Vilanian

Vilanian
10


__ADS_3

Malam itu hanya ada dirinya dan Jaeril itupun cuma berbekal pengalaman selama beberapa hari ditinggalkan oleh sang mama dan papanya, Jaesi memandang wajah adiknya yang tak mau berkompromi soal memesan makanan cepat saji, suara keduanya sampai terdengar dari dalam rumah keluarga Smith, ayah Smith dan mama Marela menghela panjang. "Sebaiknya kalian lihat mereka melakukan apa? Kenapa berisik sekali ya," hela ayah yang berjalan ke arah kamar. Jaeran menurut dan melenggang pergi meninggalkan rumah, maniknya membeliak kaget ketika melihat sekeliling rumah sahabatnya itu sangat tak terurus. "Masakan gue lebih sehat!"


"Gak! Masakan loe beracun!"


"Seenggaknya bisa masak nasgor elah!" Jaeril memutar bola matanya malas lalu memeriksa siapa yang datang dimalam hari seperti ini, bertamu ke tempatnya tak tau waktu dan sebagainya. Begitulah caciannya terhadap orang yang datang mengunjungi rumahnya. Jaeril terpaku melihat kehadiran seorang pemuda yang saat ini tengah memasang apron ditubuhnya, lelaki itu menolehkan kepalanya agar ada yang membantunya, dalam waktu kurang satu detik dari pergerakan memerhatikan kelihaiannya cowok tersebut dalam memasak.


Jaeran meletakkan apronnya kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya lalu menatap wajah keduanya dengan helaan nafas panjang, "sebenarnya apa yang kalian ributin sih? Kalo mau order online kenapa harus pake rame kaya gitu? Tau gak sih, bacotan frontal kalian itu kedengaran sampai ke rumah gue tau." Jaesi memandang wajah sang adik yang seperti orang tak punya dosa, gadis itu hanya diam dan terpaku seperti sedang dimarahi oleh sang mama.


"Sorry," Jaeran mengangguk sambil tersenyum kemudian mengacak rambutnya gadis itu, Jaesi mengulum bibirnya sebentar dan tak lama mengerucutkan bibirnya kesal.


"Gak perlu minta maaf buat mendapatkan maaf dari gue, kalian udah besar jadi tau apa yang harus dilakukan, gue cabut dulu. Makanannya dimeja dapur, tugas gue selesai." Jaesi dan Jaeril cuma bisa pasrah saat tetangganya itu berkata demikian, Jaeril lebih dulu melangkahkan kakinya menuju dapur. Sebegitu perhatiannya seorang Jaeran sampai tau tempat yang seharusnya untuk Cilla malah dirinya berikan pada sang sahabat, Jaesi memandang wajah sang pemuda yang menyambutnya dengan pelukan.

__ADS_1


Jaeril tersenyum layu ketika sang kakak bertanya mengenai pemuda itu yang selalu memerlakukannya lebih baik dari seorang sahabat, "gue bingung sama sikap Jaeran." Sang adik tetap mendengarkan namun mulutnya tak berhenti mengunyah, menurut Jaeril hal yang paling berharga adalah makanan. Cewek cantik atau seksi itu gak terlalu penting karena kalau dirinya mati, cewek cantik masih bisa mencari pengganti dirinya. Seperti kebanyakan orang, adegan lelaki itu hanya makan dan buang air besar ataupun buang air kecil.


"Mungkin dia suka," enteng pemuda itu yang merasa kurang dengan lauk pauk yang ia makan, Jaesi melotot saat melihat ke arah piringnya. Perempuan itu langsung menjauhkan miliknya dari jangkauan sang adik, namun tingginya kalah dari Jaeril jauh lebih bongsor darinya. "Buat gue napa!!" Pekik lelaki itu.


"YA TUHAN KURANG BANYAK APA LOE MAKAN ITU!!?" teriak Jaesi tak terima.


"Gue masih masa pertumbuhan!!"


Marco datang dengan membawa beberapa makanan ditangannya, Jaesi bahkan tak tau harus bagaimana menghadapi kehadiran sang kekasih, perempuan itu diam dan langsung menarik masuk pemuda itu akan tetapi Marco menghentikan langkahnya tepat sebelum pintunya kembali tertutup. "Aku tau kamu liat kejadian itu," ucap pemuda itu tanpa berlama-lama.


