Vilanian

Vilanian
5


__ADS_3

Jaesi memutar bola matanya menahan geram ketika mendengar cibiran anak-anak lain, sebenarnya ia tidak tau duduk permasalahannya apa. Akan tetapi dirinya juga tak bisa menahan diri untuk tidak kesal ketika mendengar omongan jelek' dari orang lain apalagi mengenai pacarnya sendiri. Sejujurnya ia tidak suka jikalau orang terdekatnya yang mengatakan hal itu apalagi jika orangnya adalah Darren. Jaesi mengepalkan tangannya kuat seraya menarik ujung kerah lelaki itu dan menatapnya tajam.


Darren tak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Marco namun pada kenyataannya sekarang pemuda yang lagi menjalin hubungan dengan gadis di depannya itu memang memiliki niat buruk, ... Darren merasa sudah beruntung tak memberitahu Jaeril atau Jaeran. "Bisa gak jadi banci?! Hadapi gue kalo berani!!" bentak sang gadis yang membuat Darren terkejut.


"Jaesi, Jaesi, .... Mata loe udah ketutup sama cinta! Dia bahkan lagi sama cewek lain Jaesi!!?" balas Darren yang tak kalah meninggi. Gadis itu sudah benar-benar hilang kesabaran, Jaesi menghantamkan satu pukulan pada pelipis kiri pemuda itu. Marco tersenyum menyeringai melihat pertengkaran antara sahabat itu, Darren yang menangkap gerakan itu terkepal kuat dan mendesis nyeri. Marco tersenyum menang dikala itu lalu melangkah mendekat ke arah keduanya untuk melerai.


Darren tersenyum padanya saat itu, lalu berkata. "Cara loe licik man, ..." satu hantaman melayang tanpa hentinya, gadis itu itu kalap hingga melupakan semuanya. Sorakan dari orang sekitar membuat suasana semakin memanas, Darren bahkan melawan gadis itu tanpa pandang bulu sekalipun. Gadis itu berlari mengejar lelaki yang tengah menjauhinya, namun keduanya terjebak pada derasnya arus hujan yang membuat keduanya merenggang nyawa satu sama lain.


Jantho berteriak meminta tolong kepada siapapun agar dapat menghentikan pertikaian keduanya, namun tidak ada satupun yang bisa menolongnya. "Loe gak lerai mereka?!" teriak pemuda itu pada Marco.


"Ini seru man!"


"Loe gila'!? Ha!! Itu cewek loe Marco!!?" Jantho menerobos hujan deras itu untuk melerai keduanya yang sama-sama sudah dipenuhi oleh luka lebam, tak ada yang bisa pemuda itu lakukan untuk saat selain memanggil Jaeran.

__ADS_1


Jantho terus berlari mencari Jaeran yang masih asik ngebucin bahkan sampai detik ini lelaki itu tetap saja tidak mau menanggapi pertikaian yang terjadi, Marco asik menonton hingga tak mau repot-repot melerai. Apakah lelaki itu merasa tersanjung karena dibela? Tentu saja tidak. Lelaki egois itulah yang membuat keduanya saling berseteru seperti ini, ... sepanjang perjalanan menuju kantin umpatan-umpatan itu terus saja keluar dari mulut pemuda humoris itu.


Sementara itu salah satu murid sudah memanggil guru dan membubarkan massa, "ada apa ini! Bubar!! Jaesillya Pearce! Darren Criss Tian! Kalian berdua ikut bapak keruangan guru!" Jaesi menghentikan pertengkaran itu lalu melangkah mengikut pak Joko yang masih berada di depannya.


Jaeran menghela panjang saat melihat Jantho dengan tatapan killernya, pemuda itu tak bergeming dari tempatnya. Jaeran masih tetap berada dihadapan Cilla yang tengah menatap Jantho bingung, ... "Ikut gue dulu bentar, ini penting." ujar Jantho yang menarik lengan pemuda itu.


"Gak bisa, loe gak liat gue lagi sama siapa? Cilla! Dah sana," usir Jaeran yang hendak melanjutkan aktivitasnya itu. Namun Jantho tak menyerah sama sekali ia benar-benar menarik lengan panjang Jaeran dan berjalan ke arah lapangan basket, ... Saat sampai sana tak ada siapapun dibawah guyuran hujan tersebut, Jaeran mendengkus jengkel seraya menepis tangan temannya itu lantas berjalan kembali menuju kantin.


