Vilanian

Vilanian
18


__ADS_3

Gadis itu sedang berjalan menuju sisi kanan dapur lalu tak sengaja menumpahkan sebuah kopi yang tergeletak diatas meja pantry dapur bahkan dia tak tahu kalau itu sebenarnya punya sang adik laki-laki karena dia sendiri juga tak pernah memerhatikan jalan maka dari itu dia selalu bertindak ceroboh saat melakukan hal yang bahkan gadis lain dengan mudah mengerjakannya tak berapa lama Jaeril datang dengan wajah keterkejutannya. Pemuda itu selalu saja membuat kakaknya kesel saat itu dia melakukan hal yang sama juga dan melempar ke arah sang kakak perempuan Jaesi dibuat pening akan tingkah adik laki-lakinya tersebut kemudian bel pintu rumah mereka berbunyi begitu nyaring, saat itu mereka nggak bahkan tidak tahu kalau misalnya yang datang itu Darren temennya sendiri tetapi itu bukan membuat Jaesi, meresa kesal akan tetapi juga itu malah membuat sang adik bertambah sebel. "Ah, gak asik banget yang datang komplotan kakak, males banget gue. Dahlah," Jaesi terkikik lalu duduk disebelah kanan Marco. Tentu saja Darren menyeret kekasihnya itu agar mau datang meski terpaksa mengiyakannya sekalipun, kedua pemuda yang memiliki dimple tersebut terus berjalan menuju ruang tengah. Mungkin saja salah satu diantara mereka bisa menemani sang adik bermain game di salah satu komputer pc akan tetapi itu tak bisa membuat Marco juga ikut memainkan game tersebut karena tujuannya adalah bertemu gadis itu setelah berjam-jam mereka berdua saling berdiam akhirnya gadis yang kini memakai pakaian santai tersebut pun memutuskan untuk membuka obrolan lebih dulu agar canggung memang tetap itu ia lakukan agar tak membuat sang kekasih menunggu terlalu lama.


Kedua sepasang kekasih itu bahkan tak menyadari jika seseorang juga ada diantara mereka namun itu tidak membuat mereka berdua merasa terganggu ataupun merasa risih itu karena mereka berada di dalam kamar gadis itu dan lelaki yang satunya itu yang tengah memandangnya dari letak kejauhan juga tak pernah mengatakan kalau rumah yang ada di depannya adalah rumah dari salah satu pamannya itu karena temannya berada di Boston, "kok enggak bilang-bilang mau ke sini kan aku bisa buatin sesuatu kalau kamu mau ke sini nih jadi aku ada persiapan buat nyambut kamu," ujar Jaesi yang lagi memandang wajah sang pemuda. Marco tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalanya pelan dan memeluk tubuh perempuan itu dengan perlahan.


"Perhatian banget si kamu," Marco menggumam gemas. Sahabatnya itu tak pernah merasa kehilangan sama sekali tapi untuk kali ini dia merasa kehilangan gadis itu yang tengah berpacaran dengan takaran dan berada di dalam kamar, bahkan setelah ngeliat dia pemuda itu jadi merasa rindu pada gebetannya sendiri entahlah mengapa iya jadi merasa ada yang aneh dengan perasaannya itu bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada hatinya memang sebenarnya gebetannya itu sedang berada di sekolah tetapi ia juga tak bisa terus-terusan ada di dekat gadis tersebut setelah perbaikan pun keduanya juga tak pernah saling berbicara lagi dengan leluasa mengapa bisa itu terjadi padanya padahal kenyataannya keduanya memiliki hubungan yang sedemikian baik dulu saat atau sebelum bertemu pasangan masing-masing itu jelas menimbulkan rasa gelisah pada hati sang pemuda namun tak sedikitpun ia merasa kalau itu adalah perasaan suka atau rasa sayang yang berlebihan karena dirinya berpikir kalau itu sebatas perasaan kakak adiknya yang sudah sewajarnya buat dijaga agar tak terjadi kesalahan yang tak diinginkan. Jaesi merasa ada yang memerhatikannya sedari tadi karena perasaan tak nyaman kini mulai timbul tak lama setelah itu perempuan tersebut beranjak dan membuka pintu balkon dan mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah, tapi gadis itu tak mau ambil pusing dan kembali pada lelaki yang duduk di ayunan.