"Aku gak liat, kamu salah kali. Tadi aku sama Jaeran." Dusta perempuan itu yang membuat pemuda dihadapannya muak, lalu menggenggam tangan gadis itu erat, kaitannya terlepas saat Marco mengakui perasaannya sendiri untuk gadis lain. Jaesi tersenyum manis lalu mengangguk sambil terus memegangi dadanya yang sesak. "Kamu jangan jadi cewek bego yang terus mau aku sakitin."

__ADS_1


"Terus aku harus gimana, Co? Udah jadi kebiasaan kamukan mainin aku terus? Udah bukan hal yang pertama? Bahkan aku gak tau Vanilla cewek keberapa yang kamu ajak main. Kamu pikir selama ini aku gak tau?! Aku tau semuanya!! Tanpa Darren bilang pun aku sadar sama hal itu!! Iya aku bodoh pertahankan posisi aku sekarang!! Apa aku salah?" Marco menghela kasar lalu melenggang pergi meninggalkan rumah Jaesi yang kemudian disusul oleh sang perempuan, tangannya ditahan kuat oleh sang gadis.


Marco berdecak dan juga tak mau tersulut emosinya, pemuda itu menepis kasar lengan panjang gadis itu, sebagai adik tetap ia harus membela kakaknya. Walaupun mereka sering bertengkar karena hal kecil. "Jangan kasar bisakan?" Desis Jaeril tak terima, selalu seperti itu. Marco kasar dan Jaeril tak terima, namun keduanya masih sama-sama memiliki toleransi untuk tak membuat masalah dilingkungan rumah. Jaeran pikir jika mereka masih meributkan masalah makanan, namun nyatanya ia salah besar, lelaki itu tertegun melihat Jaesi memandang wajah keduanya dengan kualahan.


"Ril, udah. Gue gak apa-apa. Sebaiknya loe masuk ke dalam sana." Lerai perempuan itu yang melarangnya ikut campur, sedangkan Marco masih berusaha untuk mengontrol emosinya, "kamu aku ngapain biar kamu gak main belakang lagi? Kamu tau kan aku bakal buktiin ke kamu kalau aku bisa lebih dari degem kamu itu?" Marco tercekat lalu ia menghela panjang.


"Jauhin Jaeran atau—" Jaesi dengan cepat menyela ucapan dari kekasihnya.


"Kamu tau aku gak bisa—" Marco memejamkan matanya sambil tersenyum sarkas saat tak sengaja melihat kehadiran sosok yang tengah mereka berdua bicarakan. Pemuda itu langsung kembali melanjutkan ucapannya.


"Kita putus," lanjut Marco yang melengos pergi meninggalkan perempuan itu yang terpaku ditempatnya, jauh dari penglihatan mereka berdua pemuda itu mengepalkan tangannya kuat dan mendengar langsung permintaan dari kekasih sahabatnya, lelaki itu melangkahkan kakinya menuju rumah dan mengurungkan niatnya untuk menghampiri mereka. "Semuanya terserah kamu, aku bakal lepaskan Vanilla dan kamu jauhin Jaeran sampai sini udah gak ada yang perlu obrolin lagi." Tegas Marco yang langsung mengendarai motornya pergi.

__ADS_1


Bagi dua sahabatnya Jaesi terlalu berharga untuk lelaki seperti Marco walaupun sudah mengikuti kemauan sang kekasih, pemuda itu tetap tak mau mengalah dan mendekati gadis lain selain Vanilla, bahkan rumornya mereka berdua melakukan kegiatan victim disekolah mereka. Jaesi tersenyum miris lalu merogoh sakunya seraya mengetik satu nama yang membuatnya kesal, Marco selalu ada alasan untuk tidak mendatanginya ke kelas; lelaki itu juga banyak sekali pesan agar tidak terhubung dengan pemuda sebangkunya. "Pokoknya kamu jangan ajak ngobrol si Jae ya? Aku gak suka." Jaesi mendengus dingin ketika mendengar keinginan itu lagi, perempuan itu mengangguk tanpa memberikan jawaban pasti.


__ADS_2