
Jacob cukup kaget dengan pernyataan itu bukan tanpa sebab ia menautkan alisnya seperti ini bahkan dalam waktu yang lama sekalipun tetapi dirinya hanya berusaha tetap tenang agar situasi tidak semakin sulit. Jaesi menghela lelah kemudian tersenyum seperti tidak terjadi apapun terhadap hidupnya: menurut Jacob ada yang salah dengan perempuan itu tetapi penglihatannya juga masih normal ... satu hal yang saat ini ia ketahui. Gadis itu tak lagi memedulikan adiknya. "gak usah sedih gitu, gue pasti sering main ke indonesia kok." Jacob masih tak merespon apapun lalu berjalan mendekatinya kemudian memeluknya begitu erat.
Jaesi pamit untuk pulang lalu memandang sekeliling dengan saksama pasti dirinya akan merindukan suasana indonesia, gadis itu gak mungkin mengulang kisah yang sama. Namun saat itu dihati Jaesi terasa seperti dicubit dalam tangisnya sendiri, "apa sebenarnya elo tuh gak bisa jauh dari Jae?" gumam Jacob pelan yang menutup pintu rumahnya. Jacob menelpon adik laki-lakinya setidaknya Jaeran harus mengetahui segalanya meskipun gak banyak yang dapat ia bantu.
Malam ini Jaesi menenggalamkan kepalanya tepat dibawah bantal seraya memandangi jendela luar kamar, suasananya begitu terasa berbeda jadi hanya satu saja yang dapat gadis itu lakukan. Jaeril memanaskan motornya lalu menggas rem tangannya, lalu menjalankan cepat motornya begitu saja. Jaesi tau sikapnya sudah terlalu jauh pada teman masa kecil namun ada kalanya gadis itu harus menjaga batasan yang dirinya sendiri buat.
Dilain tempat ada sosok Jaeran yang tanpa cek kabar bahwa gadis itu telah pulang ke indonesia. Jaeran sedang bersama teman-temannya saat ini tentunya bukan di kampusnya sendiri: Jaeran begitu menantikan kepulangan teman kecilnya namun itu tak berarti bagi Jaesi yang sudah melupakannya, mungkin. Pertunangannya sama Cilla tak berakhir bahagia tentu saja itu semua membuatnya menyesal karena telah meninggalkan sahabat kecil sendiri. Bagi Jaeran mereka hanya sekumpulan pemuda yang dipisahkan negara disatukan dengan kota kelahiran yang sama. Tak berarti bagus bagi sosok seperti Jaeran bahkan dirinya berkuliah di Ausie dan kedua temannya tinggal dilain negara.
Sebenarnya kata kebetulan itu tidak ada bagi pemuda yang memang tak memiliki kisah sempurna seperti temannya. Tetapi hal yang membuatnya percaya jika itu ada sesungguhnya harapan kecil yang dirinya yakini. "Aku tidak pernah meminta lebih tuhan tetapi jika engkau memberikan kesempatan agar aku bisa bertemu dengannya lagi. Aku ikhlas merelakan gadisku pergi." Lelaki itu melupakan satu hal terpenting dalam kehidupan ini ya itu adalah kepercayaan.
Besok pagi Jaeran harus kembali ke negara yang menjadi tempatnya menimba ilmu, "apa kalian yakin balik sekarang?" Narendra seakan tak rela jika teman-temannya pulang ke tempat di mana mereka akan berpisah demi pendidikan seperti ini.
"Yakin," ujar dari Jaeran.
"Kenapa buru-buru banget sih?" Bayu menghela panjang yang langsung menoleh ke arah ponsel di mana lockscreennya terpampang wajahnya dan sang kekasih. "Apa tak sebaiknya menginap satu hari lagi saja?" terdengar aneh tapi memang begitulah kenyataannya.
__ADS_1
"Tak bisa," pungkas Jaeran dengan tegas.
Pemuda itu sadar masalahnya tak mungkin diselesaikan dengan gampang sebelum perasaannya semakin dalam dan semua sudah terlanjur basah ... mungkin dengan mengembalikan apa yang seharusnya penyesalan terpendamnya tak akan memersulit jalan takdirnya. Jaeran menghela menatap grup chat teman-teman sekolahnya yang mulai ramai akan berita mengenai Jaesi: lelaki itu tau bahwa tak ada lagi tempat untuknya meminta kembali pada gadis tersebut.
