
Jaeril membuka kamar kakaknya lalu membereskan semua barang kakak perempuannya ke tempat yang semesti sedari kepergian Jaesi kamar itu tidak dirapikan lagi, rasanya sangat rindu dengan suasana dulu padahal baru seminggu si sulung pergi tetapi rumah rasanya kian semakin sepi kadang kala mama ikut papa dan kadang juga di rumah menemaninya. anak lelaki itu hanya bisa memandangi wajah kakaknya melalui frame photo sekarang, entahlah kaya ada yang kurang setiap menitnya. Jaeril keluar rumah dengan membawa tas gak lama pemuda itu bertemu Jacob kemudian menyapanya sebentar saat pertama tidak mendapatkan respon ketika kedua kalinya baru yang mendapatkan respon dari laki-laki di depannya awalnya ia biasa aja tetapi saat mendengar pengakuan dari laki-laki tersebut jelas dirinya terkejut. "gue gak pernah mau melakukan itu tapi saat dengar permintaan ceweknya Jaeran entah kenapa rasanya agak sedikit beralasan. emang salah gue sih tadinya tapi udah jadi bubur juga 'kan? semuanya selesai dan Jaeran sekarang ke Ausie."
"Jadi sebenernya kakak gue sama Jaeran itu dicomblangi oleh orang tua kita. itu maksud loe bang?" Jacob mengangguk tapi nahasnya malah ia yang kena imbas dengan kebencian dan rasa kesal adik satu-satunya tersebut, diam sesaat sebelum Jaeril sadar kapan anak tetangganya pergi. "kapan Bang Jae pergi?"
"Seminggu yang lalu. tepatnya tanggal 6." Jaeril terkejut bukan main pasalnya sang kakak juga berangkat tanggal segitu juga apa ia beritahu saja ya saat mau melanjutkan percakapan mereka Jaeril mendapatkan telpon dari Darren; lelaki itu tetap menunggu juniornya ini menyelesaikan panggilan. Jaeril pamitan selepas berbicara sedikit dengan Jacob kemudian membuka kembali ponselnya mengirimkan pesan pada Jaesi dan beruntungnya sang kakak sedang aktif, pemuda tersebut melanjutkannya seraya berjalan dipinggir trotoar.
^^^Jaeril biadab^^^
^^^Jaeran ke Ausie loe tau gak sih?^^^
Kak Jaesi bau
gak
^^^Jaeril biadab^^^
__ADS_1
^^^brgktnya pas elo brgkt kak^^^
^^^read^^^
Jaeril menghela kesal karena cuma dibaca saja pesannya lalu menyalakan mesin mobil dan langsung menancapkan gasnya ke arah rumah Marissa. bukan hal yang aneh jika lelaki itu mengampiri gadisnya sendiri tetapi saat sampai dikomplek permata rumah keluarga Simoncelli, pemuda itu mencoba untuk menghubunginya tetapi panggilannya selalu teralihkan bahkan ia beberapa kali mengirimkan pesan pada Marissa. tiba-tiba sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan itu rupanya pesan yang dikirim dari Marissa, gadis itu tau jika pekan depan akan ada libur nasional makanya keluarganya menyusul sang kakak ke Boston. Jaeril agak sedikit merasa iri sama Marissa yang bisa kapan saja menyusul kakak laki-lakinya untuk berlibur bersama, andaikan saja Jaesi bisa seperti Marco pasti dirinya gak akan kesulitan seperti ini ... pemuda itu menelpon beberapa temannya lalu memutuskan untuk pergi nongkrong sama yang lain.
Jaesi tersenyum pada Frans, sepupunya itu rupanya sudah membelikan sebuah apartemen dekat kampus. lalu berjalan menghampiri laki-laki itu dengan kaki telanjang, bukan berarti gadis itu bakalan keluar dari rumah neneknya dalam waktu dekat ini selama ospek kampus Jaesi bakal tetap tinggal di sana. "Ça fait longtemps?" tanya Jaesi yang mencoba mencairkan suasana.
"Pas même il y a quelques minutes, je voulais juste livrer le déjeuner." ucap sepupu laki-lakinya kemudian hanya dibalas dengan senyum hangat.
