
Apa yang membuat perempuan itu terjebak dalam perasaan semunya? Ketulusan pemuda itu, kenapa? Karena dia adalah Jaeran Petter Smith. Siapa si yang gak mau dekat sama Jaeran pasti semua cewek mau dapat kesempatan itu. Jaeran itu terlalu terdeskripsi banget semuanya ada di diri cowok itu. Ganteng, baik, gak banyak tingkah, gak suka carmuk kaya cowok pada umumnya. Gak suka maksa sesuatu yang membuat orang lain gak nyaman, tapi Ada satu hal yang gak dipahami orang-orang. Perasaan cowok itu.
Jaesi jumawa saat menatap Darren yang lagi pakai kostum maskot Pizza hut, "ya Allah, Dar. Loe tuh suka kenapa sih?" Keluhnya, yang ditatap congkak sama Darren.
"Apanya yang kenapa?"
"Ngapain pake kostum maskot pizza coba?!"
"Penghiburan yang baguskan?" Kekeh cowok tampan yang kemudian bergerak ala maskot.
Gadis itu menjambak sedikit kesal pada cowok di depannya, pemuda bereyes smile itu mengaduh kesakitan saat Jaesi menarik rambutnya. Darren menjeguk kepalanya begitu dapat kesempatan, Jaeran yang bersama mereka hanya terdiam memandangi awan yang melaju gerak merubah hari. Dengusan pelan terdengar, cowok itu merunduk memainkan handphonenya. Tiba-tiba otaknya penuh dengan kata yang membuatnya menyesal mengatakannya.
"Gue takut, ... Kalo gue cuma baper sepihak gimana?" Gumam, Jaesi yang masih terdengar oleh telinga pemuda itu. Jaeran menghela nafasnya panjang lalu menatap layar televisi dengan tatapan mata kosong.
"Gue pastiin loe gak sepihak," pemuda itu memberi keyakinan pada gadis yang lagi memandangi wajahnya dengan kedua alis yang tertaut.
Jaeran mengusak rambutnya kasar kemudian pemuda beranjak pergi tanpa mempedulikan yang lain, iya dia lupa saat mengatakan itu statusnya sama Cilla tak dirinya ingat. "Mau ke mana?" Tanya, Jaesi yang bersiap untuk menyusulnya.
Jaeran tak menjawab dan itu menimbulkan kerutan bingung pada alis Darren, yang sedetik kemudian pemuda tersebut tak menghiraukan keduanya lagi. Jaesi diam. Tentu perempuan itu tau ada sesuatu yang mengganjal dalam diri cowok bermarga Smith itu, gadis tersebut menghela lalu ia merogoh handphonenya dan mengirim pesan pada Jacob -kakak dari pemuda itu.
Jacob
Setau gue gk ad maslh yg mengharuskan Jaeran bertindak apapun.
__ADS_1
Read
Si cewek mengusap dagunya bingung. "Mungkin gak sih, Jaeran mikirin omongannya sendiri?" Tanya, cewek itu mendadak. Membuat pemuda disampingnya bingung dan mengerut heran, ada pikiran itu tapi otaknya terlalu dangkal.
"Mungkin, mungkin ajh si," jawab, pemuda itu seadanya.
"Otak lu nyampe gak si?" Sungut Jaesi yang melengos pergi, cowok itu terkekeh dan menggeleng pelan. Kadang disaat kaya gini kenapa otak cerdasnya gak berguna ya?
"Seperempatnya kali ya," sahut, Darren yang tak menjawab dengan serius.
Gadis itu merunduk memainkan handphonenya sembari melirik jalan yang ramai akan kendaraan, ketika gadis hampir tertabrak. Jaesi dengan spontan salto ke arah belakang Darren dan membuat pemuda itu tenganga kaget. Padahal Darren tinggi tapi lompatannya nyaris tak jatuh sama sekali, Jaesi mengelus dadanya pelan seraya mengatur nafasnya.
Vilanian
Sore Jaeran tak kunjung datang untuk belajar bersama dengannya, padahal perempuan itu udah menunggu lebih dari 30menit. Dan itu sangat membosankan, ia sampai menolak ajak les dari Jaeril di komplek Buaran Raya dekat dengan sekolah sang adik. Mama yang menatapnya hanya terdiam sambil mengupas kentang yang akan digoreng, mama menghentikan pekerjaannya lalu mengambil air buat puterinya.
"Cuma read, ma."