Bukankah aneh jika Darren tau sesuatu tapi enggan mengatakan padanya? rasanya seperti ada yang terjadi di luar dari dugaannya. Jaeran mengirim pesan pada pemuda yang kerap kali memberikannya informasi tentang Jaesi namun sepertinya kali ini Darren gak memberikannya info apapun. "hallo, kenapa?" lelaki itu terkejut dengan kabar tersebut lalu ia mengepalkan tangannya kuat. Sepertinya Jaesi benar-benar enggan buat menganggapnya ada di dalam kehidupan gadis itu. Jaesi seperti sedang menghapus bayangannya dari hidupnya, sebab sudah sampai sejauh ini gadis tersebut melakukan semuanya sendiri.
Terbukti jika bukan karena teman-teman seangkatan pasti laki-laki itu gak akan pernah tau keberadaan Jaesi. "cepetan balik Jaesi cuma dua minggu di Jakarta." ucap Risky yang meyakinkan temannya itu: Jaeran mengulum bibirnya kasar kemudian mengusak surainya dengan frustrasi.
Cilla menghela pasrah ketika kedua orang tuanya meminta dirinya kembali ke indonesia. Dengan cara apa cewek itu memastikan semua hubungannya tak akan kandas bersama sang kekasih ... kegelisahannya akan terus muncul jika Jaesi masih menghantui kehidupan Jaeran. "apa yang harus aku lakukan biar Jaeran percaya kalo kehamilan ini sungguhan. Dia pasti gak akan mau berikrar jika itu gak nyata." gumam gadis tersebut gusar.
"Tante baik-baik disini jangan sampai babynya sakitnya."
"Thanks sweat heart." Cilla menutup jendela mobil dan menyandarkan tubuhnya pada jok belakang kursi mobil. Gadis itu masih diliputi rasa cemas oleh sang kekasih, pasalnya Jaeran sama sekali gak mengangkat panggilannya. Bahkan pemuda hilang kabar seperti sebelumnya; Cilla sudah gak sabar bertemu dengan kedua orang tuanya. Betapa rindunya gadis itu terhadap rumah.
Jacob merenung menatap perusahaan sang ayah seberapa besar saham yang lelaki tua itu taruh menggunakan namanya? sampai-sampai banyak sekali investasi yang dirugikan. Rupanya kehidupan lelaki tua benar-benar sudah bau tanah. "ayah ngapain aja selama ini sampe perusahaan rugi banyak? masa udah tua judi?" seloroh sang sulung yang memasuki area kantor. Apa gak aneh jika baru masuk sudah memerintah? tentu saja enggak kan anak yang punya perusahaan jadi bebas. "tolong panggil seluruh tim investor untuk rapat." titah Jacob pada sekretaris ayahnya.
__ADS_1
"Baik, pak." seusai rapat. Jacob kembali memantau cafenya melalui sang sekretaris kemudian menghela panjang seharusnya Jaeran ada di sini untuk membantunya sembari belajar bisnis ... bukannya malah mewujudkan cita-cita sang bunda.
Jaesi hampir melupakan medical chek upnya lalu gadis itu segera memasukkannya ke dalam tas sepertinya si sulung akan ke rumah sakit hari ini agar bisa memeriksa keseluruhan kesehatannya setelah mendapat penerbangan nantinya. Jaesi meminta sang adik menyiapkan motor lalu meletakkan kunci di atas nakas dekat pintu. "Jaeril!" panggil cewek itu dengan tergesa-gesa.
Gak ada sahutan dari yang punya kamar. "Ril! Jaeril! Jae— lha molor." Jaesi mendengkus kesal kemudian membangunkan lelaki tersebut.
"Apa sih!" gerutu Jaeril dengan kesal.
"Bangun."
"Nanti ah! Gue baru tidur subuh tadi!"
"Whoa! Gak solat lu ya?!" seru Jaesi dengan wajah dramatis namun gak membuat sang adik bergeming dari posisinya. "woy bangun! Gue kan mau chek up! Ayo anterin!" teriak gadis itu bar-bar.
"Enak aja!! Sendiri sana kan udah kuliah gak usah manja." ujar Jaeril malas yang sembari mengubah posisi tidur: Jaesi masih berusaha memaksa adiknya itu segala cara dilakukannya namun tetap saja Jaeril dengan kebluknya gak mengindahkan segala upaya sang kakak. Jaesi menghela panjang dan berlalu begitu saja tanpa memikirkan apapun lagi ... rupanya sang adik tumbuh menjadi lelaki kurang adab.
__ADS_1
"Dasar no adab!" Jaeril langsung membuka matanya mendengar hinaan sang kakak kemudian berlari mengejar Jaesi yang dengan secepat kilat lari tanpa basa-basi ... Mama yang melihat tersenyum simpul melihat kedua anaknya kembali berkumpul.