Vilanian

Vilanian
49


__ADS_3

Jaeran menggenggam tangan Cilla sembari meyakinkan semua ketakutan gadis itu gak akan pernah terjadi sampai pada akhirnya si cowok sudah malas membahas tentang persahabatannya dengan Jaesi, "ya kamu mau aku kaya gimana? aku udah nomor satuin kamu, terus ke manapun aku pergi ada kamu. sampai aku gak ada waktu buat hangout bareng temen-temen sendiri lantas itu gak buat kamu puas, kan? terus sekarang aku harus gimana? jauhin Jaesi? untuk yang satu itu aku gak bisa." Cilla menatap kecewa kekasihnya terus terang si gadis merasa hubungan mereka gak sehat karena sebagaimana yang dirinya tau Jaeran gak benar-benar terlepas dari sahabatnya.


Rumah Cilla sepi kala itu dan ponsel Jaeran berbunyi terus daritadi gak ada niatan buat ngangkat telpon tersebut, "kamu yakin? aku gak mau hubungan kita hanya sekadar pelampiasan." Jaeran tertawa sinis, pelampiasan gadis itu bilang? lalu sikap kekanakannya itu apa kalau bukan bentuk dari protes.


"Berhenti kaya anak-anak."


"Aku? kaya anak-anak? kamu gak salah?" Cilla selalu mulai keributan dan membuat semuanya jadi semakin rumit, apa susahnya mengerti posisinya saat ini gak ada satupun dari teman-temannya yang berani meminta untuk berhenti memikirkan Jaesi. "gak bisa sekali aja kamu berhenti mikirin Jaesi? aku muak dengar namanya!?" Jaeran terkejut suara kekasihnya meninggi nada bicaranya pun berbeda dari biasanya, gak jangan lagi. mereka gak boleh bertengkar Cilla harus ditenangkan terlebih dahulu: sebelum semuanya semakin runyam dan gak terkendali.


"Yaudah, aku minta maaf. hm? kamu gak marah lagi, kan? hmm, iya, bukan?" lembut lelaki itu jujur Cilla gak kuat sama sikap lembut kekasihnya pengin mleyot saja rasanya, ditatapnya pemuda tersebut lalu mengangguk. "mau makan apa? aku masakin mau? apa pesan aja?" Cilla memeluknya seraya menenggalamkan kepalanya hampir saja mereka ribut.


"Aku juga minta maaf," ujarnya lirih.


"Hey, kamu gak salah. aku emang harus jaga perasaan kamu, kan? jadi jangan murung lagi. kamu gadis paling manis yang pernah aku temuin," Cilla mengerutkan dahinya bingung. kenapa paling manis memang yang tercantik siapa? apa Jaesi lagi? Jaeran gak langsung melanjutkan ucapannya membuat gadis itu overthingking. "kamu tau gak ada tiga— enggak dua maksudnya wanita yang paling aku sayangin, pertama bunda. kedua kamu." Jaeran bahkan menomor tigakan Cilla dalam hatinya, yang kedua pasti pada tau siapa orangnya ... Jaeran diam sebentar lalu membalas pesan dari Jaesi dirinya benar-benar melupakan janjinya pada anak itu bahkan gak datang ke laboratorium tadi.

__ADS_1


Jaesi mendengkus kasar kemudian menarik tangan Darren dengan cepat dikejauhan Vanilla sudah bersiap buat memberi kakak kelasnya itu pelajaran. "Van, mending gak usah. gue takut kena hukuman lagi soalnya." Vanilla menolehkan kepalanya ke arah samping dan mendengkus sebal sama dua temannya itu adik kelasnya gak pernah jera sebelum semua keinginannya terpenuhi.


"Kalian takut?!" keduanya menggeleng serempak.


"Bukan begit—"


"Halah! bilang aja takut, kan?!" dua temannya itu meneguk ludah kasar Jaesi bukan tipe orang yang gampang tertindas malah justru sebaliknya, kakak kelas mereka yang satu ini sangat amat disegani. perlahan namun pasti Vanilla membalas perbuatan dari Jaesi akan tetapi gerakkannya lebih dulu kebaca oleh target, Jaesi mengembuskan nafasnya lelah. "heh! elo jangan mentang-mentang kakak kelas jadi seenaknya!!"


Jaeril mengaduk makanannya gak enak hati kemudian memandang mamanya dengan penuh harap, perasaannya gak enak sembari menatap ke arah pintu. "ma, menurut mama antara kakak sama sahabatnya aka tetangga kita tuh gimana hubungannya?" mamanya mengernyitkan dahinya heran berpikir tetangga yang mana yang dimaksud sama anak bungsunya.