Marco memicingkan matanya lalu menatap lekat, "ah! Sial!" umpat lelaki tersebut yang langsung menarik lengan Jaesi.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Gak ada apa-apa." jeda sebelum Marco melanjutkan pembicaraan mereka, "besok aku gak bisa jemput, tapi aku tunggu diperpustakaan sekolah jangan sampai telat," Marco melengos pergi ke arah halaman lalu gadis itu merasa ada kejanggalan terhadap sikap kekasihnya, perempuan itu merenung sejenak dan menghela panjang sehabis itu masuk kembali ke dalam rumah.


Perempuan itu tak melakukan apa-apalagi setelah Marco pulang tak lama Jaeril masuk ke dalam kamar kakaknya itu dan langsung mencemoohnya begitu saja tak hanya itu saja pemuda itu juga mengejek Jaeran yang tak ada hubungannya sama sekali, gadis itu mengerutkan keningnya heran tak mau ambil pusing atas apa yang dikatakan sama adiknya. Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di dalam benaknya, "kalau gue diselingkuhin lo maju paling depan gak?" pertanyaannya agak aneh menurut cowok itu namun Jaeril tak bisa menjawabnya dengan jelas. "Kalau posisi lo ada Jaeran apa yang bakal lo lakuin?"


"Lo sakit, ya?"

__ADS_1


"Nothin' without you." Jaesi terpaku dengan balasan Jaeril yang mana pemuda itu juga tak mengerti dengan bahasanya sendiri. Jacob memicingkan matanya curiga ketika adik laki-lakinya itu tengah memainkan sebuah gitar. Jacob langsung menebak lagu yang dimainkan adiknya itu.


"Buat Jaesi ya?" pria dewasa itu memainkan alisnya seraya menggoda sang adik dengan jahilnya.


"Apa? Lagunya? Enggak."


"Gue serius." Jaeran menurunkan pandangannya lalu memetik pitikan gitarnya dan mengalunkan lagu yang sangat indah, Jacob tampak seperti menghindari manik legam milik adiknya dan menghela panjang tak membalas lagi setelahnya, keduanya terlihat begitu serius ada kilat tak terima ketika sang kakak mendukung hubungan keduanya yang seperti tidak ada strugle sama sekali, "gue setuju aja sama hubungan mereka asal gak bablas aja sih." Jaeran masih diam membungkam tak mau banyak berkomentar lalu sampai di detik berikutnya cowok itu menatap tajam kakak laki-lakinya dan menggeram marah, tak ada yang bisa ia lakukan saat bahkan menentang keputusan Jaesi buat menyudahi hubungan mereka berdua, sejujurnya pemuda itu lumayan pusing karena Cilla mulai menuntut kepastian padanya dan belum ia berikan sampai saat ini. "Gue bingung sama lo, sebenarnya arti Jaesi di dalam hati lo apa?" pun ia sendiri bingung mana bisa dirinya menjawab pertanyaan semudah itu.

__ADS_1


"Adik," Jacob tertawa remeh lalu mencondongkan tubuhnya menelaah raut wajah adiknya itu. "Mungkin," cicitnya meragu.


"Lo tau gak? Jaesi, sakit. Dia emang gak bilang sama gue, tapi dilihat dari ekspresinya keliatan jelas kalau dia lagi sakit, pasi soalnya." Jaeran menahan keingintahuannya terhadap kondisi sahabat perempuannya itu akan tetapi itu tak bertahan lama, pemuda itu melangkah pelan lalu memandang gadis yang tengah asik bermain pees sama Jaeril.


__ADS_2