Vilanian

Vilanian
45


__ADS_3

Hari ini Jaesi sudah siap buat car free day bareng Jaeran saat hendak melangkah keluar dirinya mendapati Darren sudah berdiri dengan pakaian sportnya, gadis itu gak peduli sama kehadiran temannya itu yang terpenting adalah Jaeran tetapi Darren selalu membuntutinya itu membuatnya gak nyaman dan rada risih. "Darren elo ngapain sih!" Darren memutar bola matanya kesal lalu mengerling sinis.


"Orang yang ngajak loe cfdan itu lagi ke mall!!" sinis lelaki itu yang langsung duduk di kursi bubur ayam, "itu kenapa gue disuruh ke sini." panjang banget saat pulang dari rumah Jaesi kemarin pemuda itu langsung menemui pacarnya yang berdiri di depan rumahnya. Jaesi tau sekarang sahabatnya telah banyak berubah, Darren menghela pendek kemudian menatap temannya yang banyak melamun saat sedang duduk dikursi taman keduanya gak sengaja melihat Jaeran dan juga Cilla sama-sama lagi car free dayan di taman yang sama, Darren menyenggol lengan gadis tersebut ketika lagi makan.


Jaesi mendadak gak mood buat lari lagi sebab melihat pemandangan di depannya dan lagipula yang memberi ide buat car free day bareng, kan Jaeran sendiri. udah mana Darren bawel banget gak seperti biasanya, "kok dia di sini? kata loe lagi ngemall!!" sahut Jaesi agak salty, pemuda berdimple itu mengendikkan bahunya acuh.


"Ya mana gue tau, dia bilangnya gitu. pake sambel gak?" tanya pemuda tersebut di akhir kalimatnya, lalu membawa nampannya ke arah gadis itu.


"Gak usah tapi persetan sama sambel. ya kan elo yang ngasih infonya udah gue mau pulang aja, cowok gak ada yang bisa dipercaya sama sekali." Darren pura-pura mendramatisir, tapi itu justru semakin membuat Jaesi merasa kesal karena udah ditipu dan ini bukan yang pertama kali. gadis itu berjalan melewati mereka yang lagi duduk berdua agak sedih pada saat Jaeran melihat tatapan kemarahan sahabatnya baiknya lalu Darren menggertakkan bibirnya dan mendumal kecil. Jaesi membaringkan tubuhnya lalu mencakar-cakar langit dengan raut sebalnya bahkan gadis itu gak ada niatan sama sekali buat keluar pagi ini cuma karena udah terlanjur janji bakal car free dayan bareng sama Jaeran saja makanya gadis itu mau keluar. "argh!!!! kesel!!!"


Darren menatapnya beberapa detik lalu menghela lelah. "udah tereaknya? biar disangka gue apa-apain elo gitu? gak berguna banget." sarkas cowok yang lagi memainkan ponselnya, Jaesi berpikir sejenak dan ada satu ide yang menurutnya terlalu gila. "apa kok natapnya gitu?" Jaesi tersenyum misterius dan langsung membisikkan rencananya pada Darren. Jaeril tersenyum-senyum sendiri ketika masuk ke ruangan kakaknya sembari memandangi photonya sama Marissa gak tau kenapa kedua tom dan jerry ini jadi lebih akur dari biasanya.


"Untung elo udah putus ya sama abangnya jadi adeknya bisa gue pepet."

__ADS_1


"Ya kalopun gue belum putus elo juga masih bisa petrus ke adeknya." Jaeril terkekeh ringan lalu menatapnya julid tapi gadis di depannya itu gak membalas apa pun, gak lama adik laki-lakinya itu pergi sembari mesem-mesem gak jelas. "gak perlu kaya gitu juga kali, HARGAI JOMLO WOY!!!" teriak sang kakak yang cuma dibalas dengan sahutan acuh.


"Balikan sana!" Darren masih tetap di tempatnya sama sekali gak bergerak layaknya orang mati tapi ketika dilihat lagi sama Jaesi rupa-rupanya cowok di atas kasur itu terlelap dalam mimpi, agak gak tega juga banguninnya. Jaesi melengang keluar dari kamar lalu menghampiri mama yang tengah memasak di dapur, gadis itu sama sekali gak bilang apa-apa tapi mamanya bisa membaca ekspresi putri satu-satunya.


