Vilanian

Vilanian
30


__ADS_3

Cilla menatap gak percaya bahwa itu keluar dari mulut Jaeran rupanya hal tersebut bukan hanya keyakinannya saja tapi juga titik balik persahabatannya sama Jaesi, suara isakkan masih menggema menguasai seluruh atmosfir yang ada bahkan itu sudah bukan mengenai Marco dan Jaesi atau malah sebaliknya mengenai kisah lama yang gak ia tau apa itu. Jaeran dengan wajah kacau memandang gadis di hadapannya tampak berantakkan dan gak keurus sama sekali, jauh dari kesan rapi tampang babak belur sudah menjawab semua kegelisahan dari hati Cilla. "CILLA!!" teriak cowok yang lekas mengejar kepergian dari gadis yang disukainya. Kesan yang awalnya baik rusak karena ulah Marco bahkan lebih buruk lagi, seakan gak ada harapan sama hubungan keduanya: tanpa disadari langkah besar Cilla membawanya pada Jaesi di ruang boxing. Suara tamparan menggema keseluruh penjuru, memang Cilla siapa yang bisa berbuat seenaknya seperti itu? Mungkin gadis tersebut belum memiliki kejelasan hubungan sama Jaeran dan Jaesi akui memang semuanya salah dirinya. Lionel dan beberapa temannya kaget melihat hal tersebut bahkan tidak ada yang menyangka itu terjadi pada teman mereka, Miko hampir saja membalasnya kalau gak ditahan sama pelatih mereka.


"Gue kira kalian emang cuma temenan. Gak taunya kalian bahkan punya perasaan satu sama lain, Jaes. Kita sesama cewek harusnya elo lebih tau gimana perasaan gue kan? Kenapa sejahat itu sih. Gue sayang sama Jaeran, mungkin kita emang belum kenal terlalu lama tapi seenggaknya loe gak jadi penghalang buat hubungan sahabat sendiri. Maaf kalo kesannya gue kaya mau kalian jaga jarak, tapi gak gitu. Gue cuma mau kalian buktiin kalo kalian berdua emang sahabatan doang dan gak simpan perasaan lain." Cilla pergi setelah mengatakan hal tersebut dan Jaesi tercengang mendengar seluruh perkataan gadis yang baru saja melabraknya, belum pernah sebelumnya ada yang mengatakan hal seperti itu padanya.


"Elo gak apa-apa?" tanya Lionel yang melihat memar dipipi teman perempuannya. Jaesi merasa kesal dengan pertanyaan dari lelaki di sampingnya, apa ia gak punya mata?! Kenapa masih bertanya. Seperti itu sekiranya benak Jaesi berkata, bahkan rasa kesal bertambah saat melihat wajah Jaeran yang melengos begitu saja tanpa memedulikan memar pipinya.


"Loe buta ya!? Liatnya gimana!?" ketus gadis tersebut yang melengang dari sana. Jaesi berjalan ke arah uks tapi rombongan Vanilla melewatinya dan menjadikannya bahan gosip yang dengan sengaja dibesarkan volume suaranya, Jaesi mengepalkan tangannya keras berpura-pura tuli. Marco menepuk pundaknya lalu mengulas senyum tipis sama gadis di hadapannya gak lama cowok itu mengompres pipi Jaesi yang merah, sebenarnya Jaesi gak kuat mau minta balik saja tapi ia harus tahan karena gak mau patah hati lagi.


"Aku mau minta maaf," gadis itu menunduk jangan bilang kalau Marco mau ngajak balikkan. Tapi bukannya keduanya putus belum lama ini kenapa secepat itu? Apa Marco menganggap hatinya hanya sekadar mainan saja. Pertahanannya gagal saat Marco bahas masa pacaran mereka yang terbilang indah bahkan hanya dianggap indah sama Jaesi saja, gak apa yang terpenting adalah Marco terkena karmanya. Kelas lagi ramai-ramainya Darren saja sampai enggan hengkang keluar kelas karena terlalu berdesakkan sama anak lain yang juga istirahat, tapi saat dalam perjalanan kelas Marco masih tetap berada disisinya gak mau pergi. "aku ke kelas dulu, kalo mau sesuatu chat aja." Jaesi cuma menganggukkan kepala seraya tersenyum.

