Vilanian

Vilanian
15


__ADS_3

Jaesi kembali mengerling ketika saat ia kebawah rumah melihat gadis kecil yang sok kecantikan itu ada di sofa ruang tengahnya, tentu ajh cewek yang lagi lewat buat ambil cemilan untuk teman-temannya diatas itu. Misela dengan bangganya mempamerkan kaitan tangannya pada Jaeril saat kedua sedang sibuk membuat sesuatu, Jaesi memutar kedua bola matanya malas dan berlalu.


Sang adik sempat menoleh sesaat kemudian kembali menatap ponselnya yang ada di genggamannya itu. Misela menaruh kepalanya sembari tiduran dan mencoba memejamkan matanya sambil menikmati usapan lembut pemuda itu. "Bocah-bocah, modus mulu loe." Cibir gadis itu yang menaiki tangga.


Misela membuka matanya dan menatap galak Jaesi, "kakak sirikan? Karena kakak jomlo dan aku enggak?" Jaeril yang dengar ajh sampai membelalakkan matanya lalu bangkit dan menatap wajah Misela yang lagi fokus adu mulut sama Jaesi.


"Kamu pacaran sama siapa?" Tanya, cowok itu serius. Misela tersenyum mrngembang kemudian menunjuknya tepat pada dada pemuda itu.


"Kakak," Jaesi kontan tertawa terbahak-bahak lalu menggeleng kepalanya pelan, anak jaman sekarang ada ajh. Itu pikirnya, Misela emang lucu tapi apa gak kebanting selera adiknya itu? Jaeril langsung tersenyum manis dan mengusak surainya dan masuk ke dalam kamar.


Misela yang di gituin langsung ambyar gitu ajh, anak kecil itu menatap wajah Jaesi yang seakan-akan mau meledeknya. "Gak usah mimpi ye bocah, kebanting banget kalo sama loe. Tjoy, gak usah ngayal!" Misela memeletkan gadis itu yang lagi naik menuju kamarnya.


Jaesi mendengkus dan menarik pintu dan mendorongnya ke dalam, Giska menatapnya yang datang membawa makanan dan minuman. Ruth melihatnya sekilas lalu mengetik sebuah balasan dari chat seseorang, yang membuat gadis Pears itu penasaran adalah kenapa Ruth mengirimnya melalui ponselnya. Emang ponselnya ke mana? Itu ajh yang ada di dalam benak Jaesi.


Jaesi duduk dipinggir kasur matanya termenung dan kosong, arah matanya pada jendela depan kamar seseorang yang menguar nuansa mint. Helaan terdengar dari suaranya yang kini beranjak menuju lemari. Diraihnya baju couple hasil malak dari kakak sahabatnya, sempat kepikiran buat ngasih namun ia ragu akan keterima oleh pria itu. "Kalian pernah gak sih, kaya kejebak sama zona nyaman?" Tanya, gadis itu random. Gricella menolehkan kepalanya lalu menggeleng cepat, Ruth tak terlalu mendengar apa yang temannya itu katakan. Sedangkan Giska hanya menatapnya tak terbaca.


"Lagu wayv kane juga ya," ujar, Ruth tiba-tiba namun malah dapat toyoran dari Jaesi.

__ADS_1


"Gak guna ngomong sama kalian," Jaesi membaca seluruh room chat terakhir diponselnya, matanya terpejam rapat ketika mendapatkan satu pesan yang jelas ketikannya bukan dirinya sekali.


Kemudian ia menatap wajah Ruth dengan datarnya, Ruth yang tak mengerti bermain ponsel dengan santainya. Jaesi mengeluarkan aura menyeramkan lalu mengatupkan bibirnya dengan tatapan mata yang tak bisa diartikan, cewek yang lagi tiduran sembari memainkan ponselnya itu langsung ditendang oleh sang pemilik kasur hingga membuat yang lain ikut kaget. Jaesi mendorong tubuh perempuan kurus itu dan menariknya secara paksa keluar dari kamarnya, yang kemudian membanting pintu kamar sekeras mungkin. Blamm. Ketiganya kaget begitu juga dengan penghuni rumah, Mama sampai mengetuk pintu dan tak disahuti oleh gadis itu.


