Vilanian

Vilanian
40


__ADS_3

Jaesi melongo saat mendengar penjelasan biologi dari Darren yang agak belibet karena makan cilor dan lagipula gadis itu agak terlalu rajin kalau minta penjabaran soal sekarang sedang ia masih lima hari lagi sekolahnya, yang gadis itu mengerti hanya bagian reproduksi. Hanya itu saja gak ada lagi umumnya orang bakalan paham, Jaesi menggeram kesal dan melemparkan buku-bukunya pada sofa sudah malas belajar. Darren memerhatikannya cuma meringis gak tega tapi ya bagaimana lagi sudah terlalu jauh juga si gadis itu main makanya sampai kena hukuman, merasa sangat sengsara kalau berhadapan sama Biologi. Gadis itu memainkan pulpennya lalu meletakkannya agak sedikit berbunyi. "Kalo elu minta bantuan sama Njae urungin dah." peringat pemuda itu.


"Napa emang? Kan dia paham sama yang kaya ginian." bingung cara jelasnya seperti apa tapi yang jelas sahabat mereka itu sedang dimabuk cinta sehingga nggak mau diganggu sama siapapun juga termaksud teman-temannya sendiri bahkan ia sampai diblokir hanya karena nelpon gak berkasudahan dan merasa dirinya terganggu dengan telpon tersebut. "ngape loe?" Darren menjelaskan bagaimana kondisi terakhir dari teman mereka tapi yang jelas saat ini cowok itu benar-benar gak mau diganggu.


"Dia gak mau ngangkat percuma."


"Apaan sih, Cilla cuma pacar doang!" gadis yang ada di hadapannya kekeh gak mau mendengarkan apa yang dia katakan padahal sudah berkali-kali panggilannya itu ditolak oleh Jaeran. tapi tetap saja ia melakukannya dan melakukannya lagi. "gue mesti samperin ke rumahnya nih!" Jacob menahan dahinya yang sedang memasang wajah kesal namun itu gak membuat Jaesi meredakan emosinya, Jacob menghela panjang. Jacob melirik Darren di belakang gadis itu dan langsung memberi isyarat menarik Jaesi keluar dari rumahnya dan langsung membawanya pulang tetapi gadis itu nggak mau mengikuti semua omongan yang keluar dari kakak laki-laki sahabatnya itu dan malah semakin memajukan dirinya dan mendobrak kamar sahabatnya sendiri.


Tangan besarnya itu menutup seluruh kelopak mata gadis yang ada di depannya pemuda tersebut menghela panjang lalu menariknya keluar dari kamar itu ia sudah mencoba memperingatkan nya tapi tidak mau didengar karena merasa ada hal mengganjal makanya iya mencoba untuk melarangnya masuk. ia termangu melihat apa yang sudah ada di depannya tetapi ia tak mau mempercayai nya karena itu bukan sahabatnya sekali, "kenapa Jaeran jadi liar gini ya?" ucap Darren gak habis pikir sama penglihatannya.


Jaesi masih enggan memberikan komentar dalam hatinya rasa sesak itu menjelma jadi sebuah ketakutan, bagaimana kalau nanti hubungannya dengan cowok itu jadi hancur? bagaimana jika nanti Jaeran menginginkan lebih? apa yang akan terjadi padanya nanti kalau sahabatnya merusak kehidupannya? ribuan bahkan ratusan pertanyaan yang meragukan Jaeran jadi muncul entah darimana. tali yang sudah diikat gak mungkin lepaskan? atau mungkin tali persahabatan mereka jadi renggang. "Ren, gue takut." Darren meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Elo gak perlu takut, sahabat loe gak cuma Jaeran. tapi ada gue sama bang Jacob, okey? kita pasti bakal selalu ada buat elo." Jacob mengangguk seraya memegang erat pundaknya yang seakan menguatkan, apa yang sudah terjadi belum tentu terjadi lagi nantinya tapi gadis itu sudah memiliki rasa takut yang terlalu tinggi hingga membuatnya begitu cemas akan masa depannya sendiri. Jacob yakin adiknya gak mungkin berbuat sejauh itu mereka berdua masih dalam batas normal, Jaeran juga masih ada etika dalam dirinya walaupun agak kelewatan saat mencium pasangannya.


