
"Gue ditampar aspal tadi, iya, bener-bener." Jaeran gak percaya cowok itu tau kalau Jaesi lagi mengelabuinya, ia masih berusaha sabar sampai pada akhirnya gadis itu mengatakan yang sebenarnya. "Cilla, orangnya Cilla." jujur saja Jaeran terkejut, "cepetan jadian biar gue gak ngimbas lagi." Jaesi hanya bilang kaya begitu saja sudah membuat hatinya sakit. Agak kaget pada saat Jaesi mengatakannya tapi percaya atau enggak ya memang begitu kenyataannya sampai gak sadar kedua terlelap dalam dunia mimpi alias tidur, Jaeran sudah bangun dari tidurnya ia menatapi wajahnya sahabat perempuannya yang masih terlelap, Jaesi sampai rela gak masuk kelas hanya karena menemaninya.
Gadis itu juga gak makan siang ini, cowok tersebut mengusap dengan kasih sayang saat ada yang masuk ke dalam sana Jaeran kembali memejamkan matanya ... Marco. Cowok tersebut menggendong Jaesi lalu menatapnya dengan seringai licik, bahkan Jaeran masih bisa melihatnya jelas sekali. Jaesi terperanjat saat bangun sudah ada di dalam mobil dan orang di sampingnya sedang mengatur nafasnya karena berat badan gadis tersebut, pas mau keluar Marco menahannya. Pemuda bilang dirinya gak serius minta putus kala itu bahkan ia gak sempat meminta maaf sama Jaesi karena bersikap kurang ajar, tapi gadis yang duduk dibangku sebelah menganggap hal ini cuma candaan. Masih sayang? iyalah, siapa yang gak sayang sama mantan kaya Marco tapi memang Jaesi saja merasa bodoh karena mencintai dua pria sekaligus. "Kalo gue ngajak balik mau gak?" cetus gadis itu tanpa jaim-jaim lagi.
"Loe gak salah?" Jaesi menggeleng cepat selama perjalanan ke arah kelas sama sekali gak ada omongan itu lagi. Tapi mimik wajah Marco kelihatan serius banget, lagi asik jalan tiba-tiba kedengaran suara microfone radio yang biasanya tempat Jaeran siaran. Jaeran kaya sudah gak ada ide lagi, cowok itu memutar luka yang kurindu kemudian mengutarakan perasaannya sama Cilla ... itu berakhir jadi bahan ledekkan satu sekolah kurang romantis apalagi Jaeran, bahkan cowok itu sudah menyiapkan buket mawar. Jaesi tercenung di tempatnya apa mungkin dirinya bukan ditakdir sama cowok disukainya, persahabatan macam apa yang mengorbanan perasaan kaya begini. "Loe nangis? Kalo loe mau kita balikkan, gue bisa kok berpura-pura di depan Jaeran."
"Gue maunya beneran, bukan pura-pura." Marco kehabisan kata-kata gak ada cewek yang mau balikkan tanpa waktu lama dan rata-rata itu butuh bertahun-tahun. Tidak kaya mereka berdua yang baru putus bulan lalu sudah balikkan bulan ini, itu sangat mustahil apalagi Vanilla masih bersamanya. Marco terus berpikir dari tadi, di mana harga diri Jaesi yang selalu memintanya kembali bersama, tapi cowok yang menatapnya tersebut gak mau menyusahkan gadis ini lagi anggap saja ia ingin Jaesi bahagia ... gak sakitin gadis itu lagi.
"Pura-pura, gue mau kita pura-pura."
__ADS_1
"Ko," lirih Jaesi agak sedikit memelas.
"Pura-pura atau gak sama sekali."
"Kenapa harus pura-pura! Loe gak mau sama gue lagi?! Ko jangan egois!!" pekik si gadis emosi dan gak peduli kalau satu sekolah memerhatikannya, Marco menghela panjang lalu melengos pergi.
