Vilanian

Vilanian
20


__ADS_3

Jaeran mendobrak pintu UKS dengan kencangnya meski angin kencang cukup melakukan hal tersebut namun kepanikan cowok itu tak bisa tertahan ketika mendapatkan kabar bahwa sang sahabat pingsan di depan koridor ketika lagi melihatnya sedang sparing basket tadi. Cilla melangkah santai dan tetap memasang wajah anggun namun enggan berkomentar terkait pingsannya perempuan itu, yang jadi masalah. Apa harus Jaeran harus sekhawatir itu.


Jaeran mengecek setiap inchi tubuh gadis itu dan memeriksa keadaannya, Jaesi meringis ketika melihat ekspresinya pemuda itu dan mencoba menenangkan cowok itu. Cilla menatap jengah wajah sok polos Jaesi kemudian bertanya dengan nada yang cukup manis. "Ada yang sakit gak Jaes?" Tanya, gadis itu merapihkan seragam Jaesi.


"Gue baik makasih, Cill. Loe baik, pantes si bekantan satu ini suka, haha." Darren memutar matanya malas' lalu melengang pergi meninggalkan mereka yang masih berbincang santai sama perempuan itu.


Jaesi selalu saja memasang wajah fake dan bersikap seolah semua tak terjadi apa-apa yang nyatanya tidak ada yang mengerti kerumitan hatinya bagaimana, perempuan itu jelas selalu menutupi dukanya dengan wajah yang terlihat polos itu. Namun Darren tau seberapa sering Marco mengganggu kehidupannya yang mulai dibayangi oleh masa lalu. Suara pintu menginterupsi kegiatan mereka yang ada di dalam ruangan, Jaesi membuang muka malas saat melihat siapa yang datang. Ia mengobrol seakan Marco tak ada, tawanya yang hambar membuat kernyitan tercipta didahi Jaeran.


Jaeran menipiskan bibir kemudian melirik Marco yang mencoba mengajak Jaesi berbicara tentang kejadian tadi. Marco mengelus rambut perempuan itu dengan lembut lalu tersenyum pahit saat mendapat penolakan dari Jaesi. "Jaes, ..." Ujarnya, berkata lirih. Perempuan itu berpura-pura tidak dengar dan terus membuat obrolan dengan Jaeran.


Jaeran yang sadar akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan mereka berdua saja. "Keanya Marco mau ngomong penting sama loe. Kita duluan ya, nanti gue ke sini lagi." Jaesi tercekat saat Jaeran berpamitan pergi.


"Ey, ... Gak usah buru-buru, hehe."


"Loe juga butuh istirahat nyai!" Omel pemuda yang langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Jaesi lagi uring-uringan karena Darren terus menagih hutang padanya yang meminta agar ditraktir Chatime saat kalah bermain game di masjid kemarin lusa. Ditambah lagi Marco menganggu waktunya untuk tidur, perempuan itu mendengkus saat Marco ingin membuka mulutnya lebar-lebar dan mengatakan hal yang tak ingin dirinya dengar. "Ayo sahabatan!" Seru pemuda itu yang membuat Jaesi membeliak kaget.


"Ha!"

__ADS_1


Vilanian


Darren. Pemuda itu terlalu banyak omong hari ini, Gizon bingung karena tidak biasanya cowok itu banyak omongnya. "Bacot akh!" Sentak cowok itu yang langsung menoyor kepala pemuda disebelahnya itu.


Darren mengerjap lugu dan membalas semua perlakuan pemuda yang terus-menerus menoyor kepalanya, kegiatannya terinterupsi saat melihat Marco lagi mengobrol santai dengan Jaesi. Pemuda itu mendorong tubuh besar teman satu kelasnya itu dan melengang masuk ke dalam ruang UKS, Gizon yang tak mau ditinggal sendirian mengikuti langkah cowok bereyes smile itu.


Marco menolehkan kepalanya sesaat sambil menyuapkan sesendok bubur ayam pada Jaesi, Darren menatapnya lekat. Pemuda itu menatap curiga namun cowok itu tak mau menimbulkan kesalahpahaman sebelum mempunyai bukti atas kecurigaannya itu. "Kalian balikan?" Jaesi mendelik saat dengar pertanyaan itu, ah, bukan lebih tepatnya itu adalah pernyataan.


