Vilanian

Vilanian
14


__ADS_3

Jaeril melamun ke arah depan memikirkan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, apakah itu akan terjadi padanya? Pemuda itu memandang wajah sang kakak yang tampak cerah dan menawan dibelakang rumah mereka. Sekilas bayangan semalam muncul lagi memenuhi benaknya yang tidak pernah ada habisnya. Jaeril takut itu akan jadi nyata, mimpinya itu terlalu mengerikan.


Cowok itu melangkah mendekati mereka—ibu dan kakaknya. "Ma, semalam Jae mimpi aneh." Ceritanya pada sang Mama yang membuat wanita paruh baya itu menoleh.


"Mimpi apa nak?"


"Mimpi tentang kakak," Jaeril bergerak dalam hati yang gelisah karena itu menyangkut kepentingan kakaknya.


"Itu cuma bunga tidur sayang, gak usah terlalu dipikirkan ya." Mama mencoba menenangkan anak bungsunya yang kian khawatir dengan kondisi kakaknya itu. Nyatanya mereka tidak akan tau apa yang terjadi di masa depan. "Mukanya jangan gitu, jelek!" Mama terkekeh geli dan putranya itu langsung mengerucutkan bibirnya manyun. Jaesi menoleh sekilas pada cowok itu lalu mengejeknya terang-terangan, pemuda itu mendengus dingin lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Aaaa aku tercekik!" Pekik gadis itu meledek sang adik yang hendak mandi. Sang adik yang mendengar suara pekikan itu langsung berlari keluar dari kamar mandi dan menuju dapur.


"Hah! Siapa yang cekik elo? jawab?!" Paniknya.


"Tercekik cinta Jung Jaechan, hahaha." Jaeril kembali masuk ke dalam kamar mandi seraya membanting pintu kamar mandi yang terbuka dengan kencangnya. Mama menggeleng kepalanya heran pada anaknya itu.


Mama meletakkan Tupperwarenya pada tangan gadis itu lalu menyuruh anak gadisnya memberikan kue bolu pandan itu pada keluarga depan. Yang artinya ke rumah Jaeran, Jaesi mendengkus pada sang Mama yang tidak pernah mengerti apa yang sedang terjadi pada mereka berdua. Mama menggerakkan tangannya mengusir lalu melanjutkan kegiatan bakingnya dibelakang.


Saat ada diluar rumah tanpa sengaja Jaesi ketemu sama anak tetangganya yang masih 7 tahun, dengan otak yang cemerlang gadis itu memberikannya pada anak itu dan menyuruhnya pergi ke rumah depan. "Nanti kakak beliin es krim, mau ya?"

__ADS_1


"Emang kakak kenapa sama kak Ren." Batinnya misuh-misuh karena anak ini banyak omong banget dan kepo amat sama urusan orang lain.


"Gak apa-apa Misela yang manis." Gadis kecil itu menggeleng kepalanya pelan lalu menerima Tupperware itu dan melangkah masuk ke area kediaman Smith.


Jaesi berbalik masuk ke dalam rumahnya, lalu Misela udah ada di depannya lagi. Gadis itu menarik ujung baju gadis itu yang hendak masuk ke rumah, Misela menatap wajah Jaesi dengan polosnya. "Apa?" Tanya, gadis itu yang hendak berjalan masuk.


"Mana es krimnya?" Jaesi mendengkus lalu melanjutkan langkahnya yang kembali di hadang sama anak kecil itu.


"Sebentar Sela, kakak ambil dulu di kulkas." Tekan gadis itu yang langsung berlari ke dalam rumah dan menuju ke dapur, anak itu masih menunggu Jaesi yang mengambil es krim homemade itu.


Anak itu beludus masuk karena menunggu Jaesi diluar kelamaan. "Mama kak Jaes lagi masak apa?" Mama Jaesya menoleh lalu tersenyum manis. Misela melakukan hal itu tanpa tau malu, fyi gadis piyik ini juga mengangguumi adiknya ya itu Jaeril.


