Vilanian

Vilanian
Epilog


__ADS_3

Jaeril menatap batu nisan dengan bertulisan nama orang terdekatnya. Helaan berat menguar sudah setahun sejak kepergian kakaknya rumah terasa sunyi setiap malam lelaki itu memutar semua video yang berisikan tentang mendiang sang kakak. Jaeril menebar bunga mawar ke seluruh gundukan tanah itu, kini usia lelaki menginjak 18 tahun. Jaeril hampir menceritakan segalanya tiap kali datang ke pusara kakak perempuannya. Selama ini adik dari Jaesi itu sudah cukup bersabar dengan tingkah Jaeran yang kerap kali membuat kakaknya sering menangis ... bahkan dirinya selalu memberikan toleransi terhadap pemuda yang selalu mewarnai hari kakak perempuannya.


Hari ini Jaeril akan menemui seseorang yang menjadi pendonor mata sang kakak. gadis remaja yang pernah Jaesi temui itu bersekolah di tempatnya menimba ilmu, "halo, Jul?" sahut lelaki pada orang diseberang sana.


"Elo tau anak kelas X kan? Ada yang mirip wajah kakak elo!?" pekik Julian heboh. Jaeril mengulum bibirnya lalu mendengkus kecil bahkan dirinya tau siapa nama gadis itu; bagai mana dirinya bisa tau? Jaeril membuka semua jurnal peninggalan sang kakak. Jaesi sempat berpesan agar kalau terjadi apa-apa padanya sang kakak ingin memberikan jantung serta matanya pada dua orang yang mau gadis itu bantu.


"Ya udah, ntar lagi gue tutup soalnya masih dimakam." sesampainya dirumah Jaeril menatap rumah itu dengan kosong. Mama masih terlihat sama cuma agak sedikit berbeda karena penuaan, Jaeril tersenyum simpul pada mama yang sedang memasak untuknya ... sedangkan papa memilih untuk bekerja dari rumah karena tak ingin melewatkan apapun terhadap keluarganya. Pria paruh baya itu kecelakaan Jaesi merupakan kelalaiannya yang tak pernah ada waktu luang buat keluarga.


Mama meletakkan piring terakhir di atas meja makan lalu menatap ke arah pintu kamar putri sematawayangannya. "Pa nanti ulang tahun Jaesi kita rayakan dengan berbagi santunan atau adain pengajian?" ujar mama yang membuka suara.


"Santunan atau pengajian sama aja, ma. Yang penting Jaesi gak kekurangan doa kita." Darren juga suka bertandang untuk main bersama Jaeril karena adik sahabatnya itu suka mengeluh kesepian ketika mengirim pesan walau Darren kadang-kadang gak pulang ke indonesia.


Jaeran menatap kosong pintu balkon tak sangka Jaesi akan meninggalkannya secepat ini. Raganya seperti mati dengan terbawa arus perasaan duka yang selama satu tahun ini pemuda itu rasakan bahkan Jaeril tak lagi mau menerimanya. Andai saja dirinya gak berbuat nekat dan berakhir penyesalan seperti ini semua ini gak akan terjadi, sudah setahun Jaeran menghabiskan waktunya di Ausie tanpa berniat menghubungi siapapun termaksud keluarganya.


Pemuda itu memandangi pergelangan tangannya yang penuh dengan luka sayat. Gak sekali dirinya mencoba buat mengakhiri penderitaannya, benda tajam yang selalu berada di tangannya juga tak pernah jauh Jaeran letakkan disamping dari stres kehilangan Jaesi lelaki itu juga selalu diberatkan oleh orang tuanya. Dan masalah perkuliahannya. Jaeran mengatur napasnya lalu meraih obat penenang yang sudah beberapa bulan laki-laki itu konsumsi selama ada di rumah tantenya: sang tante sering memberikannya wejangan akan tetapi itu gak berpengaruh banyak pada Jaeran.

__ADS_1


Jaeran memandangi langit Melbeurne pandangan itu terlihat seperti pandangan yang kehilangan arah, dirinya selalu saja menyalahkan semua hal yang ada di dirinya sendiri. Gak cuma itu kadang Jaeran juga menutup diri terhadap teman-temannya, entah kenapa pemuda itu seperti tidak memiliki tujuan hidup. "Jaeran," panggil sang tante. "ayo makan." keponakannya hanya termenung sembari menunjukkan wajah sendu.


