimkan pesan permintaan maaf padanya seperti biasanya. Torehan luka itu terlalu dalam bagi Jaesi sehingga butuh waktu bagi gadis itu memaafkan sang sahabat: bahkan tidak sedikit yang mengetahui keberadaan gadis tersebut.
Jaeran mendengar suara gemuruh dari rumah samping. Suara yang sangat ia rindu. Desir nadinya bahkan takkan mampu menanggung rasa rindu itu dengan langkah berat sang pemuda berjalan dengan langkah gontai. "Jaesi!?" pekik Jaeran yang tak kuasa menahan rasa itu lagi. Jaesi terkejut mendengar suaranya ada rasa yang sulit gadis itu jelaskan namun perasaan kecewa juga tetap berkecamuk dalam dadanya. Jaesi melengos pergi begitu saja tanpa mau menunggu sang lawan bicara. Adiknya pun hanya dapat memandang penuh kecemasan lalu gadis itu membawa laju motornya dalam kecepatan tinggi.
"Bang! Jangan kejar, percuma. Itu gak mengubah apapun." di lain tempat Jaesi menghentikan motornya lalu menghela panjang seraya memandang sekelilingnya. Gadis itu memejamkan matanya menahan sesak dan tangis yang mulai berlomba-lomba untuk, Jaesi meremas ujung rok. Sampai pada detik berikutnya gadis itu bertemu dengan anak smp yang merupakan seorang tunanetra.
Si gadis meletakkan kruknya tepat disebelah Jaesi. Jaesi diam sesaat kemudian menatap wajah gadis itu yang sedikit agak serupa dengan dirinya. "kak bisa lihat ya?" Jaesi jelas terkejut dengan perkataan gadis buta itu.
"Kenapa emang?"
"Aku iri. Gak semua manusia yang bisa melihat dapat menghargai apa sudah mereka punya." Jaesi termangu mendengar penuturan sang gadis buta: dirinya yakin selama ini masih ada banyak orang yang memiliki kekurangan.
"Emang kamu gak bisa lihat?"
"Menurut kakak? Apa menurut kakak, aku pantas buat lihat dunia?"
"Kenapa ngomong kaya gitu?" gadis buta itu tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya pelan. Jaesi gak paham apa yang dibicarakan anak perempuan itu namun terbesit dalam hatinya ada keinginan untuk menolong sang anak, padahal mereka baru pertama kali bertemu tetapi rasanya seperti sudah kenal sangat lama. "siapa namanya?" tanya Jaesi.
"Nama kakak siapa?" Jaesi mengerut namun tetap menjawab.
__ADS_1
"Jaesi," gadis remaja itu tersenyum lalu mengangguk pelan. "kamu belum jawab pertanyaanku."
"Nama kita sama, namun ada perbedaan dengan penulisannya." kebetulan macam apa ini? Jaesi bahkan gak tau namanya sangat begitu pasaran siapapun bisa memakainya. "Ibu bilang arti nama Jaesi diambil dari dalam bahasa Paris. Jaesyllya Paradigma," jelas remaja itu.
"Nama kamu bagus." seakan menjadi isyarat bahwa jika dirinya telah meninggalkan bumi yang sudah tua ini akan ada penggantinya.
"Kakak juga." kedua tersenyum bersamaan sampai pada antrian terakhir Jaesi memohon undur diri pada gadis tersebut ... pertemuannya dengan anak remaja itu akan menjadi awal baru kehidupan dirinya di masa mendatang.
Gadis itu yakin jika kelak dirinya akan berguna. Jaesi berjalan menuju ruangan dokter Bunga. Dirinya sedikit bercerita tentang pertemuan yang baru saja terjadi, dengan rasa empaty yang tinggi gadis itu mendaftar namanya pada calon pendonor kornea mata untuk gadis itu. "anak itu manis, dok. Damai banget ngobrol sama dia." dokter Bunga mengulas senyum simpul lalu mencatat namanya.
"Hanya untuk gadis itu saja?" Jaesi menangguk tenang seraya menghela panjang. "siapa orangnya?" tanya dokter Bunga.
Namun sejurus kemudian sang dokter mengulum bibirnya tipis, mereka yang dilahirkan berbeda akan tetap berbeda namun jika mereka yang dilahirkan serupa tidak akan memiliki takdir serupa. Jaeran membersihkan wajahnya lalu menatap balkon kamarnya menunggu kedatangan sahabat kecilnya. Jaesi baru saja sampai dengan motor yang gadis itu kendarai. Jaesi memalingkan wajahnya lalu menghela lelah, apakah Jaeran akan tetap menunggunya seperti itu.
