
Minggu-minggu ini para siswa dibuat mati berdiri karena ujian yang sudah di depan mata tanpa terasa hari terus saja berjalan bahkan permusuhan Jaeran dan Jaesi masih tetap berlanjut, gadis itu sama sekali gak menunjukkan rasa pedulinya lagi. Jaesi sekarang bergaul sama Gita, ada Giska, Ruth dan juga Gricella: ketika sedang mengobrol tiba-tiba Jaeran menarik lengan gadis yang duduk disebelahnya itu agak sedikit memaksa. Jaesi bukan cewek lemah yang kalau ditarik sedikit langsung mengeluh kesakitan, gadis itu langsung menangkis tangan si pemuda yang sudah menariknya hingga keluar kelas saat hendak berbalik si Jaeran menahannya lagi. "apasih!" seru gadis itu yang mulai jengkel.
"Loe kok kayanya mulai lupa siapa temen loe yang sebenarnya." sindir pemuda tersebut tetapi malah membuat Jaesi jengah akan perkataannya, setiap kali ada masalah pasti Jaeran selalu melempar kesalahan padanya gak pernah sedikitpun mendengarkan semua ceritanya dengan jelas. apa gak terbalik selama berbulan-bulan yang selalu saja cuek tuh siapa? sudah jelas jawabannya pemuda di depannya yang berlalu pergi tanpa mau berbicara lagi sama gadis tersebut.
"Selama ini yang bucin siapa?!" teriak Jaesi sebal yang gak tau kenapa jadi berpikir keras mengenai hubungan keduanya, Jaesi selama ini mendiamkannya karena yang ada dibenak gadis itu Jaeran akan meminta maaf perihal persahabatan mereka. bahkan gak sedikit lelaki bermarga Smith tersebut memberikan penjelasan terhadap hubungan persahabatan mereka. gadis itu gak langsung kembali pada teman-temannya langkah kakinya mengarah pada atap sekolah, rooftop memang selalu menjadi tempat favoritnya: gadis itu duduk pinggir tembok yang tertutup terpal dan saat itulah sang gadis mengeluarkan tangisnya tanpa sepengetahuan orang lain.
Jaeran pikir itu gak terlalu keras karena cowok itu tau sahabat perempuannya gak akan mudah menangis hanya karena masalah sepele, namun nyatanya pemuda tersebut salah justru Jaesi menyembunyikan rasa sedihnya dari teman-temannya ... Jaesi memukuli dadanya yang kian sesak gak lama ponselnya berdering dan nama Darren tertera. "halo," lirih gadis itu.
"Loe nangis?!" kaget sang lawan bicara.
"Gak kok tapi kayanya gue gak enak badan deh, tolong izinin ya nanti sama bu Berlin." setelah memutuskan panggilannya Darren gak langsung memberikan izin dan lelaki itu yakin kalau sahabat kecilnya itu pasti tengah bersembunyi untuk mengeluarkan semua air mata penderitaannya, dan membolos demi agar gak terlihat lemah. Jaeran masuk ke dalam kelas dengan sorot bahagia dan menatap ke arah meja Jaesi yang sudah kosong dengan tas, Darren yakin pemuda di depannya alasan kuat Jaesi menangis kali ini.
__ADS_1
Darren berjalan melewatinya gak tau kenapa perasaannya aja atau memang pemuda dimple itu lagi menjaga jarak padanya, "mau ke mana?" tegur Jaeran dengan nada kalem.
"Gak per— ya?" ketika mau menjawab pemuda itu mendapatkan telpon dan langsung terkejut ketika tau sahabatnya pingsan. "apaa pingsan!! gue ke sana!!" Jaesi dibawa oleh salah satu anak basket ketika hendak mau nyebat.
"Darren mau ke mana kamu?"
