
"Lagian di sekolah tuh sepi, kan lagi ada pertandingan basket sama wushu. Jadi gabut deh, lagian yang dipake junior bukan senior, makanya kita ke sini." Gizon memberikan penjelasan saat si pemiliki rumah gak memintanya, tapi pemuda itu terlihat kaget saat Jaeran sudah lebih dulu masuk ke kamar Jaesi tanpa yang punya memberikan izin. Gadis yang menertawakan tingkah jayus teman-temannya itu gak sadar kalau pipinya terkena sabetan dasi milik Giska, sampai Jaesi meringis kesakitan dan kembali berdarah. Jaesi menghela pelan entah sampai kapan pipinya bengkak seperti ini bahkan dirinya gak bisa apa-apa saat makan, hanya bubur saja. Lagi juga sekolah memang sedang ada pekan olahraga yang selalu diselenggarakan setiap tahun menjelang perayaan ulang tahun sekolah tapi biasanya hanya sparing kelas saja gak ambil lawan luar, lagian juga biasanya boxing dimasukkan ke dalam list pertandingan. Dan yang paling heran adalah kenapa Darren juga Jaeran gak ikut dalam pertanding bukannya mereka junior? apa yang dikatakan Gizon itu maksudnya adalah adik kelas?
"Biru gitu si, ya tuhan Jaesi. Sakit gak sih?" Jaesi mengerling sebal sudah tau sakit pake tanya. Dari atas Jaeran memerhatikannya lalu merasa ini semua salahnya, gadis itu bahkan gak tau kalau dirinya sedang dipantau sama cowok yang disukainya. "Kok bisa sih cuma ditampar sampe biru gitu? Apa jangan-jangan Jaeran punya kekuatan adudu ya?" Jaesi kembali tergelak kemudian menggeleng pelan, gadis tersebut melengang masuk ke kamarnya menyusuri tangga.
"Jaes," panggil Jaeran.
"Hn, kenapa?" sahut sang gadis jari Jaeran menyentuh pipi bengkak Jaesi, seketika cowok itu menyesal banget. Berbuat kasar hanya karena hal sepele dan itu membuat keduanya menyadari kehadiran satu sama lain betapa pentingnya mereka dalam hidup masing-masing, Jaesi menatap sendu sang pemuda begitu juga Jaeran menatap balik gadisnya.
"Gue tau maaf aja gak cukup. Tapi gue bener-bener menyesal, tangan gue refleks." Jaesi mengulas senyum tipis setelah itu mengangkat tangannya yang menepuk pundak cowok itu selama beberapa hari hubungan mereka kurang baik dan akhirnya keduanya berbaikkan juga, tapi rasanya Jaeran masih tetap membohongi dirinya sendiri yang mementingkan gadis di hadapannya lebih dari apa pun. Giska mendeham saat masuk ke dalam kamar lalu memincing tajam yang sedetik kemudian dituding sama rentetan pertanyaan gak masuk akal, Jaesi saja sampai meledakkan tawanya karena mendengar tuduhan dari teman sekelasnya.
"Mending jomlo daripada punya pacar kaya Jaeran," gumam gadis itu yang tetap terdengar oleh si cowok.
__ADS_1
"Di aminin mampus!"
"Lha kok situ sewot!" Giska mendengkus melihat interaksi dua sejoli tersebut, Jaeran sama Jaesi gak menyudahi perdebatannya malah semakin panjang. "emang nyatanya begitu, kan?!" sindir gadis tersebut yang berjalan ke samping meja belajar namun cowok di hadapannya itu menggenggam tangannya erat sekali seperti hendak mengatakan sesuatu tapi urung Jaeran ucapkan, Jaesi mengerutkan dahinya bingung tapi gak ia ambil pusing. Rasanya Jaeran gak sanggup memermainkan perasaan sahabatnya sendiri bagi dirinya gadis itu gak lebih dari seorang teman saja, saudara atau bahkan kerabat dekatnya ia takut semakin dalam menyelami laut luka semakin sulit juga menerima kenyataan yang ada.
"Elo mau makan sebagai penebusan dosa gue kemarin malam, hari gue masakin." cetus pemuda tersebut yang gak tau ngide darimana tapi lumayan buat makan sore nanti jadi gak perlu beli lagi.
"Apa aja kalo elo yang masak pasti enak."
Jaeran melirik gadis yang ada disebelahnya wahahnya rumit, "halo pak ini dari kediaman Pears. iya mau minta anterin dongkrak sama ban motor, iya di rumah, tolong ya pak." Jaesi menghela sembari memijat pelipisnya yang berkedut nyeri. Punya teman gak ada yang benar satupun rasanya kalau sama Jaesi pemuda yang lagi masak itu seakan lupa sama pasangannya, saat makanannya sudah siap layaknya anak ayam semua teman-temannya mengantri dengan teratur.
"Loe sabar banget punya temen kaya mereka," gurau Darren yang gak lama kesedak kuah sayur.
__ADS_1
Jaeril merubah sikapnya pada Marissa entah mengapa si cewek jadi merasa kehilangan banget karena teman ributnya gak lagi memerhatikannya bahkan saat hendak mencari gara-gara saja Jaeril sama sekali gak meliriknya ... adik laki-laki Jaesi itu sedangkan mendengarkan arahan pelatih dan fokusnya pada Marco yang sedang memerhatikan lapangan. Gak tau kenapa pertandingan basket itu bukanlah pertandingan biasa bagi Jaeril, seperti ia sedang melakukan sesuatu tapi gak tau apa.
"Lebih sabar lagi punya sahabat kaya loe, ya kan Jaes." Jaeran menggelakkan tawanya lalu mengusap wajahnya yang berkeringat Jaesi cuma memasang muka senyum-senyum saja, gak tau saja kalau gadis itu kaya pengin meninju sesuatu tapi ketahan batin.
Menit demi menit dilewati dan sekolah Jaeril sudah memasuki babak semi final masih ada waktu sebelum lanjut ke pertandingan lain yang ia geluti, "Jaeril, elo keren hari ini," Marissa terperanjat dengan omongannya tetapi cowok itu dengan pedenya mengakui hal tersebut.
"Nurun dari bokap gue, keluarga gue gak ada yang gagal." Marissa menyesal mengatakannya sungguh dirinya mengutuk mulutnya sendiri, bahkan saat Jaeril berseringai kecil tetap saja terlihat tampan dimata adik perempuan Marco. Gemas banget rasanya kalau dengar ocehan dari Jaeril yang sama sekali gak ada manfatnya mau tonjok saja rasanya, tapi itu di sekolah orang kayanya selepas sampai ke sekolah sendiri ia gak jadi kagum sama cowok berkulit putih itu. "loe kalo suka ngomong gak kaya gini juga."
"Hah?! gue suka sama loe!! NAJIS!!" baru sehari mereka akur sudah bertengkar lagi saja kalau menurut Jaeril wajah menyebalkan Marissa gak bisa di ajak damai jadi seperti ini. "amit-amit tujuh turunan kalo gue suka sama loe, gue berhenti bucinin Boy Hamzah!!" seru gadis itu yang seakan membuat sang lawan bicara terperangah saat dengar.
"Alah, kalo suka mah bilang. Mumpung gue lagi jomlo kan kasian kali pas gue ada gebetan." ejekkan Jaeril semakin menjadi namun bukan Marissa kalo gak bahan buat balas cowok itu, Marissa mengembuskan nafasnya sebal namun tetap mengontrol emosinya. Juga sama saja dengan Jaeril yang gak mau kalah terus-menerus terhadap gadis belia itu.
__ADS_1