
Jaesi menganga seketika saat melihat namanya tertera di manapun. Gelas freecus, yang tertera namanya, sticker pun tertera inisial namanya. "Gue curiga dia fanboy gue," gumam, gadis itu yang mengusap-usap dagunya.
Jaeran tidur dengan nyenyak. Gadis itu melipir ketempat lain dan melihat beberapa bingkai foto di atas nakas meja. Jaesi mencetak senyum kecil. Wajahnya menoleh ketika suara berat menginterupsi dirinya. "Jaes, ntar malam keluar sama gue ya?" Pemuda itu membuka matanya sayu ala orang bangun tidur.
Jaesi masih menatap muka cowok yang baru bangun itu dengan serious. "Sama Cilla?" Tanya, Jaesi yang sontak membuat raut wajah pemuda itu berubah.
"Berdua. Loe dan gue." Jaeran menekankan kata berdua diakhir kalimatnya tersebut.
Gadis itu diam sejenak lalu berpikir untuk menerima atau menolaknya. Jaesi menatap lekat Jaeran yang juga menatapnya penuh arti, Jaesi ingin berteriak mau di dalam hati. Namun karena gengsi, ia hanya mengangguk saja. "Okay," terima gadis itu lalu duduk dipinggir kasur.
"Ntar malam gue ke rumah loe. Gak usah dandan, loe ... Udah cakep." Sahut, Jaeran dengan cepat dan beringsut dari ranjang lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Jaeran menatap panggangan dengan serius. Gadis itu mencoba menetralkan racun yang ada dihatinya, setelah beberapa waktu lalu dia menghabiskan waktu bersama dirumah keluarga Smith. Tetapi pemuda itu tetap mengajaknya jalan-jalan keluar mengelilingi mall, walaupun tau tadi sesiangan sudah main bareng. "Jangan lobster, serbuk marimas." Tegur, cewek cantik itu yang gemas karena dari tadi Jaeran tak mendengarkannya.
"Biar, pintar," sahut, pemuda itu santai. Jaesi memutar bola matanya malas.
Meski dilihat dari segi apapun. Jaeran tetap terlihat tampan, mau dia tidur, makan, ngopi-ngopi ataupun lagi nongkrong sekalipun. Dia tetap tampan, "gue emang pinter." Cibir, gadis itu tak acuh.
Pengin gitu rasanya Jaeran berteriak di depan wajah cewek itu dengan keras. "Iya, gue tolol gara-gara loe!" Tapi sayangnya nyalinya tak sebesar itu.
Cewek itu meringis ketika pemuda yang ada di depannya itu menatapnya dengan tatapan tajam. Jaeran juga tak mau memperpanjang masalahnya sendiri, Jaesi memandang sambil termangu memandangi wajah cowok itu. Helaan nafasnya kian berat, saat gadis itu sadar jika Jaeran tengah memperlakukannya dengan cara yang berbeda. "Abis ini ke mana?" Tanya, cewek itu yang memecahkan keheningan agar tidak terlalu canggung.
__ADS_1
Pemuda itu menolehkan kepalanya sesaat lalu menyodorkan pangsit goreng miliknya. "Terserah, ke mana ajh. Asalkan sama loe," ucapnya sambil menyeruput teh hijaunya. "Nih, kurang baik apa gue jadi cowok." Celetuk, Jaeran yang menaruh pangsit goreng itu diatas nasi gadis itu.
Jaesi mendelik tajam ke arahnya. Lalu mencibir kecil, dan melahapnya dengan raut wajah kesalnya, Jaeran menahan senyumnya saat liat hal itu. "Tirsirih kimini iji isil simi li, NAJIS!" semprotnya kesal.
Jaeran dan Jaesi akhirnya muter-muter dulu ke tiap-tiap toko yang ada Mall. Sejauh ini belum ada yang menarik perhatiannya cewek itu, ia masih melihat-lihat apa ajh yang bagus di dalam toko itu. Sampai Jaeran jengah dan menyuruhnya memilih asal barang yang mau mereka beli. "Udah si yang mana ajh," ujarnya, sambil masih memegang cup teh hijau tadi.
