
Hari ini OSIS mengadakan sesi pertemuan rutin yang biasa diadakan setiap Sabtu dan Jum'at siang, agak malas sebenarnya bagi Jaesi menghadiri rapat koordinasi itu namun karena dikelas tak ada siapapun yang bisa diajak berbicara dan sedang semua teman-temannya menghadiri rapat tersebut. "Jam berapa si selesainya," keluh perempuan itu yang menyandar pada bahu lebar pemuda disebelahnya.
Disebelah kanan sang gadis itu ada Gricella yang menopang tubuhnya dengan bosan, sudah hampir satu jam mereka berada di ruang sekre dan rapat itu tak kunjung selesai juga. Hampir semua anak kelasnya sendiri adalah pengurusan OSIS, gadis itu berjalan menuju pintu keluar lalu lengannya kembali ditahan oleh Jaeran. "Jangan cabut, nanti kena points," tegur sang pemuda yang menarik lengannya untuk kembali duduk.
"Bosen, Ren," rengekan itu membuat pemuda tersebut menahan rasa gemasnya, Jaeran tersenyum kecil saat mendengar keluhan itu. "Ren, ayo, cabut aja," cetusnya yang tidak mau menunggu lama-lama sampai rapat selesai. Jaeran tersenyum menggelengkan kepalanya perlahan lalu kembali menatap lurus ke arah podium, pemuda itu mengamati dengan seksama apa yang dikatakan oleh sang pembimbing.
Kantin sangat ramai setelah perdebatan panjang untuk bolos dari rapat itu, akhirnya Jaeran menyetujuinya dan pergi bersama yang lain juga. "Mau pesan apa?" tanya pemuda itu, Jaesi meliriknya sekilas lalu menghela panjang kemudian memasukkan ponselnya lalu menunjukkan senyum konyolnya.
"Pappeda sama Taro Milk Tea," Jaeran mengangguk lalu menatap Darren yang masih asik bermain dengan game online miliknya. Jantho menyenggol lengan pemuda berdimple tersebut lalu memberikan sedikit isyarat pada Darren agar menoleh.
Sebenarnya rapat selesai sebelum bel berbunyi, Marco berjalan menghampiri gadisnya lalu tersenyum menyapa pemuda yang baru saja sampai setengah jam lalu, pemuda itu menatap mata milik Marco. Instingnya mengatakan ada hal yang mengganjal pada diri Marco. Jaesi menyenggol lengannya agar tak menatap seperti itu terhadap pemudanya, akan tetapi itu tidak dihiraukan oleh sang pemuda. "Apaan sih," ketus Jaeran yang mulai meninggi. Gadis itu terkejut bukan main kemudian menutup mulutnya menggunakan satu tangan.
Darren hanya memutar bola matanya malas, saat melihat adegan di depannya. Pemuda itu melengang keluar dari kantin, hey! Bukannya ia tidak ingin makan bersama dengan teman-teman yang lain, hanya saja dirinya terlalu malas jika harus melerai pertengkaran yang akan terjadi pada saat itu. "Dahlah cabut aja gue," ujarnya sambil menarik lengan Jaeran agar tak memulai keributan.
__ADS_1
Jaeran tak mau membiarkan Jaesi hanya saja lelaki dihadapannya ini terus menarik lengannya menjauh, "Loe ngapain sih, tarik gue segala?! Apa banget gaya itu orang!!" cibir cowok yang lagi berjalan mendahului dirinya itu, Darren benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih, mengapa lelaki di depannya persis seperti seorang wanita tua.
"Ya terus dia suruh gimana? Bukannya wajar kalau cowok hampirin ceweknya? Yang gak wajar itu elo, kenapa sewot banget bosku?" Jaeran mengatupkan bibirnya rapat lalu berdalih mencari alasan mengapa tiba-tiba ia seperti itu. Darren hanya bisa menghela pendek saat dengar alasan itu. "Ada baiknya loe cari pacar juga, baguskan kalau kalian dating bareng?" Sebenarnya itu bukan ide gila akan tetapi jika dirinya mencoba untuk mencari pasangan, itu akan terlalu beresiko buat perasaannya terhadap sang gadis.
