Vilanian

Vilanian
54


__ADS_3

Gadis itu langsung menarik mantannya keluar dari rumah selain mengusir dan gak mau merayakan ulang tahunnya tetapi bukannya memaksa cowok itu malah pergi begitu saja tanpa memberikan hadiah, "pulang sana," usia gadis itu yang langsung masuk ke dalam rumah. "gue gak ngerayain hari lahir gue. gak penting, nambah tua soalnya. pergi sana." ujar perempuan itu lagi yang malah dibalas dengan helaan nafas bahkan laki-laki yang sudah menaiki mobil itu kasih nggak habis pikir dengan cara penolakan yang dilakukan gadis itu atas perayaan ulang tahun dari mantannya. saat masuk ke dalam kamar adiknya bunyi confetti ada dimana-mana membuat jantung Gadis itu terkejut saat liat ada kue ulang tahun tergeletak di atas kasur.


Setelah Marco pulang gadis itu juga ngga tahu siapa yang merencanakan pesta kejutan ulang tahunnya tapi ya bisa menebak bahwa itu dilakukan sama 2 cowok di belakangnya, kaya tuan putri banget saat di hari ulang tahunnya tapi dirinya seperti seorang melankolis ketika di hari biasa nggak tahu aneh aja rasanya kalau lihat sahabat laki-lakinya itu yang sekaligus jadi tetangga kecilnya sedang bersama pacarnya sendiri bukan berarti dia iri gak sama sekali. "gue gak paham sama jalan pikiran kalian, baru aja gue nolak buat pergi sama mantannya nggak berguna itu terus sekarang kalian malah nggak sih strike gue ini wow banget gue nggak ngerti lagi hapus bagaimana."


Jaeran bahkan bisa liat raut wajah kesal dari cewek yang meninggalkan kamar adiknya itu tetapi cewek itu nggak benar-benar pergi dari rumah melainkan ia berjalan ke taman belakang yang ada kolam ikannya menenangkan diri seraya berpikir kalau dirinya enggak harus merayakan ulang tahunnya. "loe kenapa sih?"


"Gak harus kejutan 'kan."


"Ya emang kenapa kalo kejutan!"


"Gue gak mau jadi orang yang menyesal karena pernah mendapatkan kesempatan spesial dari loe. bagi gue semuanya itu sama tiap hari juga bisa sama elo gak pernah dirayain kayak gini karena gue tuh bukannya menambah muda tapi gue tuh nambah tua bertambah umur gue bukan bikin gue awet muda ... gue nggak mau jadi kaum yang seakan-akan nggak menerima kalau umur gue tuh sebenarnya udah tua."

__ADS_1


"Tapi lu emang masih muda nggak ada yang bilang lo awet muda terus juga siapa yang bilang elu nambah tua sini kasih tahu orangnya ke gue biar gue hajar dia." Jaesi menghela panjang padahal apa yang dia katakan itu apa adanya namun seakan cowok yang ada di sampingnya itu nggak mau mendengar kata-kata itu dan malah menjadi kesal sendiri bukan berarti gadis itu melarang adanya perayaan kecil-kecilan dia hanya mau kalau ulang tahunnya diadakan dengan beberapa kerabat saja.


"Gue yang bilang kalau gue tuh tua kenapa masalah?"


"Dewasanya seseorang bukan dari umurnya orang tersebut tapi dari segi cara mereka berpikir coba lihat di luar sana masih banyak orang yang segi berpikirnya kekanak-kanakan padahal umur mereka itu udah lumayan pantas dikatakan berumur." kalau udah kayak gini jujur aja gadis itu pasti kalah kalau sudah mengenai segi pandangan karena cowok yang ada di sampingnya ini akan selalu bersikap sok dewasa dan membuatnya jadi kelihatan kayak anak-anak.


"Yaudah, iya, Kyai Jaeran."


"Gue tahu ini rumah lo tapi bisa nggak jaga etika dikit biar gimanapun cowok yang lagi sama lo itu adalah pacar gue bukan orang lain mau jadi pelakor."


"Cilla jaga mulut kamu! ada mamanya dibelakangmu!" gadis yang baru saja menghina dan mencela anaknya itu langsung terdiam saat melihat mama Jaesi keluar dari kamar laki-laki yang bersebelahan dengannya.

__ADS_1


"Saya tau, anak saya bukan gadis yang sempurna. tapi saya gak pernah mengajarkan anak saya buat menghina apalagi mencerca orang yang bukan-bukan, kamu memang teman anak saya tapi jika kamu hanya ingin menghinanya yang sudah jelas Jaesi gak memiliki kesalahan sama kamu alangkah baiknya kamu pergi aja. saya gak mau putri kesayangan saya sakit hati hanya karena mendengar ucapan gak berarti dari kamu." Jaeran kehabisan kata-kata karena mendengar ucapan dari ibu sahabatnya itu sejujurnya itu sangat amat keren dan enggak mengandung pembelaan atau menghakimi secara sepihak tetapi juga nggak membenarkan kekasihnya itu mengatakan hal jelek di depan rumah keluarganya gadis yang dari tadi diam aja itu emang nggak kelihatan menangis ataupun sedih tetapi mamanya sangat tahu putri satu-satunya itu akan mengeluarkan semua emosinya saat sedang sendirian.


"Tante aku minta maaf."


"Jaeran kamu anak baik tante akui itu tetapi kamu jangan meminta maaf hanya karena gadis yang ada di depanmu itu memiliki hubungan sebagai seorang kekasih karena sebenarnya dia yang harus di meminta maaf pada anak tante bukan kamu jadi kamu gak punya masalah apapun terhadap anak tante. jangan pernah mewakili kan sesuatu yang sama sekali kamu nggak pernah lakuin karena itu akan berdampak buruk sama hubungan kalian nanti."


"Mama," lirih Jaesi yang melihat mamanya begitu memukau dan bijaksana dalam pemilihan kata yang akan diutarakan sesuai sama hatinya gadis itu mendadak jadi sangat mellow dan mengeluarkan air mata. kedua ibu dan anak itu saling berpelukan dan diam-diam ucapan mama jesi terealisasi kan dalam dekapan sang mama, "ma ... kakak capek ma kalo harus kayak gini terus. persahabatan ini udah nggak sehat mah mau nyerah aja."


"Kakak sabar dulu ya, nanti kakak pasti bisa lepas semuanya. kakak harus semangat." Jaeran diam-diam mencuri dengar obrolan dua orang itu ketika keduanya berbalik pemuda tersebut langsung melengang pergi dari sana, jadi itu yang selama ini Jaesi sembunyikan? begitu pikir si cowok jadi ini sengaja Jaesi lakukan.


"Oke, fine. kalo lo maunya gitu. gue gak akan biarin elo ninggalin gue." gumam Jaeran yang pergi dari rumah Jaesi bahkan pemuda itu memiliki sesuatu yang sudah ia siapkan buat Jaesi, namun itu ia urungkan karena setelah mendengar percakapan mereka cowok itu gak mungkin fokus pada keinginan Cilla lagi.

__ADS_1


__ADS_2