Vilanian

Vilanian
34


__ADS_3

Jaeril jalan santai bahkan ia gak sama sekali keliatan kaya terburu-buru toh juga rumahnya pasti ramai orang karena banyak teman kakaknya tapi saat lagi di parkiran cowok itu tiba-tiba mematung pada saat Juliana memanggilnya, coba saja kalau ia masih menyimpan perasaan pasti sekarang berbunga banget. Juliana gak sendiri di sana ada kekasihnya yang gak pernah absen dari kepala si cewek, ah, jadi iri dirinya. Jomlo bisa apa kan kalau liat adegan mesra seperti itu, mana baru selesai pertandingan pastikan ia lelah. "Gue mau balikin jaket loe aja. Gue duluan." miris banget bukan gak ada sama sekali kesan indahnya, Juliana selalu bisa membuat dirinya berada paling bawah. Jaeril mengusap wajahnya kasar ia mengutuk Zergan dan berdoa agar temannya itu jadi jomlo abadi saja, cowok itu memandang ke arah parkiran sosok Marissa berdiri gak jauh darinya.


"Oy! Makhluk jadi-jadian, mau bareng gak?" Marissa terkejut baru saja memikirkan tumpangan sudah datang saja pemuda tersebut. Jaeril melesat ke arah jalan Sartika Dewi pemuda itu sangat hapal lokasi rumah Marco, musuhnya itu gak biasanya mau menerima tumpangan seperti ini tapi lupakan hal itu yang paling membuat Marissa merasa mau terbang adalah kenapa jantungnya berdebar kaya begini.


"Makasih." gadis yang melengang ke arah pintu pagar itu berbalik namun Jaeril sudah gak ada di sana herannya Marissa merasa kesal karena sikap acuh temannya tersebut, "dasar kulkas!" umpat gadis itu yang masuk ke dalam rumah jujur Marissa terkejut sama kakaknya karena memandangnya dengan gurat aneh.


"Kenapa loe?"


"Ada elo kedua," Marco mengerutkan keningnya heran lalu menghela panjang. Laki-laki itu gak ambil pusing omongan adiknya yang menurutnya ada hal jauh lebih penting daripada Marissa, "mau ke mana? Jaesi? setelah loe campakin mau jadi sok pahlawan, gue bosen aja sama tingkah loe, Ko." Marco gak mendengarkan ocehan adiknya pas tau mereka berdua putus kecewa sebenarnya tapi senang juga yang artinya gak bakal ipar sama Jaesi padahal hal tersebut masih sangat jauh, kayanya kakaknya itu sedang menyesali keputusannya karena telah mengakhiri hubungan mereka setelah melihat Jaesi yang keliatan begitu acuh saat balapan.

__ADS_1


"Kenapa ya mantan lebih glow up setelah putus?"


"Ya karena orang sinting macam elo perlu dikasih hidayah! dahlah gue masuk ke kamar aja." Marco agak kesal ketika adik perempuannya mengatai dirinya seperti orang sinting tapi memang kebenarannya seperti itu mantan jauh lebih bahagia kalau ketemu seseorang yang tepat baginya. Jaesi memijat pelipisnya pusing karena selepas teman-temannya pulang rumah kaya gak ada penghuninya sama sekali berantakkan banget, sama siapa ia harus mengamuk kalau kaya begini caranya gadis cantik itu malas undang temannya lagi.


Sembari melangkah Marco membalas adiknya itu gak kalah mengesalkan, "elu juga sama aja?! sama-sama sarap!!" balas pemuda yang menyampirkan jaketnya dan berjalan santai.


"SEENGGAKNYA GUE MAU TOBAT!!!" pekik gadis tersebut dan langsung mendapat teguran dari sang ibunda, Marissa mengabaikan teguran tersebut. Gak biasanya memang keduanya ribut kaya begitu tapi Marco memang tempat paling pas buat jadi pelampiasan rasa kesalnya sama Jaeril, Marissa mengirimkan pesan pada teman laki-lakinya itu namun gak kunjung ada balasan. Berbanding kebalik sama Jaeril yang lagi santai di depan sambil nonton Deadpool barengan kakak perempuannya juga tetangga dekatnya. Mereka berdua definisi bengek tanpa harus tau film apa yang mereka tonton, gak ada lucunya sama sekali dan sebenarnya itu real action.


