
Jaesi masih terkulai lemas dipangkuan adiknya yang tengah asik bermain game. Padahal sudah satu jaman kakaknya pingsan, namun pemuda itu sama sekali tidak pernah membangunkan kakaknya. Malah asik bermain game online diponselnya.
Jaesi mengerang sakit kepala lalu membuka kelopak matanya. Saat menatap dapur, yang gadis itu lihat adalah sosok pria impiannya. "Gue di surga ya ... Kok ada cogan." Gumam, perempuan itu tak sadar. Gadis itu diam beberapa menit lalu menyadarkan dirinya.
Saat ingin beranjak dari posisinya sesuatu menghantam kepalanya hingga membuat Jaesi langsung mengaduh sesakitan. Braakkk. "Udah kelar?" Semprot Jaeril tak santai. Jaesi mengelus kepalanya yang sakit, lalu menatap wajah adiknya tajam.
Ketika hendak ingin membalas Jaeril lebih dulu melangkahkan kakinya menuju meja makan. "KOK LOE SONGING SAMA GUE BOCAH?!" teriak, Jaesi yang sepenuhnya sudah sadar.
Jaeran menoleh ketika mendengar suara bising lalu tersenyum manis pada gadis yang lagi duduk di depan televisi. Pemuda kembali melanjutkan aktivitasnya walaupun tau gadis itu sudah sadar. Jaeril tersenyum jahil kemudian menghampiri pemuda yang lagi ada di depan kompor.
"Masak apa abang ipar?" Jaeran tersentak lalu agak menoleh pada Jaeril yang lagi mengulas senyum jahil.
"Woy serbuk Kamboja, ngapain loe di sini?" Tanya, Jaesi yang mengabaikan tingkah polah Jaeril padanya. Jaeran diam saja dan tidak mau menjawab pertanyaan gadis yang berdiri tepat dibelakangnya.
Gadis itu menukik alisnya heran pada Jaeran yang diam saja. Sedangkan pemuda yang lagi masak itu terus kepikiran dengan percakapannya bersama sang kakak Jacob.
Jaeran yang tidak fokus dengan masakannya itu terlihat sedang melamun. Kenapa juga dirinya terus memikirkan ucapan kakak durjananya itu. "Ril, jangan di situ. Nanti loe kena." Tegur, pemuda itu yang melihat Jaeril di dekat api panas.
Jaeril mendongak sebentar lalu berpindah ke depan pantry. Jaesi yang mulai jengah karena merasa diabaikan oleh pemuda itu langsung memutar tubuh Jaeran. Gadis itu mencondongkan tubuhnya kedepan dan menajamkan matanya seperti elang. Tiba-tiba saja jantung pemuda itu berdegup laju lebih cepat dari pada sebelumnya.
Saat itu lintasan obrolannya muncul begitu saja. "Loe gak bakal tau itu perasaan nyaman atau perasaan menjaga, yang harus loe ingat adalah kalo perasaan itu muncul karena loe dekat dengan Jaesi," Jacob mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Itu artinya loe suka sama Jaesi." Jaeran langsung mengenyahkan pikiran kotor itu.
Pemuda itu tergugu dan langsung mendorong tubuh gadis itu yang membuatnya tidak bisa bernafas lega. "B-bisa jauhan gak?" Dorong Jaeran yang berhasil menciptakan kerutan di dahi gadis itu. Tak disangka wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Jaesi mengambil ponselnya lalu memotret pemuda itu yang lagi masak dan memakai apron. Gadis itu berniat mengirimkannya ke Cilla namun diurungkan kembali. Gadis itu menyimpan ponselnya lagi ke dekat teko beling.
Gadis itu mengamati perubahan wajah Jaeran yang terlihat seperti rajungan matang. "Loe sakit?" Tanya, gadis itu khawatir.
Pemuda itu membeliak kaget dan langsung menjatuhkan sodetnya. Jaesi menatap gerak-gerik pemuda dihadapannya dengan seksama lalu pada saat ingin membuka suara. Suara mengganggu Jaeril membuat gadis itu memilih pergi dari depannya. Jaeran bernafas lega karena melihat gadis itu telah menjauh darinya untuk sementara ini.