Mama memandang sekilas lalu bertanya pada anak perempuannya itu. "masih?" Jaesi yang mengerti berpura-pura tuli saja sampai mama kesal. "ditanyain orang tua jawab napa!" ketus mama.


"Hn," Jaesi mengangguk saja tapi mamanya tampak kurang percaya sama apa yang dia katakan barusan dan berinisiatif buat nanya sama Darren yang lagi tidur di kamar anaknya. "orangnya tidur."


"Kebluk."


"Nanya ke Jaeran aja." Jaesi kehabisan akal kalau sudah begini gadis itu berpikir panjang lalu tercetus sebuah ide yang gak pernah dirinya bayangkan sebelumnya, Jaesi langsung menghentikan langkah mamanya. "kenapa kamu tatap mama kaya gitu?" tegur mama yang merasa gak beres sama anaknya. Jaesi tersenyum simpul dan berjalan mengambil ponsel mamanya, gadis tersebut buru-buru menyembunyikan ponsel mamanya lalu berlari ke kamar mandi. Jaeril melihat gelagat aneh dari kakaknya tadi tapi gak dirinya pedulikan karena itu cuma dianggap sekadar sikap biasa saja, cowok itu langsung meraih jaketnya dan membawa beberapa bukunya. mama keliatan bingung sama keberadaan ponselnya sudah ditelpon beberapa kali juga tetap gak ada bunyinya.


"Dek liat hape mama gak?" Jaeril mengerutkan dahinya bingung lalu menggeleng pelan seraya menatap ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"Gak ih ma." mama langsung mengusirnya kemudian berjalan ke arah depan sofa, lelaki itu bahkan belum pergi dari halaman rumahnya saat ini. Jaeril menoleh ke atas di mana kamar kakaknya berada Darren pasti masih pulas jika gak dibangunin gak ingat waktu ... mana udah begitu ramai banget depan rumahnya saat ini. "mama baru datang udah mau ngadain arisan aja, lagian juga kok pada bawa anaknya gini?" gumam Jaeril bingung dengan segerombolan ibu-ibu di halaman rumahnya. Jaesi masih belum tau kalau mamanya baru saja membuat broadcast tentang ke jomloan anaknya sendiri yang ada diotaknya saat itu adalah mamanya mengadu sama Jaeran.


Darren turun dari atas lalu mengerjapkan matanya perlahan. "ada arisan ya tante?" tanya lelaki berdimple itu sedangkan mama menggeleng sembari tersenyum penuh arti sama Darren.


"Gak ada arisan, mama baru tau kalo Jaesi jomlo jadi ya kaya gini hasilnya."


"Maksud tante?"


"Sayembara dadakan. alah kaya kamu gak paham aja si, Ren." Darren terpelatuk sama kelakuan absurd keluarga temannya ini gak ada bedanya sama sekali, pemuda itu memandang ke arah Jaesi yang baru keluar dari kamar mandi lalu termenung melihat aksi mamanya itu. Jaesi bahkan gak kepikiran buat cari pengganti Marco buat balik lagi aja masih bingung apalagi cari yang lain, gak sama sekali terlintas dalam benaknya: gadis itu cuma lagi fokus sama pendidikan dan mengejar cinta satu orang aja yaitu Jaeran.


Jaesi menaruh handuknya sembarangan lalu menatap Darren yang dibalas mengendikkan bahu acuh, mamanya tampak memasang gak ada dosa sama sekali. "mama!" pekiknya kesal.


"Apa?! potong uang saku atau nurut!!?" Jaesi gak bisa berbuat apa-apa sekarang tapi gadis itu bisa meminta bantuan sama papanya agar bisa menghentikan kegilaan ide mamanya. Jaesi berjalan ke kamar orang tuanya lalu mengadukan ibunya sendiri, tapi papanya bukan membela malah mendukung aksi gila ibunya.

__ADS_1


__ADS_2