"Idih, udah gila. Orang gak lucu kalian berdua malah ngakak, udah minum obat belum." sembur Jacob yang melirik keduanya heran gak habis pikir sama kelakuan kakak beradik ini, kalau akur menggila bareng sekalinya bertengkar gak ada hari tanpa ribut. "mama kalian pasti capek punya anak ajaib kaya kalian berdua."

__ADS_1


"Bunda abang juga pasti capek punya anak kaya abang."


"Lha ngapa sama gue? tampan gini." Jaesi kembali tergelak lalu melengos masuk ke dalam kamar saat lagi-lagi dengar suara aneh dari kamarnya, gadis yang kini menguncir rambutnya itu hampir berteriak ketika lihat siapa yang datang dan membuat kaget. Jaesi menghela kemudian meninju perut cowok di depannya, gadis tersebut menyumpahi kelakuan Marco.


"Harus banget lewat jendela?!" pekik gadis itu kesal, yang sesaat kemudian Jaeran juga masuk. Perempuan di sebelah kiri Jaeran dan kanan Marco itu menelan ludahnya kasar saat keduanya saling berhadapan, "sebelum loe berdua ribut. Gue lempar dulu baru kalian boleh berantem!" suasananya dingin kaya gak ada yang berani membuka suara sampai di detik berikutnya kedua cowok itu mengatakan secara berbarengan. Jaeran diam melirik sinis Marco begitu juga sebaliknya, Jaesi enggan menjadi penengah seperti sebelumnya mendingan kaya awal-awal pacaran sama Marco saja daripada situasi seperti ini.


Jaesi menatap keduanya secara bergantian, "gue mau bilang lusa kalo loe free ayo jalan." gadis tersebut mengangguk saja lalu beralih sama Marco yang kaya mau mengatakan hal serupa.


"Gue mau ajak loe jalan." gadis itu terkejut karena terlalu on point banget tapi Jaesi berpikir sebentar dan bilang bakal kasih jawabannya lewat pesan singkat saja setelah itu keduanya diusir pergi, Jaesi bingung sama tingkah mereka yang semakin hari semakin aneh saja. Malam itu Jaeril memerlihatkan beberapa barang yang sudah ia beli buat kakak perempuannya tapi agak sedikit norak jadi adik laki-lakinya malas menggunakan barang tersebut. Lagipula gadis itu sudah memberikan jawaban yang tepat lalu meminta adiknya untuk ikut serta ajak juga Marissa kemudian Jaesi mengundang Jacob pula, gadis itu tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Malam minggu yang sangat bermakna, whahaha." Jaesi meletakkan ponselnya lalu memejamkan matanya agar dapat beristirahat dengan baik karena esok bakal ada keramaian di rumahnya, Jaesi masih dengan senyumnya. Baru kali ini gadis itu menunjukkan kejahilannya tapi demi kebaikkan bersama juga, Jaeran hampir membanting ponselnya karena Cilla kembali mencurigainya berselingkuh dengan Jaesi. Gadis di rumah samping itu merasa keganggu karena suara bentakkan sahabat cowoknya yang sangat nyaring, padahal malam kan tapi gak tau kenapa kaya keganggu saja. Jaesi urungkan niatnya buat tidur dan berjalan ke arah balkon, memainkan gitarnya pelan. Suara deepnya membuat perhatian Jaeran teralihkan, cowok itu menatap teduh suara dalam sahabat perempuannya yang kaya begini dicemburuin Cilla. Gak ada akhlak memang, lagian sudah lebih dari cukup punya satu cewek kan kekasihnya sendiri yang minta pembuktian.


__ADS_2