Jaeran duduk disebelah Jaeril. Cowok itu terus memandangi wajah Jaesi dalam diam pemuda itu menumpu satu tangannya di dagu. Gadis itu terlihat manis ketika sedang makan. Jaesi mendongak saat ingin mengambil minum. Dia menatap Jaeran yang lagi juga menatapnya. "Apaan!" Celetuk, gadis itu yang langsung buru-buru minum.
Saat lagi makan. Bel berbunyi, Jaeran langsung bangkit dan melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Namun Jaeril menghentikannya, "gue ajh bang," cowok itu melengos pergi dan Jaeran kembali duduk.
Jaesi mendengus dingin melihat keheningan yang diciptakan oleh Jaeran. "Cilla gimana?" Tanya, Jaesi. Pemuda itu terkejut dan langsung menguasai dirinya.
__ADS_1
"Lancar," gadis itu mengangguk paham.
Jaesi hampir kesedak pas liat apa yang dikirim sama Jacob. "Uhuk! Uhuk!" Batuk gadis itu yang buru-buru ambil minum.
Pemuda itu mengernyitkan dahinya heran. Pemuda yang duduk di depannya pas itu hendak mengambil ponsel gadis itu. Namun dengan gerakan cepat Jaesi langsung menutup room chat tersebut. "Kenapa sih?"
"Gak apa-apa!" Sela, gadis itu dengan cepat. Jaesi mengumpat dalam hati. Mengumpati Jacob yang berani-beraninya bilang seperti itu.
"Dih biasa dong," cibir, Jaeran dan berjalan ke kulkas.
Gadis itu meraih ponselnya dan menarik lengan pemuda yang lagi berdiri di depan kulkas untuk ke rumah si pemuda tersebut. Jaesi berencana mau menghantam kepalanya Jacob jika, cowok itu berani-berani lagi bilang sama Mamanya. "Kuy pindah tempat,"
"Lo mau main ke rumah gue? Ngapain?"
"Ouh jadi loe gak suka?" Jaeran menggeleng cepat lalu menghembuskan nafasnya panjang. Gadis itu cemberut kemudian merekah lagi saat pemuda yang berjalan mendahuluinya itu mengiyakan ajakannya itu.
Pas masuk ke dalam rumah. Satu nama yang ia sebut itu adalah Jacob. Jacob yang mendengar suara itu langsung merapatkan bibirnya dan menahan tawanya. "JACOB!!!!!" Pekik, gadis itu yang Jaeran kaget. Jaesi terus memanggil namanya dengan intonasi marah.
Jacob mengelus dadanya sabar dan kemudian menatap wajah Jaesi sebentar. Pemuda tinggi itu menggeleng kepalanya heran, kemudian melengang pergi duduk let sofa panjang yang letaknya tak jauh dari gadis itu berdiri. "Kenapa sih cantik? Hm?" Alem Jacob yang tak mempan terhadap Jaesi.
"Gak usah alem-alem gue, gak mempan! Ngapain loe chat gue kaya gitu?! He! Bung, gak usah ya loe sangkut pautin dia sama orang yang disebelah gue!!"
"Kalian kenapa?"
Jacob berseringai licik lalu menatap gadis itu yang masih memelototi dirinya. "Ah, enggak apa-apa, kok. Cuma ada yang sensi, ajh." Seringai Jacob kemudian mengelus rambut gadis itu manis.
Jaesi memutar bola matanya malas dan menangkis tangan cowok tinggi itu dengan sebal. "Ye," sewot, gadis itu lalu menyikut pemuda tinggi tersebut.
"Loe gak usah salting gitu, kalo emang gak bener. Dengan loe salting itu membuat gue semakin jelas, kalo loe beneran ... Ya kaya yang gue maksud," bisik, Jacob.
"Bacot!" Sahut, Jaesi tak acuh. Jaeran berjalan ke kamar dan meninggalkan mereka berdua saja.