"Anu bu Jaesi pingsan saya mau ke uks sebentar nanti saya balik lagi." bu Berli ikut terkejut dan memberikan surat izin agar Jaesi bisa pulang, guru kimianya itu gak merasa keberatan kalau muridnya harus pulang di jam ketiga seperti ini bahkan Jaeran masih gak sadar kalau yang pingsan itu Jaesi karena sudah terlalu sibuk sama kekasihnya sendiri. Jaeran menatap kursi kosong itu menunggu Jaesi hingga jam pelajaran selesai, cowok itu malah sibuk dengan ponselnya saat bel pulang dan melewati uks tanpa sengaja Jaeran mendengar pertengkaran Darren dan Jaesi.
"Gara-gara Jaeran, kan?"
"Gak gitu," lirih gadis itu yang lelah karena semua masalah yang ada.
__ADS_1
"LOE GAK USAH BELA DIA TERUS!!!" bentak orang yang ada di dalam sana atensi Jaeran sepenuhnya ke arah uks lalu dirinya mulai merasa penasaran dengan siapa Darren berbicara, Jaesi menunduk dalam lalu memeluk tubuh besar itu lalu kembali menangis. "gue bukannya gak percaya sama loe, tapi gue rasa si anjing udah amat keterlaluan. Jaesi loe harus move on kalo balikan jalan satu-satunya gue ikhlas elo sama si tukang selingkuh lagi." Jaeran mengernyit apa gadis yang di ajak bicara itu Jaesi? lalu siapa cowok yang dimaksud sama Darren? gak mungkinkan dirinya.
"Gue mau mie ayam," cowok berdimple itu menoyor kepalanya lalu terkekeh seraya berjalan ke arah luar uks. "sama es alpukatnya jangan lupa." pinta gadis itu yang tersenyum tipis.
"Your wish," Darren senang kalau sahabatnya tersenyum lagi kalau otak warasnya gak berfungsi dengan normal pasti sudah ia pacari dan bahagiakan Jaesi. tetapi itu gak sesuai sama harapannya karena pemuda berdimple lebih memilih untuk bersahabat tanpa melibatkan cinta, serta gak merusak semua yang sudah terjadi. Jaeran membuka pintunya lalu menatap punggung yang amat ia rindukan, pemuda itu berjalan perlahan agar gak mengganggu si gadis diusapnya pelan kepala Jaesi yang membuat sang empunya merasa mengantuk. "ngapain loe ke sini?" dingin Darren yang memergoki sosok Jaeran di sana.
"Gue juga masih sahabat Jaesi kenapa loe gak kasih tau gue juga," pelan pemuda itu. Darren berdecak sinis setelah semua yang terjadi? apa itu benar-benar rasa peduli atau cuma rasa kasian saja. "gue nyesal, biarin gue—" ucapannya kepotongan begitu saja.
"Jaeran gue harap loe tau bahasa manusia dan sebentar lagi Marco ke sini, jadi keluar sekarang." Jaeran terpaku pada sosok yang terbaring lemah lalu mengendong Jaesi dan membawanya pulang mana ikhlas dirinya jika gadis ini di antar sama pemuda lain selain dirinya, lagian juga gak ada hak bagi Darren melarangnya.
"Gue bawa mobil jadi biar gue aja." Darren menahan lengannya lalu memberikan isyarat agar menurunkan gadis itu, lantas gak di dengarkan oleh Jaeran dan pemuda itu langsung berjalan tanpa menunggu lagi. "Ren, jangan kaya anak-anak nanti Jaesi bangun!" desisnya yang langsung meninggalkan Darren begitu saja tanpa mau menoleh ke belakang lagi. mama terkejut melihat Jaesi ada dipelukkan Jaeran yang membuat Jaeril langsung membuka pintu kamar kakaknya, hanya dalam beberapa detik sang mama tau jika anaknya lagi merasa demam. setelah mengantarkan Jaesi ponselnya berdering dan nama Cilla yang tertera, pemuda itu sengaja gak menjemput kekasihnya agar tau alasan kenapa Jaesi bisa seperti ini.
__ADS_1
Jaeran menyesal. benar-benar menyesal karena faktor utama penyebab gadisnya sakit adalah dirinya sendiri, "Njaes cepet sembuh, gue kangen," lirih pemuda tersebut yang langsung pergi dari sana dan meninggalkan rumah sahabatnya itu.