"Njaes!" sapa lelaki tersebut riang.
"Hn," sahut sang gadis sekenanya. "Jae, gue dengar hubungan lo sama Cilla udah ke tahap serius?" mendadak iseng menanyakan hal tersebut padahal jelas membuat hati semakin terluka.
"Sebenarnya kita udah selesai. Tapi ortunya datang menentukan tanggal engeangment. Gue gak bisa nolak karena itu menyangkut bisnis bokap gue." dalam hati Jaesi menertawakan dirinya sendiri lalu menahan sesak dan rasa ingin menangis yang luar biasa dalam.
__ADS_1
"Whoa, selamat!"
Malam kini berganti hal ini membuat Jaesi gak bisa berpikir jernih akan semua yang sudah ia tinggali bahkan dirinya juga sudah lama mencoba melupakan perasaannya tersebut namu tak kunjung berhasil. Jaesi meletakkan kartu tanda peserta calon pendonor kornea mata, saat mama memanggil gadis tersebut lupa memasukkan ke dalam tas dan berlalu begitu saja tanpa sengaja Jaeril yang ingin meminjam chargeran melihat karena tak ingin ambil pusing cowok berjalan setelah ambil barang yang ingin dipinjamnya. Jaesi ingin mengantarkan makanan yang mamanya minta ke rumah Jaeran namun siapa sangka kalau pertunangan itu diadakan malam ini juga.
Jaesi gak bermaksud untuk membuat acara keluarga orang lain berantakan. Tetapi itulah yang terjadi, saat sang gadis pergi Jaeran berlari mengejarnya dan membawa Jaesi menggunakan mobil. "Apaan sih loe?!" marah gadis itu dan menepis tangan sang pemuda.
"Gue gak mau pertunangan itu terjadi!!?"
"Tapi loe udah resmi Jaeran!!" amarah Jaesi lebih tinggi daripada sebelumnya dengan langkah pasti dirinya meninggalkan cowok yang menatapnya dengan nyalang. Lalu kembali menarik lengan perempuan itu masuk ke dalam mobilnya, betapa kalutnya laki-laki itu saat ini setelah tau bahwa Cillaria tak benar-benar mengandung buah hatinya. Jaeran merasa ditipu atas hal yang gak pernah dirinya lakukan selama di Ausie, laki-laki itu ingin menghancurkan pertunangannya sendiri.
"Gue sangat mencintai elo Jaesillya Pearce!! Gue sangat menyanyangi elo!! Itu kenyataan yang baru gue sadari selama di Ausie!!" Jaesi terkejut bukan main namun semua sudah terlambat karena kini hati pemuda itu gak terisi oleh namanya melainkan nama perempuan lain. Sejak setengah jam yang lalu mereka masih sama-sama saling beradu argumen satu sama lain tapi siapa sangka jika itu akan menjadi kali terakhir mereka saling bicara tanpa tau masa depan seperti apa. Mendadak lelaki itu menghentikan laju mobilnya ditengah perlintasan kereta setelah hampir mengalami maut dengan selamat dari kecelakan mobil truk besar laki-laki itu kembali membuatnya berdebar.
"Elo gila apa!? Jaeran ada kereta!!" teriak Jaesi.
"Mobilnya gak bisa jalan?!!" Jaesi menjerit dan seluruh warga membantu mobil tersebut evakuasi.
Mama memiliki firasat buruk pasalnya putri sulungnya belum balik juga setelah mengirim kue-kue kering ke rumah sebelah mereka. Mama meminta anak bungsunya untuk memeriksa apakah kakaknya masih ada di sana, Jaeril menghela panjang lalu melihat jam ditangannya. Mama yang baru saja menyalakan televisi gak sengaja melihat berita di salah satu stasiun kesayangannya saat tau yang menjadi bahan pemberitaan itu adalah anak perempuan seketika ibu dua anak tersebut pingsan.
*Terjadi kecelakaan kereta dan di**temukan sebuah mobil dengan plat B1308200 yang berisikan dua orang sepasang kekasih. Salah satu di antara mereka selamat namun sang kekasih dengan inisial JP tidak selamat dan tewas ditempat*.
__ADS_1
TAMAT