"Gak salah sih," gumam pemuda itu pelan.
Jaesi meliriknya sekilas lalu beranjak dari duduknya dan melangkah menuju tempat duduk disamping Marco yang terlihat kosong, logisnya gadis itu hanya ingin duduk berdampingan akan tetapi sepertinya hari ini Marco terlalu banyak pekerjaan hingga dirinya tak diperhatikan layaknya seorang pacar yang baik. "Hari ini sibuk banget ya? Kok bisa aku dicuekin gini?" dengus Jaesi yang dibalas dengan tatapan tak percaya sama Marco.
"Hey, siapa yang bilang? Gak gitu by, maaf ya, aku terlalu fokus sama ponsel." Jaesi mengangguk sambil tersenyum menggamit lengan besar pemuda itu, Marco tersenyum geli kemudian berdiri dan melangkah keluar dari kantin. "Hari ini kamu gak ada latihan?" Gadis itu hampir saja melupakan sesi latihannya.
"Udah nunggu lama ya, kak?" sapa sang gadis yang dibalas gelengan kepala tanpa sengaja Marco tersandung hingga mencium kening manis gadis itu. Sang adik kelas terkejut kemudian menutup kedua pipinya yang malu, perempuan itu tersenyum kecil sambil memegang ujung roknya.
"Sorry gak sengaja," tukas lelaki itu kemudian menjaga jarak dengan adik kelasnya tersebut.
__ADS_1
"Vanilla, nama aku Vanilla," agak tersentak saat gadis itu mengenalkan diri sendiri pada sang pemuda tersebut, namun lelaki itu bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh Vanilla.
Dari lapangan basket outdoor terlihat sangat jelas raut wajah tak suka dari kedua pemuda tersebut, Darren dan Jaeran yang sedang berlatih sendirian. "Kayanya bakal ada yang sakit hati tuh," ledek pemuda itu yang masih memainkan bola.
"Bukankah bagus kalau mereka putus? Kan dengan begitu Jaesi kita gak bakal ngerasain sakit hati," Darren agak gak paham dengan pernyataan ini, ... bagaimana bisa Jaeran mengatakan hal seperti ini dengan entengnya? Bukankah seharusnya ia juga akan sangat sakit jika Jaesi mereka merasakan hal yang tak boleh terjadi? Mengapa tiba-tiba ia sangat mengharapkan agar itu terjadi.
"Loe gak ada niatan nikungkan?" Tuduh Darren yang masih berada di hadapannya itu, ... seketika suasana dingin menyelimuti keduanya.
"Maksudnya gimana?"
"Loe gak ada apa-apakan sama Jaesi?"
Yang seperti ini seharusnya sudah ia duga, otak dangkal Darren benar-benar membuat Jaeran semakin pusing dengan langkah kesal pemimpin basket itu meninggalkan lapangan dan segera kembali ke dalam kelas sebelum guru melihat mereka. "Otak loe terlalu penuh sama rapat tadi, makanya dongo!" celetuknya selanjutnya lalu menghela panjang. Jantho seharusnya tak menuruti kemauan sang pacar yang datang ke atas hanya untuk membawa beberapa makanan dan buku bacaan ke dalam kelasnya, Reska memang agak ribet kalau masalah pelajaran namun gadis itu lumayan berprestasi dalam jalur olimpiade matematika. Berbanding terbalik sekali dengan dirinya yang bodoh akan math dan sains itu kenapa pemuda itu masuk IPS, namun biasanya pemuda IPS itu menjadi idaman para wanita IPA.
__ADS_1
"Di sini juga? Gue pikir loe gak bakal kenal cewek," sindir Rudi yang masih duduk di dekat pintu masuk kelas, ah, mungkin lelaki itu tak penting dalam kehidupan Jantho.
"Peduli banget kutil," balas Jantho yang meletakkan semua makanannya begitu saja tanpa banyak bertanya lagi, Reska hanya tersenyum menggoda prianya itu lalu mendorong tubuhnya agar keluar dari kelas gadis itu.