__ADS_1


"Pipi kenapa? kesambat apaan? kok merah kaya habis dicium sama tawon." Jaesi mengerling malas, ia langsung duduk seraya mendengkus sebal sama gebetan temannya itu.


"Cilla nampar gue." satu berita saja sudah membuat cowok yang lagi mendengarnya itu jatuh terjungkal kebelakang, Darren hampir saja mengumpat kalau gak lagi dalam mode penasarannya. Darren mengaduh kesakitan namun hal itu gak membuat Jaesi merasa terhibur apalagi dengan jatuhnya temannya itu, gadis yang menunjukkan wajah murung tersebut benar-benar kesal sama Cilla. "itu orang kaya mau ngajak gue duel tau gak!! kesel gue!! emang dia pikir gue apaan!! eh ya kali gue mau sama modelan kaya bekantan gitu!!!!" Darren mencebikkan bibirnya.


"Serius gak mau?"


"Maulah!" Darren mendelik lalu menatap sinis temannya yang plin-plan, beruntung pipinya sudah di obati oleh mantannya. Belum kesalnya tiba-tiba Giska datang sama Gricella membawa kabar kalau Jaeran lagi-lagi berantem sama Marco dan masuk ke uks, agak malas Jaesi sebenarnya berurusan sama kedua orang itu. Namun saat tau tangan Jaeran patah tanpa pikir panjang gadis itu berlari ke arah uks dan menoleh ke arah tirai dua, mba Minah cuma meletakkan jari telunjuknya di depan bibir agar gak terlalu berisik. "loe berantem ya!! heeehh!! gak punya mulut ya?!!" Jaesi meninju lengannya yang patah lalu menimbulkan kegaduhan.


"Makanya jawab?!" Jaeran menghela pasrah lalu menceritakan kecurigaannya selama ini terbukti benar, lagipula kenapa Jaeran sebegitu pedulinya terhadap masalah yang menimpa mereka berdua. Jaesi jadi ragu apakah perkataan Cilla terbukti benar kalau keduanya memiliki perasaan yang sama, satu sama lain keduanya saling melindungi dan saling mengkhawatirkan.

__ADS_1


"Gue gak bisa liat loe nangis, menoreh luka tersendiri buat gue."


"Kenapa? kenapa bisa gini, gak seharusnya kan elo begini. Cilla yang jadi prioritas utama loe. Jangan abaikan dia, itu gak enak." Jaeran menatap lekat wajah Jaesi yang lagi mengusap gips tangannya, cowok itu masih mandangin muka sahabat perempuannya. Jaeran gak bisa mengalihkan perhatiannya bahkan sekalipun Cilla datang ke tempat itu juga, cowok itu gak bisa mengubah perhatiannya.


"Loe udah makan?" Jaesi menggeleng sembari terus menutupi memar diwajahnya, "itu muka loe kenapa?" gadis yang semakin lama makin nunduk itu gak bisa memerlihatkan hasil karya gebetan temannya sendiri.


"Apasih! gak ada apa-apa!" elaknya yang langsung berdiri terus menuruni rambutnya lalu memeganginya, Jaeran sungguh penasaran sampai pada akhirnya cowok itu menyibak rambut Jaesi. Lalu terdiam saat melihat memar tersebut.


"Siapa?" desis Jaeran tanpa mau menunggu penjelasan Jaesi. "siapa orangnya?! siapa yang berani nampar elo!!" bentak cowok hanya permasalahannya kalau sahabat laki-lakinya tau apa itu masih bakalan jadi pertanyaan. Apa nantinya Jaeran gak akan semarah ini kalau tau pelakunya, Jaesi masih diam saja saat di detik berikutnya gadis tersebut membuka suaranya. Ia berusaha menjaga hubungan Cilla dan Jaeran, dengan menyembunyikan fakta kalau yang tampar dirinya adalah Cilla.

__ADS_1


"Gue ditampar aspal tadi, iya, bener-bener." Jaeran gak percaya cowok itu tau kalau Jaesi lagi mengelabuinya, ia masih berusaha sabar sampai pada akhirnya gadis itu mengatakan yang sebenarnya. "Cilla, orangnya Cilla." jujur saja Jaeran terkejut, "cepetan jadian biar gue gak ngimbas lagi." Jaesi hanya bilang kaya begitu saja sudah membuat hatinya sakit.


__ADS_2