Cilla terus saja memintanya agar Jaeran mau melakukan hal yang membuat para gadis digagahi tapi cowok itu selalu menolak, lalu bagaimana cara Cilla membuktikan kalau Jaeran benar-benar gak main hati sama Jaesi. "AKU GAK MAU!! KAMU PAHAM GAK?!!" bentak Jaeran yang membanting pintu lalu melengos pergi dari kamarnya, suara lantangnya itu membuat ketakutan Jaesi sedikit melega.


"Tolong ajarin Biologi mau gak?"


"Jangan sekarang," Jaeran melengang meninggalkan Jaesi yang masih mencoba membujuknya agar mau mengajarinya. tapi cowok itu menghela kesal karena moodnya sudah berantakkan banget jadi gak ada hal lagi yang buat dirinya baik daripada melampiaskan sama Jaesi, cewek yang dia sayang mending menjauh.


"Njaes tau kan kalo gue juga diskors jadi ngapain minta sama gue." cowok itu mencoba untuk bersabar namun sahabat perempuannya itu terus aja mencoba untuk menguji kesabaran nya dan akhirnya puncak kekesalan nya jadi lepas dan gak sengaja berteriak pada gadis tersebut yang membuat mereka yang ada di sekitarnya terkejut karena nada tinggi itu. "Jaesi! gak tuli kan?! gue gak mau!!" Jaesi kaget karena omongan kasar itu keluar dari bibir Jaeran.


"Kalo gak mau juga gak maksa tapi bisakan santai bilangnya." dingin gadis itu yang melempar buku lks ke arah wajah Jaeran, pemuda tersebut mengepalkan tangannya kuat dan berlalu begitu saja. "Darren ayo!" langkah kakinya kian berat saat keluar dari rumah Jaeran perempuan itu memutuskan setelah nanti lulus akan melanjutkan kuliah di Paris saja.

__ADS_1


"Kan kita sekarang kelas dua ya, nanti kalo naik kelas tiga terus lulus. mau lanjutin mana? atau ada univ yang loe incar?"


"Gue tadinya mau apply Harvard collage. gak jadi kayanya, gue mau lanjut ke Paris aja."


"Whoa sama! bareng aja kalo gitu! gue denger-denger di Paris tuh kalo apply sekarang bisa ambil gap setahun. nanti rencananya gue mau daftar online!"


"Gak usah online loe siapin aja datanya, nanti gue minta sepupu gue buat bantu." Darren berbinar dan langsung memeluk tubuh gadis itu erat, lalu melengos pergi begitu saja sebenarnya tadi Jaeran gak bermaksud kasar tapi kenapa malah jadi kaya begini. jujur saja ia menyalahkan dirinya kalau sampai Jaesi benar-benar menghindar darinya, "jadi ngobrol di depan pagar sih!" Darren tergelak karena mendengar lelucon dari Jaeril dan menganggap dirinya yang paling lawak di antara mereka bertiga tapi Jaesi tersenyum tipis melihat raut bahagia orang disekitarnya.


Jaeril menipiskan bibirnya membasahinya lalu memiringkan kepalanya sembari menghadap sang kakak. "tadi ke mana? kok gue gak liat?"


"Penting banget ngadu sama loe." cibir gadis tersebut yang langsung melengang masuk ke kamar, rumahnya baru direnovasi jadi di depan kamar mereka ada ruangan buat santai atau main game. Jaeril mengambil camilan dari dalam lemari pendingin lalu memuntahkannya saat tau kalau camilan yang ia makan sudah basi karena kelamaan di dalam lemari pendingin, akan tetapi hal itu gak membuat si cowok beranjak dari depan sana malah ia semakin mencari ke dalamnya sembari menggerutu kecil khas orang kesal.

__ADS_1


__ADS_2