"Ngadi-ngadi loe, mana yang loe bilang penting!" gerutu pemuda itu kesal, Jantho menampilkan wajah rumit dan tak mengerti.


"Buktinya gak ada!" Jantho mengulum bibirnya kelu dan tak banyak berkata, lelaki itu kehabisan tenaga hanya untuk mencoba memberikan pembelaan diri terhadap apa yang ia lihat tadi. "Adain dulu itu bukti! Baru loe panggil gue! Jangan loe panggil gue kalo gak ada bukti. Gue cabut." Jaeran melangkah pergi meninggalkan tempat itu dan Jantho yang mencerna semuanya.


Saat kembali ke dalam kantin langkah pemuda itu berbarengan dengan langkah seseorang yang juga ikut bersamanya dibelakang sana, Marco dan sang adik kelas favoritnya. Vanilla. Ketika sampai sangat kebetulan yang pas keduanya begitu dekat dalam satu meja yang sama, Jaeran tanpa sengaja menolehkan kepalanya ke arah samping, saat itu wajahnya memias ketika melihat sosok yang selalu membuat ia dan Jaesi ribut ada bersama cewek lain. Jaeran mengepalkan tangannya kuat lalu melangkah mendekat ke arah Marco detik berikutnya lelaki itu telak melayangkan sebuah hantam keras, suara memekak memenuhi kantin. Para siswa kelas lain hanya diam dan menontonnya saja.

__ADS_1


Cilla berusaha melerai keduanya namun tidak sengaja Marco mengenai rahangnya, dan itu semakin membuat pemuda tersebut membabi buta atas tinjuannya tersebut. Jaesi memutar bola matanya malas saat melihat Darren yang tampak telaten merawat luka diwajahnya, "ayo ibu masih mengawasi kalian!" teguran Bu Ani masih tampak begitu semangat dan lantang disampingnya.


"Gue minta maaf," malas Jaesi tak ikhlas dengan ucapannya. Bu Ani menyentak kayu rotan ke atas dinding dan memelototi keduanya dengan galak.


"Darren aku minta maaf, ..." ujar Jaesi yang mencoba bersabar dengan sikap gurunya itu.


"Aku juga minta maaf," sahut Darren seraya menekan kata yang sama pada gadis itu. Darren menekan lukanya hingga gadis itu meringis kesakitan, dan menepis tangan pemuda tersebut.


"Sakit Dar!" serunya memincingkan matanya kesal. Bu Ani masih mengawasi mereka kemudian sang guru memberikan sedikit hukuman dengan memberikan tugas anak olimpiade sains pada mereka. Kontan saja itu membuat keduanya menganga lebar lalu menggeleng menolak hukuman itu, ...


"Kalian menolak? Hukuman kalian ibu tambah, bersihkan ruang laboratorium IPA dan gudang perlengkapan olahraga. Mau nolak juga?" Jaesi semakin menelan salivahnya kasar, sedangkan Darren mengusak rambutnya gemas.


Salah satu anak murid ada yang kembali melaporkan terjadi pertikaian dikantin, Bu Ani yang lelah dengan anak-anak itu langsung bergegas pergi menuju kantin dan meninggalkan Darren dan juga Jaesi yang masih menatapnya heran. Ruang kesehatan kembali sepi dan hanya ada mereka berdua di sana, suasana semakin canggung dan tak terkendali. "Gue benar-benar minta maaf," ucap Jaesi yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Gue juga minta maaf— lho Jaeran!" pekik Darren yang terkejut dengan kedatangan pemuda itu, masih merasa heran dengan apa yang terjadi membuat Jaesi ragu untuk menolehkan kepalanya seraya menarik satu sudut alisnya.


"Marco!!" teriak gadis itu terkejut ketika melihat sosok Marco yang tak sadarkan diri. Baru saja tadi ia bertengkar dengan Darren mengapa tiba-tiba kedua orang itu terlihat kacau dan rumit? Apa ada sesuatu yang ia lewati saat berada dikantin?


__ADS_2