"Tante, apa kabar ya sama dia?"


"Sweaty, jangan seperti ini nanti dia sedih." tante Jaela berusaha untuk menghibur keponakannya meski tau itu akan sangat sia-sia sekali untuk Jaeran. Karena kehilangan merupakan duka terbesar yang pernah di alami oleh setiap orang apalagi jika itu orang terdekat mereka. Setiap kehidupan penuh dengan misteri dan itulah takdir yang harus mereka jalani meski tau hal apa yang akan menunggu tetapi setiap pertanyaan gak selalu mendapatkan jawaban dengan cepat.


Seorang gadis cantik berparas manis dengan mata indah baru saja melangkahkan kakinya di koridor sekolah barunya. Mata baru, sekolah baru dan teman-teman baru. Gadis itu mengembangkan senyumnya lalu berjalan menuju kelas hingga pada satu waktu tatapan sang gadis terhenti pada satu orang. Jaeril. Ya, gadis tersebut seakan merasa sudah sangat mengenal orang tersebut dan matanya seakan memberikan isyarat bahwa lelaki itu dekat dengan sang pemilik asli.


"Dia namanya Jaeril." gadis itu terkejut lalu mengangguk paham kemudian melanjutkan langkahnya bersama sang teman.


"Jelas! loe tau gak sih? Jaeril itu anak sematawayang lho." sang gadis mengerutkan dahi seolah tak terima jika Jaeril hanya akan dianggap anak satu-satunya tanpa ada satu orang pun tau jika pemuda tersebut memiliki sosok kakak. "Jaesy ke kantin yuk!" tanpa sadar keduanya saling bertatapan lalu memberikan tanda yang orang gak tau. Seakan mengatakan gue bahagia di sana.


"Pesenin aku sekalian. Hehe."


"Pesen apa? Telung aja ya?"

__ADS_1


"Idih kaya gak ada makanan aja si kamu." Jeno memutar bola matanya malas pada temannya lalu menghela pasrah saat gadis itu memesan porsi yang terlalu sedikit baginya. Jaeril memang the most wanted apalagi dirinya sering memenangkan kejuaran wushu dan olimpiade kimia. Sejak putus dari Marissa; lelaki itu sering banget menghabiskan waktunya buat belajar.


Jeno juga sering diajarkan banyak hal oleh Jaeril termasuk bagai mana bersikap pada lawan saat ada dipertandingan. "Jen, jangan lupa nanti latihan sama yang lain." sang adik kelas mengangguk lalu berjalan menghampiri teman perempuannya.


"Kak, nanti jam berapa?"


"Tanya yang lain. Gue gak datang hari ini ada pengajian." dulu banyak yang berpikir bahwa keluarga Pearce merupakan keluarga nonis namun mereka adalah keluarga yang paling taat akan agama ... sang kakak sampai sering hatam al-quran dan papanya mempunya hapalan yang kuat. Jeno sebenarnya agak penasaran dengan pengajian yang dikatakan oleh sang kakak kelas namun dirinya gak ada hak untuk bertanya tentang hal sepribadi itu.


Gadis itu menunggu dengan begitu tenangannya lalu menangkap jelas kehadiran temannya itu. "nungguin gue gak?" gadis tersebut mendengkus sebal lalu mengambil semua pesanannya.


"Ya kamu pikir aja sendiri!"


"Elo kenapa selalu pake aku-kamu padahal elo-gue kan gaul." gadis itu terdiam lalu teringat akan kejadian ditaman rumah sakit waktu pertama kali bertemu Jaesi kakak dari Jaeril. Entah kenapa rasanya rindu sekali dengan orang yang bahkan gak akan pernah dirinya temui lagi. Jeno melihat tingkah temannya aneh yang tersenyum sendiri jadi bergidik takut terhadap kesehatan mental teman perempuannya.


"Karena selalu terbiasa dengan bahasa seperti itu. Lagian elo-gue tuh kasar menurutku." Jeno mengangguk paham kemudian melanjutkan makannya sebelum bel masuk berbunyi.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi.


__ADS_2