Vilanian

Vilanian
28


__ADS_3

Jaeran melintas saat hendak kembali ke kelas agak sedikit mendidih ketika liat Jaesi bercanda sama Marco yang juga meladeni candaannya itu, Cilla yang berdiri di sampingnya menghela pelan lalu mengamit lengan cowok itu agaknya Jaeran sedikit terkejut sama gerakan gebetannya. Tapi dia gak bisa buat melepasnya langkah ke empatnya sama-sama menuju perpustakaan sekolah serta ke empatnya pun juga masuk secara berbarengan tanpa Jaesi dan Jaeran tau, seperti biasa Marco dan juga gadis itu akan lebih memilih pojok belakang perpustakaan berbanding terbalik sama Jaeran yang memilih duduk di depan jendela seraya mendengarkan musik berdua sama Cilla. "Jaesi, aku mau nanya sama kamu." ujar Marco yang menautkan tangannya pada jari jemari gadis itu.


"Kamu mau nanya apa?"


"Kamu beneran udah gak berhubungan lagi kan sama Jaeran." agak sungkan jawab pertanyaan itu namun pada saat mau jawab sebuah kursi hendak jatuh ke atas kepala gadis tersebut, Jaesi masih diam karena terkejut namun di detik berikutnya Marco mendekatkan wajahnya pada Jaesi. Tetapi Jaesi tidak membalas perlakuan itu, ia malah melengos tanpa banyak bicara. "kenapa? kamu gak mau melakukannya?" Jaesi mendadak jadi berkeringat dingin, gadis itu jadi bingung bagaimana cara ia bilang pada Marco setelah apa yang dilakukan Jaeran kemarin.


"Bukan gitu," cicit Jaesi agak berat hati. Ia sebenarnya gak mau kalau harus melakukannya lagi selepas apa yang sudah dirinya dapatkan, gadis itu saja sampai menangis kemarin malam setiap ingat kejadian tersebut. "kita udah pernah melakukannya," alasan dari Jaesi gak bisa Marco terima begitu saja.


"Atau jangan-jangan," Jaesi semakin gelagapan dan menggeleng kepalanya cepat. "ouh syukurlah, terus kenapa kamu nolak?"


"Karena bentar lagi masuk." hey! Jaesi alasan macam apa ini kenapa gak berkelas sekali alasannya, Marco mulai percaya dan gak banyak bertanya lagi. "aku boleh tau gak kenapa kamu segitu bencinya sama Jaeran?" Marco agak kaget lalu menghela panjang enggan menceritakan masa lalunya. Sudah sejak lama keduanya bersaing mendapatkan Jaesi tanpa sepengetahuan si cewek, sampai detik ini pun rasa benci itu masih tertanam di lubuk hati kedua cowok tersebut.

__ADS_1


"Buat apa kamu tanya kaya gitu? kamu suka sama Jaeran ya?" Jaesi terkejut lagi lalu Marco berjalan meninggalkannya begitu saja. Di antara rak-rak yang keduanya lalui gak ada satupun terdengar suara manusia, sehingga suara pertengkaran Jaesi dan Marco sangat nyaring.


"Kenapa kamu bilang kaya gitu? jelas aku lebih sayang kamu!"


"Terus kenapa tanya kaya gitu?! kalo kamu sayang aku, harusnya kamu gak bahas cowok lain di depan aku!! dan ya, sebenarnya aku gak suka kamu!!" hati Jaesi agak mencelos mendengarnya. Marco pergi tanpa mau mendengar lagi penjelasan darinya saat dalam perjalanan mengejar pacarnya itu, manik mata Jaesi menangkap satu sosok yang selalu jadi sumber pertengkarannya. Bahkan bibir yang Jaesi jaga agar gak orang lain menyentuhnya, Jaeran berikan sama perempuan lain: sakit banget rasanya buat Jaesi. Marco menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah Jaesi yang juga sedang memandang wajah Jaeran. Darren menunggu kedua sepasang kekasih itu dengan wajah suntuk derita orang jomlo memang selalu seperti ini ada saja yang membuatnya kesal bahkan saat di dalam kelas pun banyak yang menebar keromantisan, agak menjengkelkan sebenarnya.