"Y a-t-il une maison sous contrat ici dans laquelle mon ami peut vivre?"
"Mon ami sera bientôt là." Frans membalas senyuman dari Jaesi lalu menghela panjang, bukannya sudah pernah dijelaskan jika gak semua universitas bisa menginap di rumah selain warga sipil saja. mengapa gadis ini malah bertanya soal rumah tamu. gak mau mendebat saudari perempuannya Frans pun langsung menjelaskan ulang semua detail tentang universitas milik Darren sangatlah bagus. "Qu'est-ce qui ne va pas ? Ai-je tort de demander à nouveau?"
"Pas du tout, mais chaque université doit fournir des installations à ses étudiants. Vous n'avez donc pas à vous soucier de vos amis." Jaesi bernapas lega kemudian menutup jendela kamarnya setelah itu merapikan kamarnya sendiri, tetap saja sepupu perempuannya bertanya seperti itu walaupun bukan pendatang baru masih saja bertanya. Jaesi jalan sebentar lalu berhenti di dapur buat ambil minum hari ini rumah sedang sepi neneknya control ke rumah sakit, bibinya yang mengantarkan serta pamannya memiliki pekerjaan: gak ada siapapun di rumah bahkan gadis itu belum jalan-jalan sama sekali, dirinya juga belum ada teman baru. Darren sudah sampa Zurich.
__ADS_1
Gadis itu bersiap untuk menemui sahabatnya dirinya tau jika dari Paris ke Zurich lumayan jauh jadi akan memakan waktu sekali tetapi jarak yang ditempuh sama Jaesi gak sebanding dengan pengorbanannya selama ini. Jaesi tau jika Jaeran sudah bahagia sama pilihannya sendiri makanya gadis itu memilih pergi, Darren terlihat menahan air matanya, lelaki itu memeluk tubuh sahabat perempuannya dengan erat tapi bukan berarti mereka saling menjalin hubungan enggak sama sekali. Darren sayang Jaesi layaknya saudara sendiri, ibaratnya gadis itu adalah sepupu terdekatnya. pemuda yang lagi berdiri di dekat lampu merah itu melambaikan tangannya, gadis itu membalas lambaian tangan sahabat laki-lakinya.
"Nyai!!!! kangen!!!!" ujar cowok berdimple itu dengan dramatis kemudian Jaesi terkekeh ringan lalu membalas pelukan tersebut.
"Gue emang nganenin kok."
"Hilih! gui iming ngininin kik! Jaeran juga kangen elo bodoh!" Jaesi meringis pelan mendengarnya lalu memukul pundak cowok itu dengan kencang, Darren senang bisa mengolok gadis ini lagi rasanya kalo gak ada Jaesi dirinya seperti kurang.
"Udah ngabarin ortu?"
"Belum, tapi nanti malam pasti ngabarin." Jaesi agak sedikit cemas dengan sahabatnya ini, soalnya Darren gak bisa hidup tanpa sarden buatan ibunya apalagi sekarang pemuda itu sedang berada jauh dari rumah. "gue kangen sarden ibu." nah 'kan Jaesi sudah menduganya pasti akan kaya gini mana bisa cowok ini jauh dari menu favoritnya.
"Udah bisa ngomong bahasa orang sini?"
"Lain yang akamsi." cibir pemuda berdimple itu yang kemudian menyeruput minuman milik sahabat perempuannya ini lalu menghela pelan saat mendapati Jaesi tengan melamun sendiri, Darren tau gadis itu sedang berada di tempat lain pikirannya. gadis itu bahkan gak menyentuh sedikitpun sajian makanan yang ada di atas meja hanya butuh beberapa menit buat memikirkan Jaeran gak lama ponsel cowok di depannya berdering dengan bernamakan orang di dalam kepalanya. "nyai," panggil pemuda itu perlahan.
__ADS_1
"Angkat aja gak apa-apa. gue bakal diem."
"Loe gak mau ngomong? dia nanyain elo terus." Jaesi diam sesaat lalu mencari kesibukan lain Darren tau gadis itu tersisak atas semua ini tetapi bisa gak sih menyingkirkan egonya sebentar aja buat Jaeran, sampai detik ini gadis itu masih belum mau berbicara sama teman masa kecilnya itu.