
"Pikirkan nanti, sekarang jemput Jaesi dulu." ketika Jaeril hendak mengeluarkan motornya pemuda itu melihat Jaeran sudah lebih dulu pingin mendatangi sang kakak, Jaesi pasti akan menolaknya. Pasti itu. Jaesi menolehkan kepalanya cepat lalu tangannya terjatuh ini di luar dugaannya, bukan keluarganya yang datang. Jaesi memundurkan langkahnya kemudian berbalik arah menjauh dari hadapan Jaeran, cowok itu menarik lengan si gadis lalu mendekapnya erat. Sangat erat sehingga gak jarak bagi keduanya, cowok itu merenggangkan tubuhnya lalu hal yang seharusnya tidak terjadi. Terjadi begitu saja, bahkan tanpa Jaeran sadari sudah mencium sahabatnya sendiri, Jaesi membeliak kaget lalu menamparnya. Itu saat pertama Jaeran memerlakukan gadis tersebut bukan sebagai seorang sahabat tetapi sebagai wanita. Mendadak hujan turun dan membuat suasana semakin sendu, Jaesi memegang erat detak jantungnya yang berpacu begitu hebat akibat aksi Jaeran barusan.
"Jaes," cicit cowok itu yang gak didengar oleh Jaesi. Sesak yang ada di dadanya cukup membuat si gadis merasa ada yang meledak di dalam sana, Jaesi memang tengah sedih tapi kenapa mendapat perlakuan dari Jaeran membuat si gadis jadi jauh lebih baik. Jaesi berjalan meninggalkan sahabat tanpa banyak berkata apa pun, sepanjang jalan gadis itu diam saja. Jika ia bilang sama Marco, pacarnya itu gak akan terima atas apa yang dilakukan sama Jaeran tapi bagaimana sikap Cilla kalau tau hal ini juga ... gak ada hal yang bisa menyakitinya selain hadirnya perempuan lain. "Jaes, gue minta maaf." ujar Jaeran penuh penyesalan lalu sang gadis menoleh dan menatapnya dalam.
"Sebenarnya kita ini apa?" satu pertanyaan muncul setelah sekian lama ke duanya saling diam dan gak membahas kejadian tadi, "gue apa bagi elo, Jaeran. Loe bejat. Brengsek. Banjingan. Semua ada di elo, tau gak." isakkan Jaesi semakin keras diiringi deras hujan makin memperparah hancurnya hati Jaesi, miris gak sih, niatnya mau susulin pacar yang lagi sama cewek lain terus kerampokan dan berakhir jadi gadis paling menyedihkan di dunia.
"Jaesi loe bahkan paham sama perasaan gue yang cuma gue kasih ke Cilla. Kita cuma temenan, terus berharap apa dari hubungan kita?"
"Anjing! Harusnya gue gak percaya sama loe, Jae. Gak seharusnya gue ngasih hal yang sebenarnya Marco aja gak pernah lakuin ke gue! Gue yang bilang gitu seharusnya, dengan elo lakuin hal kaya tadi semakin membuat gue muak sama persahabatan kita. Gue semakin yakin untuk gak berhubungan lagi sama elo, Jaeran." Jaesi manggil taksi online gak lama pulang menggunakan taksi onlinenya, gadis itu menyesal sudah menaruh rasa lebih sama Jaeran. Jaeran adalah cowok paling bodoh yang pernah ia temui, bahkan ini jauh lebih sakit daripada Marco yang menyelingkuhinya. Tapi Jaeran gak bisa untuk gak ketemu sama Jaesi, dia masih butuh sahabatnya; anggap saja Jaeran egois tapi pada kenyataannya seperti itu.
"Terus maunya gue gimana?!" teriak Jaeran yang membuat si gadis menghentikan langkahnya, gak cuma itu sampai di situ saja. Jaeran juga merasakan kepedihan mendalam selama menjauh dari sahabat baiknya. "elo mau gue gimana?! Ninggalin Cilla!! Okey! Gue bakal tinggalin dia buat elo, Jaesi lebih berarti buat gue. Gak mau ada Jaesi lain di dalam hidup gue, cuma elo doang yang bisa bikin gue kaya sekarang." lirih Jaeran yang sama sekali gak didengar sama gadis itu, perasaan Jaesi lebih dari sekadar luka tapi patah.