Di dalam kamar gadis itu mengutuk keras tindakan Ruth yang mengirimkan pesan ke Marco menggunakan kata sayang. "Dasar gak ada adab!" Umpatnya kesal.


Vilanian


Jaeril lagi main PS5 sama Hino kakak Misela yang herannya lagi kenapa bocah piyik itu selalu ada di rumahnya mulu gitu lho. Malam itu Jaesi lagi main sama Jaeran yang kebetulan baru pulang ngedate sama Cilla, cowok itu sengaja mampir ke tempat sahabat perempuannya dulu.


Cowok itu memerhatikan wajah Jaesi yang tampak masih kesal, lalu menaruh perhatiannya pada pergelangan tangan gadis itu yang agak lebam. "Itu kenapa? Siapa yang lakuin itu?" Tanya, Jaeran lembut lalu mengusap memar dan membuat Jaesi meringis sakit.


"Maksudnya?" Tanya, Jaeran yang diakhiri kernyitan bingung. Cowok itu rebahan di sofa panjang dan mencoba merenggang tubuhnya agak kaku, cewek yang lagi-lagi sedang sibuk dengan urusan Misela tak menatap pemuda yang sedang memandangi wajahnya memicing.


"Ya ... Gak ada maksud apa-apa," asal Jaesi saking santainya, perempuan yang lagi main game itu mendongak menatap pemuda yang lagi bersiap tidur.


"... Kea orang lain ajh loe, maksud gue loe lebam gitu, siapa yang buat?" Gemas Jaeran yang kemudian menekan lebam di wajah cewek itu, Jaesi meringis saat luka lebamnya ditekan seperti ini.

__ADS_1


"Sshhh," perempuan yang menangkis tangan besar pemuda di depannya itu. Langsung mengambil kompresan.


"Sakit ya," suara Jaeran berubah jadi melembut, cowok itu meraih kotak petigaka.


Jaesi mendengkus lalu mengatupkan mulutnya yang tak bisa berbuat apa-apa selagi diobati sama cowok di depannya saat ini, matanya terus membaca gerakan mata pemuda itu. Perempuan tertegun sejenak kemudian menguasai raut wajahnya yang tampak agak frustrasi dengan pola pikir Jaeran. Saat suasana hening sebuah celetukan menyahut dengan gaya khas guyonan basi.


"Gak sesakit kalo loe sama, Cilla. Ya kan nyai?" Cewek cantik itu menolehkan kepalanya ketika mendengar sebuah suara familiar itu, ingin banget rasanya Jaesi buang manusia yang duduk di bawah sambil tersenyum tanpa dosa itu ke kali depan.


"Apaan sih,"


Cowok berdimple itu tersenyum skeptis terhadap cewek yang lagi memandanginya tajam, seakan menantang untuk bicara jauh lebih lagi. Darren. Orang itu adalah Darren. Entah darimana datangnya manusia tampan satu ini. "Gue tuh kurang bae apa jadi temen," ujarnya, sambil melirik ke arah gadis itu. "Ganteng? Oya jelas banget. Pinter? Jangankan pinter kelewat cemerlang otak gue ini. Apa sih yang kurang dari seorang Darren Criss? Gak ada yang kurang dari gue." Celetuk Darren yang terlihat dramatis dan membuat Jaesi hampir muntah.


"Kurang loe cuma satu," sahutan Jaesi membuat yang ikut penasaran tapi gak penasaran lagi setelah dengar apa yang dibilang gadis itu. "Jomlo!" Itu kontan buat Jaeran ketawa ngakak banget sampe pemuda itu gak sadar terlalu menekan luka perempuan yang lagi menahan sakit.


"Bajing," umpat pemuda berdimple lalu melengangkan kakinya ke dalam dapur.


"Masuk ajh gak apa-apa yang punya lagi pulkam!" Pekik, gadis itu jengkel dengan tingkah Darren yang makin hari makin jadi, saat Jaesi mau menyusul pemuda berlesung pipi itu Jaeran langsung melotot agar Jaesi tak banyak gerak.

__ADS_1


Tapi itu gak membuat Jaesi menurut, gadis itu hanya diam sembari mengerucutkan bibirnya sebal. Perasaannya tak enak jika Darren berada di dapur takut-takut cowok itu menyentuh makanannya yang ia umpetin dari Jaeril.


__ADS_2