Jaesi menghapus air matanya lalu kembali mengejar Marco yang juga melanjutkan langkahnya, Jaeran merasakan kehadiran sahabat perempuannya namun semuanya ditepis begitu saja saat menoleh gak ada siapa pun. "MARCO!! BERHENTI!!" pekiknya kencang, mungkin konfliknya sama Marco kali benar-benar gak bisa diselamatkan lagi.


"Berhenti! kita putus! aku udah muak sama semua kepalsuan ini, aku muak sama kamu. Sama semuanya! putus adalah jalan terbaik," lirih pemuda yang melengos pergi. Jaesi membeku ditempat semua usahanya sia-sia gak ada lagi jalan damai buat memertahankan jalinan kasihnya, bahwa Marco dan dirinya benar-benar berpisah. Berkali-kali namanya dipanggil namun lamunannya terlalu larut hingga gak sadar jika mereka sedang di dalam kelas, Jaeran mengerutkan wajahnya heran ketika Jaesi kurang memerhatikan guru.


"Gue tuh masih pacaran gak sih sama Marco?" tanya gadis itu sama Darren.

__ADS_1


"Dih amnesia pasti ini manusia! lupa kalian kan udah putus." Jaesi agak kaget lalu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul siang. "ya elah! baru kena senter bola dikit aja langsung amnesia! heh tadi siapa yang nangis-nangis karena gak mau putus!"


"Jadi itu nyata?"


"Nyatalah bambang! kalo kagak ngapain elo di sini jadi planga-plongo sama gue!"


"Berarti yang gue liat diperpus itu juga nyata dong?" gumam Jaesi pelan. Namun masih bisa tertangkap oleh Darren, pemuda berdimple itu mengerutkan keningnya heran. "loe tau gak sih ... tadi tuh gue hampir dicium sama Marco tapi gue menolaknya, karena," ucapan Jaesi menggantung. Dan Darren langsung menebak apa yang akan gadis tersebut katakan.


"Kemarin hujan-hujan loe sama Jaeran ******* gitu? basi Jaes, sumpah." namun bukan menyangkal gadis yang lagi diam itu menunduk seraya mengiyakan perkataan Darren, di situ cowok yang ada di sebelahnya itu terpaku lalu menoleh ke arah samping Jaesi. "bohong pasti." Jaesi menggeleng tanpa mengeluarkan banyak kata kemudian kembali menangis.


"Enggak, itu beneran. Yang lebih parah lagi Jaeran juga melakukannya sama Cilla," cicit Jaesi. Tangan sahabatnya itu terkepal gak terima Jaesinya diperlakukan seperti ini, Darren menatap Jaeran dengan tatapan sulit diartikan. "menurut elo hubungan gue sama Jaeran itu udah bukan sahabat lagi gak sih?" isakkan kecil itu semakin menyelimutinya lalu gadis tersebut memeluk badan besar Darren.

__ADS_1


"Elo akan selalu dianggap temen sama Jaeran dan itu gak akan pernah berubah." Darren dan Jaesi melangkah keluar seraya menghampiri kelas Jantho.


Saat berada di perpustakaan Cilla meminta pembuktian pada Jaeran dengan mendekati Jaesi bukan sebagai sahabat melainkan lawan jenisnya, Cilla jelas liat tatapan sendu dari Jaesi ketika di dalam perpustakaan. Ia tau kedua sahabat itu saling menyimpan cerita sendiri, jika lebih dari seminggu Jaeran tetap memrioritasin dirinya maka terbukti kalau mereka memang sahabatan gak lebih tapi kalau Jaeran lebih memilih sahabatnya maka sudah bisa dipastikan bahwa dirinya hanya pelampiasan selama ini. "Kamu mau kan, melakukan satu hal buat aku? kalo mau, aku minta kamu buktiin bahwa kalian emang pure bersahabat gak lebih. Lebih dari satu minggu kamu gak prioritasin aku lagi, aku anggap hubungan sebatas plampiasan semata." Jaeran terkejut jujur saja namun ia gak bisa menolaknya ataupun mengiyakan hal tersebut cuma terdiam seraya berpikir siapa yang tadi melihatnya mencium Cilla.


__ADS_2