__ADS_1
Pagi itu semua sudah duduk di kursi meja makan, Jaeran kelihatan gak ada ***** makan sama sekali dari dua hari lalu juga dia gak sarapan apa pun beda sama Jaesi yang lagi menunggu adiknya bersiap, di halaman rumah. "Jaeril cepat!" pekik gadis tersebut berteriak memanggil nama adiknya.
"Sabar!"
"Lam—a, elo! ngapain ke rumah gue?" Jaeran masih gak bergeming dari tempatnya. cowok itu tercengir konyol lalu berjalan beriringan sama sahabatnya itu walau banyak dicuekin oleh Jaesi tapi seaka Jaeran gak menyerah buat gadis di sampingannya gak marah lagi.
"Gue sengaja pergi duluan, sebelum elo di jemput sama Marco. Biar bisa berangkat bareng."
"Whatever lah ya, mau bareng siapa." Jaesi mulai risih sama kehadiran Jaeran yang agak rese pagi hari ini, kalau Marco liat bisa bahaya banget. Nanti yang ada mereka berdua berantem lagi dan malah semakin membuat Jaesi gak bisa milih antara ke duanya, lagipula apa Jaeran gak ketemu Cilla hari ini biasanya nempel terus kaya lem. Di sekolah Jaesi berlari menghampiri Marco dan segera meninggalkan sahabat laki-lakinya yang memandang lurus kepergian punggung gadis itu, Jaeran mendengkus dingin dan berbelok ke arah kanan buat menemui Cilla yang lagi makan boci di kantin sama Fransisca dan juga Mitha.
"Cowok loe tuh," kata Mitha yang bergeser ke arah kanan. Cilla menyambut dengan senyum kemudian memanggilnya dengan mengayunkan tangannya.
__ADS_1
"Kemarin ke mana?"
"Jemput, Jaesi." Cilla agak terhenyak mendengar nada suara dingin dari Jaeran, namun gak gadis tersebut ambil pusing.
"Elo kayanya agak jaga jarak deh sama Jaesi, emang yakin cewek kaya Jaesi gak punya perasaan apa pun sama elo?" ujar Mitha yang ada di samping kiri Cilla sontak saja membuat temannya yang lain tersedak air limun dan langsung menyenggol lengan gadis di hadapannya, Jaeran diam saja gak menanggapinya namun di bawah kolong meja kantin tangannya mengepal sembari menahan kesal. Darren capek teriak-teriak manggilin nama teman-temannya tapi gak ada satu pun orang di kelas melihat kedatangannya, saat kelapangan basket cowok berdimple itu mengerutkan keningnya sembari mengatur nafasnya yang terengah ... disusulnya Jaesi lapangan tersebut.
Marco memandang ke arah kirinya lalu menghela saat Jaesi gak berhenti-hentinya menatap wajahnya yang dicucuri keringat padahal ia sedang dalam keadaan basah, "jangan liatin. Malu."
"Gak apa-apa, tetep ganteng." Darren menyibir kecil lalu memutar bola matanya malas. Jaesi tersenyum penuh tapi gak dibalas sama Marco yang melanjutkan permainannya tersebut, Darren menghela panjang seraya melirik gadis tersebut di sebelahnya.
"Kambing dibedakin juga loe kata ganteng, Jaes." cibir pemuda yang ada dibelakangnya itu, Jaesi memincingkan matanya tajam kemudian menyumpalnya dengan roti isi miliknya. "dasar kambing!" ucapnya dengan mulut penuh. Marco terkekeh lalu mengusap pelan kepala gadisnya gak berselang lama setelah permainannya selesai bersama Jantho, pemuda itu langsung menarik lengan pacarnya dan melangkah ke arah kantin, Jaesi agak kaget yang sedetiknya lagi ia menghentikan langkahnya buat merubah arah jalan keduanya. Darren cuma bisa mengikuti saja ke manapun keduanya pergi beda lagi sama Jantho karena sudah ditunggu Reska di kelasnya.
__ADS_1