"Yang mana? Jimmy? Hendra? Haris? apa yang mana?"


"Jaeran elah, ma. aku tau mama punya banyak tetangga tapi gak gitu juga kali." mama membelalak dan memukul lengan putranya lalu hanya beroh saja sembari menimbang pertanyaan anaknya, perempuan setengah abad itu menatap anak lelakinya serta menyuarakan kesukaannya terhadap Jaeran.

__ADS_1


"Mama suka sama Jaeran," kata mama. "bukan mama, kakak maksudnya. tapi siapa pun pendamping kakak kamu mama setuju aja." lanjut mama yang cuma dibalas bola mata malas sama anaknya.


"Jauh banget deh mikirnya." Jaeril pergi dari sana seraya menggerutu kecil sehabis itu anak perempuannya pulang dengan wajah yang tertekuk masam, cowok itu tahu bahwa kakaknya sedang merasa kesal dengan sesuatu tetapi ia lebih memilih untuk gak bertanya kemudian berjalan begitu aja meninggalkan kakaknya yang lagi merasa serba salah. Jaeran gak mengerjakan tugasnya sama sekali dan semua tugas sahabat laki-lakinya itu udah di pegang oleh Darren hingga selesai, meski gadis itu sudah mencatat semua laporan serta catatan pentingnya di buku akan tetapi dirinya merasa harus berbagi catatan itu sama seseorang yang gak hadir dikerja kelompok hari ini.


Jaeran menghela panjang lalu mengulas senyum sangat samar dan mengusap kepala Cilla yang lagi berusaha tidur setelah makan. "kamu tau kan aku sayang banget sama kamu, Jae." Jaeran mengangguk dan tetap mengelus kepala kekasihnya yang makin lama makin terpejam, lelaki tersebut mengecup kepalanya sebentar dan si gadis menggenggam erat tangan sang pemuda.


"Aku juga sayang sama kamu dan juga Jaesi." entahlah ceweknya ini mendengar atau enggak yang jelas semoga gak dengar, cowok itu langsung buru-buru pulang dan ingin meminta maaf pada sahabat baiknya itu tetapi ketika ia hendak berdiri kekasihnya yang ada di sofa itu langsung saja terbangun dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Jaeran hanya takut kalau kekasihnya itu mendengar apa yang jadi pembicaraannya tadi semoga saja gadis itu nggak benar-benar kedengaran, si pemuda merutuki ucapannya yang ternyata Cilla cuma berpindah tempat ke arah kamar. bisa dibilang Jaeran menghembuskan nafas, Darren menelponnya lalu bercerita kejadian hari ini sontak saja membuat Jaeran merasa ikut bangga dan kehabisan kata.


Jaesi menatap jengah sosok Jaeran sudah yang keberapa kalinya cowok itu bersikap kaya gak ada apa-apa? "Njaes! kok gue dicuekin?!" protes lelaki itu yang baru saja sampai. "Jaesi, maaf. loe beneran marah sama gue? gak mau ngomong?" bujuk Jaeran yang terlihat menatap matanya Jaesi.


"Why you so different?!" pekik gadis tersebut kencang air matanya hampir meluap Jaeran tau kali ini pun cowok itu gak bisa berbuat apa-apa. Jaesi gak bisa membendung kekesalannya lagi dan langsung memukul pemuda di depannya menurut si gadis Jaeran pantas mendapatkannya, "mau berapa janji yang loe batalin?!! gue capek Jaeran!!! muak sama keadaan kita saat ini!!! kenapa gak elo pilih salah satu aja." Jaesi sudah terlalu kesal sama sikap sok adil dari Jaeran bahkan ketika disaat yang bersamaanpun cowok itu gak bisa memilih harus sama siapa dirinya pergi.


"Jaesi loe gak serius, kan?" tatapan mata nanar Jaeran menjelaskan betapa terlukanya hati lelaki itu. Jaesi gak bergeming dan diam saja lalu tersenyum sembari mengeraskan tekadnya. "Jaesillya!! jawab gue!!" teriak Jaeran yang hanya dibalas dengan bungkaman saja. Jaesi memandang lurus sambil menghela lelah pada sahabatnya itu padahal bukan sekali dua kali mereka berdua bertengkar tapi sepertinya yang satu ini cukup serius.

__ADS_1


__ADS_2