Jaesi memandang cowok yang tengah menaiki tangga itu ke kamarnya. Gadis itu tersengir saat menoleh ke arah pemuda yang sedang menelan salivahnya tersebut. Jacob langsung berdiri dan berjalan mundur kebelakang menghindari tinjuan gadis itu.
Jaesi siap menjeritkan nama pemuda yang berlari ke kolam belakang. "JACOBBBB!!!!" jerit gadis itu gemas sama cowok itu. Jaesi berlari mengejar pemuda tinggi itu dan bersiap menjambak rambutnya.
__ADS_1
"Ampun nyai, iya, kaga lagi."
"Kaga bisa! Loe tuh gue kasih hati, ngelunjak?! NGAPAIN LOE NGIMING KIYI GITI HIH!? LOE TAU KAN—" pekik, gadis itu yang langsung disahutin oleh Jacob.
"TAU?!!" Jaesi melotot kaget lalu mengeraskan jambakannya.
"He! Suruh siapa nyaut!" Jacob menciut menampilkan dua jarinya membentuk lambang damai. Pemuda menggeleng takut, melihat wajah garang gadis itu.
"Maaf,"
"Bagus! Sekarang loe ikutin semua mau gue." Ucap, gadis itu merasa menang. Jacob membalikan badan dan melihat isi dompetnya, karena jujur saja pemuda itu memiliki perasaan tidak enak.
"Ya udah sebutin, apa mau loe." Pasrah Jacob.
"Pertama, gue mau itu baju couple yang ada tulisannya, i luv u dan luv u to ter—"
"Najis alay," cibir, Jacob.
"Bodo," ujar, gadis itu tak peduli. Lalu melanjutkan permintaannya. "Kedua, gue lagi pengin itu ... Apa sih ... Nah! Sempolan, harus yang di dekat SMAN 4!!" Perintah Jaesi yang memaksa pada cowok itu.
"Kapan?"
"Tahun depan! Sekarang ege..." Desis, gadis itu tertahan.
Sebenarnya cowok yang lebih tua itu tak ikhlas dengan permintaannya gadis itu. Karena Jaesi terlalu banyak nuntut, namun jika tidak dikabulkan, ia bisa ditelan hidup-hidup. Maka dari itu Jacob lebih sayang nyawanya, dari pada tidak sama sekali. "Satu bakal gue ya?" Tebak cowok itu yang meraih jaketnya. Jaesi mengangguk lalu tiba-tiba jadi menggelengkan kepalanya.
"Bukan," Jacob mendadak penasaran dengan tujuan perempuan itu membeli baju couple.
"Lha, terus buat siapa? Kaya yang pacaran ajh." Kata Jacob.
"Emang punya pacar!" Ketus, Jaesi disertai lirikan sinis.
"Terserah," jawab, cowok tinggi itu melangkah keluar dan berjalan ke arah garasi. Jacob memanaskan mesin motornya, "enakan manasin motor, dari pada manasin gebetan orang!" Sindirnya, yang langsung tancap gas sebelum dapat semburan dari gadis itu.
Gadis itu membeliak saat dengar pernyataan kakak laki-laki dari temannya. Jaesi menghela nafasnya lelah berdebat dengan cowok yang sudah pergi itu. Gadis itu melangkahkan kakinya ke arah tangga dan berjalan masuk ke kamar Jaeran.
__ADS_1
Niatnya mau ketuk pintu. Namun ketika tau pintunya tak terkunci, gadis itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dulu. Jaesi membuka pintunya secara perlahan dan berjalan masuk ke dalam kamar. Pada saat masuk, ia melihat cowok itu lagi tidur seraya memeluk sebuah boneka. Karena penasaran gadis itu meraih boneka tersebut dan membalikan boneka itu menghadapnya.
Spontan gadis itu terkejut melihat wajah yang ada diboneka tersebut dan hampir meledakan tawanya. Saking lucunya melihat boneka tersebut— bukan bonekanya melainkan menertawakan sang empunya. Ternyata itu boneka Jaemin NCT Dream yang sedang aegyo dan dibelakang boneka tersebut tertera namanya. Jaesillya. P.❤️ Jaeran. P. S. Kontan membuat dirinya jadi diam dan mengucek matanya berulang kali.