Mama melihat jam dinding yang terus berputar, sang ibunda menghela kasar. "Gak jadi kali," sahuthya, demikian lalu mengambil semua tempat lalu melengang pergi.
Jaesi jadi murung dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Tau gini gak usah ikutin kemauanya. Itu pikirnya, by the way Jaesi masih mengikuti rencana yang Jacob buat. Rencana yang menyadarkan Jaeran akan perasaannya sendiri, Jacob masih melakukan hal itu. Ya, pria jangkung itu belum memberitahu adiknya jika dirinya udah punya pacar.
Jangankan tau, buat sekedar nanya ajh langsung kesal saat dengar nama Jaesi. Gimana mau tanya kan? Suara pintu terketuk membuat sang pemilik kamar mau tak mau turun untuk membuka pintu. Pada saat buka pintu, gadis itu terkejut siapa yang datang. "... Kamu?" Kagetnya yang tiba-tiba kedatangan sang mantan.
__ADS_1
"Aloha, Jaes."
"Marco," ya orang itu tak lain adalah Marco. Cowok yang udah membuatnya malu dan menyesal telah mengenal pemuda itu. Lalu untuk apa ia ke mari? Apa tujuannya sebenarnya? Ah, perasaannya jadi tak karuan saat ini. "Ngapain?" To the point, itu yang melintas dalam otak perempuan yang lagi bete itu.
"Mau main ajh, gak boleh?" Jaesi mendelik, apa gadis itu tak salah dengar? Main katanya? Ke rumah mantan? Tanpa alasan yang jelas? Beribu pertanyaan langsung menyerang begitu ajh pada benak Jaesi seketika.
"Gak juga," santai cewek itu yang melangkah keluar menuju ruang tengah tanpa menunggu lama Marco. "Aneh ajh, ..."
"Anehnya?"
"Aneh, mana ada mantan yang mutusin ceweknya buat orang lain tiba-tiba muncul lagi ke permukaan tanpa ada niatan lain kan? Aneh gak sih?" Sindiran pedas itu langsung membuat Marco tertawa kecil dan duduk disamping Jaesi yang tidak menatapnya sama sekali.
"Iya, ya ... Aneh tapi nyata, soalnya aku masih sayang sama kamu. Kamu percaya gak?"
"Gak," dalam hati Jaesi pengen banget bilang najis ketika kata-kata laknat yang keluar dari mulut Marco itu meluncur tanpa rasa penyesalan. "... Gak ada orang yang namanya sayang tapi masih tercantum nama lain dihatinya si pemilik. Hey! Gak pernah tau ya, mantan itu lebih cocok di tong sampah!" Sungut perempuan itu menggebu-gebu disaat terakhir ia merubah tatapannya menjadi tajam. Siluet tubuh manusia yang ia kenal lewat gitu tanpa menolehkan kepalanya dengan benar.
"Kamu bisa ajh -maksudku kita bisa ajh balikan. Kalo kamu gak mikirin orang lain lagi, itu penawaran menarik lho." Harusnya Marco gak mengatakan hal itu. Emang cowok itu pikir perasaannya adalah sebuah boneka squishi yang bisa dimainin kapan ajh?
"Mending kamu pulang," usirnya yang menarik lengan cowok itu agar berdiri dan berjalan menuju pintu keluar rumahnya.
"Kamu masih gak berubah ya, masih sama. Kasar!" Ketus cowok itu kemudian menepis tangan kanan Jaesi yang hendak mendorongnya. Jaesi tak mendengarkan ocehannya itu tanpa pikir panjang lagi perempuan itu langsung masuk ke dalam rumah dan membanting pintunya dengan keras.
Blamm.
__ADS_1
Jaesi memutar bola matanya jengah ketika udah berada di dalam rumah, cewek cantik itu menyalakan televisinya dan menonton FTV SCTV. Walaupun demikian itu tak membuat rasa kesalnya pada sang mantan memudar gitu ajh,
Rasanya pengen memaki tapi entahlah apa yang harus ia maki, cewek yang lagi duduk merenung itu terlalu pening buat menghadapi ujian mantan ini. Setidaknya ada yang bisa membuatnya mengeluarkan isi hati saat ini, Jaesi menghela panjang kemudian agak sedikit melirik ke arah pintu masuk. Jaesi membrowsing tampilan warna rambut, dirinya ingin sesuatu yang beda dari sebelumnya. Karena terlalu bosen dengan gaya rambutnya yang sekarang ini banyak keputusan yang membuat Jaesi mengambil alih gaya baru dalam rambutnya.