Vilanian

Vilanian
14


__ADS_3

"Cewek gue bukan orang kaya loe," ujar Jacob sekenanya. "Loe harusnya dulu pilih gue aja, gak usah sama Marco kalo pada akhirnya akan tetap menyakinkan kaya sekarang." cibiran itu masih ditujukan untuk gadis yang tengah melahap makanannya, "kalo kaya gini, gue udah gak bisa sama loe lagi. Kan gue udah ada sekarang." goda lelaki itu. Jacob sudah terlanjur kesal dengan perempuan tersebut namun lelaki itu tak benar-benar marah hanya sedikit agak bagaimana begitu ketika melihat sang gadis tak berkonsentrasi pada obrolan mereka berdua, pemuda itu menghentikan motornya tepat di depan rumah Jaesi. Setelah itu mereka berdua terlihat mengulangi pembicaraan mereka berdua yang sempat tertunda. "Loe taukan siapa namanya?" tegas Jacob yang sudah bisa Jaesi duga sebelumnya.


"Iyaa," helaan berat keluar begitu saja dari Jaesi. Pemuda ini menatapnya dengan serius lalu menangkup wajahnya tampak muram tak lama kemudian Jaeran datang dari arah belakang mereka sembari menyapa bersama Jaeril yang juga terlihat lebih letih dari pemuda itu. "Kalian darimana?" tanya gadis itu yang menolehkan kepalanya kesamping. Jaeril hendak menjawabnya namun cowok yang melengos pergi meninggalkan mereka begitu saja, hanya menatap terpaku pada satu gadis, ya itu Jaesi.


Jaeran melengos pergi kemudian wajahnya tampak tak begitu senang entah apa yang terjadi di taman sehingga membuat pemuda itu sangat kesal, pemuda tersebut bahkan tak menegurnya dengan nada baik. "Bukan urusan loe," sahutnya sambil membuang muka acuh, Jaesi mengerjapkan matanya lucu lalu tergelak sendiri mendengar nada acuh sahabatnya. Gadis itu menghampirinya dan duduk disampingnya seraya memandang jeli setiap ekspresi Jaeran, tak bermaksud menyinggungnya mengenai pesan tadi gadis cantik itu mengecek ponselnya lalu mendengkus panjang.


"Loe Pundungan, astaga ..." keluh perempuan tersebut yang mengerti situasi kala itu, Jaeril melewati keduanya begitu saja hingga hampir satu menit tak ada yang memulai usaha buat mengobrol, Jaesi memainkan ponselnya lalu gerakannya terhenti saat Marco mengirimkan beberapa foto yang diambil dengan kamera ponsel. "Anjir," celosnya yang beranjak dari duduknya dan menarik paksa Jaeril untuk mengantarnya ke cafetaria. Jaeran melengos pergi dengan cueknya ia tak peduli akan apa yang dilakukan oleh sahabat perempuannya itu, selalu sibuk dengan urusan pribadinya tak membuat lelaki mengurangi rasa sayangnya.

__ADS_1


Jaesi tak henti-hentinya meremas kedua tangannya yang terasa berkeringat dingin kemudian setelah sampai disebuah cafe perempuan itu langsung berlarian menghampiri sang kekasih tanpa merasa malu, langkahnya semakin dekat dengan fakta bahwa Marco benar-benar hanya mempermainkannya saja. "Marco!" Panggil Jaesi. Marco terpaku melihat kedatangan sang kekasih tak lama mengulas senyumnya kecil, laki-laki itu tidak terlalu peduli dengan siapa Jaesi datang, Jaeril hanya menunggu sampai keadaan benar-benar aman.


"Jaesi akhirnya kamu datang," Marco menghela panjang ketika dihadapannya gadis itu menatap lurus dengan rasa tak percaya akan apa yang dilakukan kekasihnya. "Aku udah nunggu lama," Marco menggenggam tangann gadis itu.