"Nih es krimnya," Jaesi melirik kecil. "Enak ya dapat kue sama es krim gratis!" Misela tersenyum tanpa dosa.


Jaeril memandang gadis kecil itu lalu mengusap rambutnya gemas dan berjalan keluar dari rumah ke garasi belakang. Cowok itu memanaskan mesin motornya lalu lekas melepaskan gasnya, keluar rumah. Misela yang masih di sana lantas tersenyum manis pada cowok yang lagi pergi main itu. Misela yang perlakukan kaya gitu langsung bersemu merah.


Vilanian


Giska datang kerumahnya bersama Ruth serta Gricella, ketiga gadis itu langsung masuk setelah mendapat izin dari yang punya rumah. "Jaesi mana, lama amat!" Jengah Ruth.

__ADS_1


"Ke atas ajh langsung," ujar, Mama yang berjalan masuk ke dalam kamarnya dan diangguki ketiganya.


Jaesi yang masih di kamar tak mengerti kalo teman-temannya ada dibawah rumah, gadis itu tengtopan dalam kamar dan tak menutup hordeng jendelanya. Giska dan yang lainnya diminta ke atas, ke kamar gadis itu yang lagi nonton While you were sleeping. Ketiganya tenganga liat gadis itu tengah tengtopan di dalam kamar. "Astaghfirullah," seru, ketiganya seraya menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


Jaesi menoleh ke arah pintu lalu mengatupkan bibirnya rapatnya. Kaget? Tentu ajh. Siapa yang gak kaget lagi asoy geboy di datangi temannya kaya gini. Gricella menggeleng kehabisan akal, Giska pun sama dengan gadis rambut sebahu itu. Berbeda dengan dua temannya Ruth langsung melangkah menghampiri anak itu dan menanyakan drama yang lagi Jaesi tonton. "While you were sleeping ya?" tanya, Ruth. Gadis yang lagi tiduran itu mengangguk canggung. Jujur ajh Jaesi tak terbiasa di datangi oleh teman wanitanya kaya gini, terlalu sering main sama dua cecunguknya.


"Kalian ada apa ke sini? Gak biasanya," celetuk, Jaesi yang meraih handphonenya dan melihat jam.


"Gak ada apa-apa, gabut, jadi ke sini." Sahut, Giska. Jaesi mengangguk paham kemudian menatap galak Ruth yang menyentuh laptop kesayangannya.


Giska menatap jendela depannya dan keluar dari kamar yang memiliki tembusan balkon. Gadis itu hanya menatapnya sebentar lalu kembali fokus pada laptopnya. "Jangan sentuh Black!" desis gadis itu pada Ruth yang berniat buat ngacak-ngacak laptopnya.


Gricella menolehkan kepalanya lalu berkerut bingung, "lu punya anjing?" Tanya, cewek itu yang lagi mengikat rambutnya kuncir kuda.


Ruth hampir ajh terbahak karena liat tampang tolol Gricella yang seperti orang bodoh. "Bodo so much!" Ruth semakin ngakak dengar tanggapan dari Jaesi saking ngakaknya cewek yang baru mewarnai rambutnya itu kejungkal kebelakang.


"Mampuy!" Balas, Gricella dengan nada yang sangat jutek. Cewek itu menginjak kaki gadis yang lagi sibuk merapikan pakaian serta rambutnya.


"Anj–!" Umpat Ruth spontan dan menatap Gricella tak terima.

__ADS_1


Jaesi mendengkus pada kedua temannya yang lagi ribut karena hal sepele itu, gadis yang menjadi tuan rumah itu melengang keluar dari kamarnya untuk menyajikan teman biadabnya itu minum. Karena ia tau ketiganya pasti akan protes jika cuma disuguhi mineral doang. Giska tampak asik dengan pemandangan indah balkon kamar gadis Pears itu, cewek yang terlihat macho itu seperti tidak merasa terganggu dengan aktivitas dalam ruangan ini. Ya, seenggaknya satu diantara mereka ada yang lebih waras lha ya, setidaknya gitu.


__ADS_2