Jaesi melotot dengan perkataan cowok itu, cewek itu mengeplak asal kepala cowok itu hingga Jaeran mengaduh kesakitan. "Milih barang itu kudu teliti! Emang loe mau kalo misalnya loe milih asal terus gak sesuai selera? Mau? Milih barang itu kea milih pacar, telilti!" Sahut, Jaesi yang menekankan kata teliti diakhir ucapannya.
Jaeran mendengus dingin lalu melihat-lihat kesekeliling toko itu. Atensi pemuda itu jatuh pada satu benda yang kecil tapi terkesan simple dan gak terlalu cewek banget. "Mba saya ambil ini, jadiin satu ajh sama barang cewek itu." Tunjuk cowok itu ke arah Jaesi yang lagi nyoba sepatu cats.
"Baik, mohon ditunggu ya."
Jaesi menghampiri pemuda itu dan menanyakan pendapat pemuda itu tentang barang yang akan dirinya beli. "Menurut loe cakep warna apa? Toska apa mint? Yang Toska belum punya si tapi mint keliatan lebih feminim kan?" Jaeran mengamati dengan seksama dan ia menjatuhkan pilihan pada warna mint.
Namun pemuda membeliak kesal saat Jaesi malah memilih warna awal dan kembali lagi ke depan begitu ajh. "Okay! Warna Toska!" Serunya, riang dan berlari ke depan.
"Tadi gak usah minta pendapat Maemun!!" Cewek itu memeletkan lidahnya meledek lalu masuk ke ruang ganti pakaian. Jaeran menggelengkan kepalanya tak habis pikir, cowok itu melirik jam tangannya lalu berpikir untuk mencari tempat singgahan selanjutnya.
Jaesi keluar dari ruang ganti lalu menunjukkan pilihannya pada cowok yang sedang berkutat dengan ponselnya tersebut. "Tadaa!!! Gimana?" Pemuda itu masih belum menolehkan kepalanya menghadap kearahnya. "Woy! Liat sini!"
__ADS_1
"Bagus, bagus," katanya asal tanpa melihat lagi.
"Tapi kea terlalu tranparan gak si–" Jaeran menyela pembicaraan mereka dan itu membuatnya tidak suka. Jaesi mendengus dingin kemudian mengganti lagi pakaian lalu meninggalkan cowok itu sendirian.
Sensitif. Itu yang lagi dirasakan oleh Jaesi saat ini, setelah memberikan barangnya pada pramuniaga toko. Saat dalam ruang ganti pakaian, Jaesi melihat ada bercak merah dikaos putihnya. Gadis itu terhenyak dan menonjolkan kepalanya, meminta agar salah satu pramuniaga toko memanggil temannya itu. "Mba, tolong panggil temen saya." Pramuniaga itu mengangguk, "yang duduk di dekat kaca ya mba." Lanjutnya yang kembali masuk ke dalam ruangan.
"Jaes?" Panggil, Jaeran.
"Jae, minjem jaket loe!" Pekik, Jaesi dari dalam sana. Jaeran memberikan jaketnya lalu menyelipkan tangannya ke pinggir tirai itu.
"Nih,"
"Thanks, yeah." Cewek itu mengikat jaket pada bagian bawah yang menutupi noda tersebut.
Pemuda itu menatapnya dengan tatapan mata heran. Gadis itu melengang begitu ajh tanpa mau memberikan keterangan kepada si cowok. Jaeran hanya membuntutinya dari belakang sambil memperhatikan kondisi Jaesi yang lagi tidak terlalu bersemangat. Cewek itu membelokkan arahnya ke supermarket lalu melangkah menuju rak perempuan. Jaeran membola seketika, tak kala melihat apa yang dibeli perempuan itu. "Loe-!" Jaeran masih terlalu syok buat hal tersebut.
"Berisik!" Ketus, cewek itu. "Abis gini pulang!" Respon, Jaesi tak baik.
Jaeran mengangguk sambil menenteng tas belanjaan mereka. Cowok itu memberi space untuk Jaesi yang ingin ke toilet dulu, untuk urusan perempuannya. Cewek itu hampir menangis karena hormonalnya yang hancur lebur saat itu.
__ADS_1
Jaesi tentu akan merasa senang jika itu benar-benar untuknya namun tak sama sekali lagipula buat apa Jaeran mengatakan hal yang sangat tak ada artinya itu.