Gizon menyenggol lengan pemuda itu lalu menegurnya. "He pertanyaan macam apa itu?!" Bisiknya yang langsung dapat injakan kaki dan oknum tersebut.


"Ude loe diam ajh, hidup loe useless banget astoge!" Balas, Darren yang ikut berbisik juga. "Dan gak usah injek kaki gue!" Ketus pemuda itu yang kembali menatap wajah keduanya.


"Pulang sama siapa?" Tanya Marco.


"Aku pulang, ... Sama," Jaesi bingung karena ia sendiri tidak tau harus pulang dengan siapa. Jaeran pasti bersama Cilla dan Jaeril lagi sibuk sama OSIS.


Jaeran yang baru datang langsung masuk ke dalam ruangan dan membawa tas gadis itu ia menatap wajah Jaesi dengan wajah kesalnya. "Sama gue," sahut, Jaeran yang datang dari luar. Jaesi menoleh ke arah pintu masuk, gadis itu terlalu ingin toksin saat pemuda tersebut mengatakan hal itu seenaknya.


Gadis itu merapihkan seragamnya lalu mendengkus sembari membawa tasnya kemudian tertawa kecil melihat tingkah posesifnya Jaeran terhadap dirinya. Seandainya saja ia bukan seorang sahabat pasti amat bahagia hidupnya, handphonenya bergetar saat melihat notifikasi dari layar depan. Jacob sudah ada di depan sekolah dengan kekasihnya.

__ADS_1


Jaesi melirik wajah pemuda putih sekilas, pakaian Jaeran tampak berantakan dan tak tertata dengan baik. "Gue duluan udah dijemput, ..."


Jaeran mengerjap matanya lalu memincing tajam. "Siapa?"


"Ada deh,"


"Gak, loe pulang sama gue. Titik. Gak ada penolakan." Jaeran menarik lengannya menjauh dari semua orang dengan tatapan mata yang menyinisinya, Marco tertawa sarkastik lalu melangkah keluar dari ruangan itu.


Perempuan itu tak menolak saat melihat sifat agresif Jaeran harusnya ia tak perlu khawatir dengan kondisi hubungannya sama pemuda itu, Jaeran tetaplah menjadi Jaerannya yang akan selalu mendahuluinya lebih dulu.


"Ren, lepas itu diliatin sama anak-anak gue yang malu!" Bisiknya mendesis kesal. Cowok itu seperti tak mau mendengarkan perkataan dari cewek disampingnya itu, Jaesi terus saja mencoba untuk melepaskan cengkeraman itu. Namun sepertinya cengkeraman itu semakin menguat saat melihat sosok kakaknya di depan sekolah.


"Gue benar-benar gak ikhlas kalo sampe loe beneran sama abang gue sendiri," gumamnya, tak sadar.


"Lha? Woy, gue kan sama abang loe—" Jaesi terkejut dengan tindakan pemuda itu yang tiba-tiba memeluknya erat dan tak mau dilepaskan begitu ajh.


Cilla melewati jalan tanpa mau melihat siapa yang ada disebelahnya saat ini, tak ia pikirkan bahwa cowok yang berdiri disampingnya adalah kekasihnya sendiri perempuan itu melewatinya begitu ajh. Namun itu tak berpengaruh pada ketiga temannya yang menatap tajam Jaesi dan seolah menghunuskan pisau tepat dijantung perempuan itu. "Ck, friendzone dasar," Hermita berdecak sinis serta memberikan kode pada kedua temannya yang lain. "Fris, nanti loe jangan gitu, ke sahabat loe sendiri. Busuk!" Cibir Hermita yang diangguki oleh Friska.


Jaesi melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah Jacob yang sudah menunggunya, Jaeran lagi-lagi menahannya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya lemah, Cilla membuang muka miris. Ingin sekali dia berbuat jahat pada cewek dihadapannya itu, namun Cilla tau perempuan itu tak sejahat itu. Ini hanya sekedar waktu. "Kalian gak boleh gitu," celetuknya yang melangkah lebih dulu. Jaeran terlalu sibuk menjaga sang sahabat sampai hati perempuannya sendiri dibuat sesakit itu.

__ADS_1


"Gue punya temen tolol banget," keluh Friska yang diangguki oleh satu teman lainnya.


__ADS_2