Jaesi mengusap wajahnya pelan seraya membuang nafas kemudian lanjut berjalan selagi masih di depan lapangan pandangan matanya hanya tertuju pada satu sosok saja, Jaeran. Hanya Jaeran. Tapi ketika menatap ke arah lain terdapat Cilla sedang menyemangati.
"Gue sayang Marco tapi cinta Jaeran. Marco tukang selingkuh terus Jaeran suka ngasih harapan, gue kudu apa?!" Jaeril mengusap wajahnya yang terkena puncratan air liur kakaknya sendiri, helaan adik laki-lakinya begitu berat.
__ADS_1
"Duduk dulu terus habis gitu minum, kemudian tarik nafas." Jaesi mengikuti saran adiknya dan bercerita kejadian hari ini saat berada di area sekolah, Jaeran terkejut ketika mendengar semuanya setelah itu memukul kepala kakaknya dan mengatainya dengan keras. Jaeril gak habis pikir sama sifat kakaknya ini kenapa terus saja bertindak gegabah dan gak pikir panjang ... aneh saja ketika mendengar cerita kakaknya yang kalau bicara kaya lagi ngerap. "Oy! bisa pelan-pelan gak?! gak lagi mau konser, kan." Jaesi menggeleng pelan dan melanjutkan ceritanya sampai gak sadar kalau mamanya datang dari arisan.
Setelah dengar keseluruhan cerita kakak perempuannya itu kemudian laki-laki berkulit putih tersebut menatap Jaesi dengan kekesal yang membeludak. "gue harus gimana?" Jaeril gak mengerti lagi sama jalan pikiran kakaknya sendiri.
"Yang mutusin bang Marco? terus elo yang ngajak balikkan? elo bego!" Jaesi kaget saat Jaeril mengatainya kaya begitu, tapi ya sejujurnya memang dirinya terlalu bodoh kalau seakan gak punya otak tapi malah mengandalkan perasaan. Gak salah juga jikalau adiknya mengatakan hal seperti itu. "elo kalo punya otak dipake makanya! Jaeran sahabat elo bodoh, kenapa malah jadi cinta. Bahlul emang! lah Marco marah wajarnya orang punya cewek ogebnya gak ketolongan."
"YA TERUS GUE KUDU APA!!?"
"YA GAK NGAPA-NGAPAIN!! Udah biarin aja mereka berbuat seenaknya, mantan tuh biasanya susah move on. coba aja kalo elo glow up belum-belum udah minta balikkan, lain kali dipake otaknya." sarkas adik cowoknya yang melengos pergi ke dalam kamar dengan omelan-omelan sayang, Jaesi mengulum bibirnya lalu tersenyum tipis dari luar perempuan yang tengah berjalan ke dapur itu berteriak agar adiknya mau memakan masakkan dirinya. Tapi belum-belum sudah disuruh pesan makanan keluar, Jaesi sungguh memasak buat adik satu-satunya yang paling ia sayang.
__ADS_1
"Dimakan! jangan gak dimakan, gue pecat jadi adik tau rasa loe ya!!" pekik gadis itu yang masih berada di dalam dapur. Jaesi berusaha sekali kalau sudah memiliki keinginan sesuatu pasti akan ia dapatkan, namun Jaeril gak yakin sama cita rasa makanan yang dibuat kakaknya.
"Makan aja sendiri!! gue gak mati keracunan!!" namun Jaeril membalasnya dari dalam kamar tapi kalau diperhatikan lagi, keduanya sering sekali bertengkar di manapun mereka berada. Jaeril dan Jaesi melanjutkan adu mulut mereka yang benar-benar gak berkesudahan, kedua bersaudara itu semakin menjadi saat Jaesi ada di depan pintu kamar sambil menendang kamar adiknya sendiri ... Jaeril berteriak rusuh di dalam sembari membaling bantalnya di arahkan ke pintu.