Jaesi diam saja sampai di detik berikutnya gadis itu meminta agar sang adik meninggalkannya bersama Marco, Jaesi mengulas senyum saat mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja. Perempuan itu hanya mendengarkan semua yang kekasihnya ceritakan sampai suatu ketika pemuda itu beranjak dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun bahkan saat Jaesi bertanya Marco tak mau mendengarnya. Sudah satu jam gadis itu duduk di sana akan tetapi perempuan itu tak ada niatan untuk pergi berharap kekasihnya kembali dan mereka bisa pergi bersama dari tempat itu. "Maaf kak tempat ini sudah mau tutup," tukas salah satu pelayan. Jaesi terhenyak lalu melihat jam tangannya, ah, sudah pukul delapan malam. Sudah berapa lama perempuan itu termenung, Jaesi menghela panjang kemudian beranjak dari kursinya. Jaesi melangkah pelan menyusuri jalan besar, sedangkan Jaeril tampak begitu santai dan tak peduli dengan apa sang kakak kembali, mama terlihat cemas karena putrinya belum juga kembali. Mama tersenyum pada Jaeran ketika cowok tersebut sedang memainkan gitarnya, pemuda itu terlihat sedikit berpikir; dan bertanya-tanya apa gadis itu telah kembali.


Jaeran menghela ia sudah menduga gadis itu tak akan ada tumpangan seperti ini, "gila mau sampe jam berapa? Tega banget Marco." celoteh Jaesi yang terus berjalan hingga suara klakson mobil menyapa pendengarannya, pemuda itu tersenyum padanya lalu turun dan memegang lengannya. Jaeran pemuda itu adalah Jaeran sahabatnya, Jaesi menipiskan bibirnya tak habis pikir: bagaimana bisa ia memikirkan Marco namun yang datang Jaeran, gadis itu diam seraya memandang lurus kelopak mata pemuda tersebut. Jaeran memeluknya erat lalu merenggangkan rengkuhannya membuat gadis itu termangu memandang wajahnya yang terlihat sangat khawatir, perempuan itu melengos memerah.

__ADS_1


"Tinggalin Marco," pelan pemuda tersebut yang tak bisa diterima oleh gadis di depannya jelas ia tak akan mau melakukannya, sebegitu besar rasa sayang pada Jaeran namun sebegitu besar pula rasa cintanya pada Marco. Tak akan semudah itu buat dirinya meninggalkan Marco kecuali lelaki itu sudah melewati batas, Jaeran tau bagaimana perasaan sahabatnya terhadap kekasihnya tersebut akan tetapi hal itu tak bisa menutupi rasa takutnya akan kehilangan sosok Jaesi.


"Loe kenapa sih?" jeda sebelum Jaesi melanjutkan omongannya, "gue tau loe gak suka sama hubungan ini. But i love him, loe gak bisa maksain itu." Jaeran kembali diam dan menatap wajah gadis itu dengan dinginnya, tidak ini bukan Jaeran yang ia kenal, Jaesi yakin akan hal itu.


Hening dan tak ada yang mau membuka suara, Jaesi membasahi bibirnya yang kering lalu menghela nafasnya panjang. "Loe pulang ajh." usirnya yang kembali berjalan namun pemuda itu tak menyerah, ia tetap mengikuti Jaesi.


"Jaesi gue cuma gak mau liat nangis terus, loe ngerti gak sih!" bentak Jaeran yang semakin kesal akan sikap keras kepala perempuan itu, bahkan setelah apa yang terjadipun Jaesi tetap tak mau mendengarkannya, dan lebih memilih meninggalkannya begitu saja. Jaeran berdiri diam memandang punggung gadis itu yang semakin jauh, Jaesi merasa semakin lama; gadis itu bersama sang sahabat, semakin susah untuk melepaskannya. Mama menegur saat melihat putri pulang dalam keadaan tak baik-baik saja, wanita baya itu tau jika Jaesi memiliki masalah akan tetapi sang mama tak pengin ikut campur dalam urusan anak remaja seperti mereka, mama menggeleng pelan lalu menghela pelan.

__ADS_1


__ADS_2