
Jaesi masih termenung diparkiran sembari menunggu kedatangan Jaeril adiknya, namun saat sang sahabat lewat gadis itu berpura-pura tidak tahu. Jaeran mulai geregetan sama tingkah gadis itu dan langsung melangkah mendekati Jaesi. Pemuda itu menatapnya dengan serius dan kesal, saat Jaeran mau membuka Cilla sudah datang lalu memanggilnya.
Gadis itu seakan ngerti lalu memberikan kode pada cowok yang berdiri di depannya itu. Jaesi harus membiasakan diri untuk hal kan? Sekarang pemuda itu bukan lagi pemuda jomlo, tetapi dia sudah memiliki kekasih.
Darren yang kebetulan lewat mengajaknya bareng, "kuylah sama gue, kapan lagi di ajak cogan ye gak?"
"Gue kan dijemput!" protes gadis itu mendengkus kesal.
Darren menepuk jidatnya lupa lalu menunjukkan bukti chat Jaeril dengannya, gadis itu membola lalu mengumpati adiknya yang gak ada akhlak itu. "See? Jaeril udah chat gue, jadi let's go!"
"Langsung pulang?" tanya, Jaesi yang langsung dapat sahutan nyolot dari pengemudi motor, gadis itu mencebik bibirnya kesal kemudian memilih diam.
"Ya menurut ngana!"
"Ya udah biasa dong! Dasar laki miper!"
"Mending miper daripada loe—" Darren menyahut kesal dan membuat Jaesi menatapnya semakin kesal, lalu menoyorkan kepala cowok itu dan memukul punggung Darren. "Mantan fuckboy!" lanjut, Darren.
"Mending mantan fuckboy, daripada jomlo ngenes?" balas, Jaesi tak mau kalah.
"Woy elah status dibawa-bawa. Sadar dong situ juga joms!" sepertinya tidak akan berhenti jika Jaesi tak menghentikannya lebih dulu, gadis itu haruslah mengalah karena kalau bukan dirinya perdebatan ini akan terus berlanjut.
__ADS_1
Pemuda itu menghela nafasnya panjang kemudian menghentikan laju motornya di dekat minimarket, gadis itu turun dari motor dan duduk di kursi yang tersedia di depan minimarket tersebut. Gadis itu menunggu Darren yang sedang membelikannya sesuatu dari dalam, saat cowok itu kembali dan duduk dihadapannya sekarang. Darren menaruh dua kotak minumannya, cowok itu memperhatikan wajah Jaesi dengan seksama. "Loe kea orang lagi stres? Kenapa?" tanya, cowok itu agak susah karena sedang mengunyah permen.
Gadis itu menggeleng pelan dan berjalan menuju motor tanpa mau menunggu cowok itu, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Jaesi. Namun ia bingung gimana cara ungkapinnya, gadis itu menatap pemuda berdimple itu sesaat lalu mengalahkan pandangannya. "Dat," panggil gadis itu.
"Loe manggil gue bodat lagi, gue turunin di lampu merah. Asli gak becanda."
"Ya udah iya, Dar. Loe pernah gak si naksir orang terus kepikiran dia bakal balas perasaan loe?"
Darren tau ini mengarah ke siapa. Cowok itu jelas paham, ia berpikir sebentar lalu menatap pemudi di depannya yang menunggu jawabannya. "Pernah gak pernah sih," jawab Darren agak gak yakin. Jaesi seperti tak puas dengan jawaban itu, ia menaiki motor.
Jaesi menghela nafasnya lelah dan memandang jalanan yang berada ditempatnya, "loe ngerti maksud ini kan.." Jaesi diam sesaat lalu mengingat pembicaraannya dengan Jaeran kemarin sore. "... Gue pastiin loe gak bakal sepihak. Nah yang ada di otak gue sekarang tuh, apa iya Jaeran bales perasaan gue? Loe tau kan selama ini dia keliatan care sama gue cuma sebatas —" Darren yang nyambung omongannya dan menyalakan mesin motor.
Vilanian
Jaeran mulai kesal dengan perilaku Cilla yang selalu ikut campur urusan keluarganya. Pemuda itu hampir membentak gadis yang lagi ngobrol dengan mamanya itu, keliatannya Cilla baik, itu pandangan mama. Bukan. Bukannya cowok itu tak suka kalau kekasihnya itu memberikan sebuah, justru itu yang dia mau selama ini. Akan tetapi bukan berarti Cilla bisa ikut campur dengan urusan pribadinya.
Jaeran mengusak rambutnya kasar lalu menarik lengan gadis blasteran itu dengan kasar, Cilla menangkis lengan kekar pemuda itu. "Aku cuma berniat bantu ..." cicit, Cilla yang merunduk takut.
"Kamu gak usah berbuat apapun, Cill. Ini masalah aku, jadi aku yang harus selesaikan sendiri, kamu mending sekarang pulang ajh." putus cowok itu jelas sedang ingin sendiri, Cilla menatap cowok itu sebal kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah pemuda smith itu.
Jacob menghampiri adiknya yang lagi duduk termenung dipinggir kasurnya, pria itu menepuk pundak adiknya pelan lalu mendudukan dirinya disofa panjang dalam kamar Jaeran. "Loe ada masalah apa? Apa ini tentang ayah?" Jaeran menoleh sekilas kemudian mengalihkan perhatiannya dari abangnya itu.
__ADS_1
"Loe sebenarnya pacaran gak sih sama Jaesi? Terus kenapa ayah kea maksa loe buat ngelola cafe? Emang cafe kenapa." Jacob diam sejenak kemudian menipiskan bibirnya, pria Husky itu tersenyum simpul dengar apa yang menjadi keluhan sang adik.
"Ren, loe tuh. Jangan terlalu naif, bukan gue yang harusnya dapat pertanyaan itu. Tapi diri loe sendiri, coba pikirin lagi, dan tanya hati loe sesuka apa loe sama Cilla apa arti Jaesi buat loe. Gue cabut."
Jaeran saat ini seperti orang yang tengah tertangkap basah sedang mencolong sesuatu dari rumah sebelah kiri tetangganya. Cowok itu bangkit lalu turun ke bawah, dan melangkah keluar dari dalam rumah. Jacob yang melihat itu dan hendak menyuap nasi langsung memutar bola matanya malas.
Mama melihat putra bungsunya sekilas dan menegurnya. "Eren! Makan dulu nak!" teriak mama dari dalam dapur namun tak terdengar olehnya.
"Biarin ma, calon bucin. Jadi gitu, kea ayah. Ya yah?" celetuk Jacob yang menggoda sang ayah. Ayah hanya memalingkan wajahnya malu, sedangkan mama tertawa renyah.
"Nanti juga kamu gitu," balas, ayah yang gak mau kalah.
"Sorry ajh, Jack bukan tipe cowok bucin. Dulu iya, tapi sekarang kaga lagi. Gini-gini juga Jack butuh kepastian, jadi Jack move on Jaesi ke Vivian." pongah pemuda itu kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kamar, ayah masih tak mau kalah.
Pria paruh baya itu menelpon seseorang yang gak diketahui oleh putra sulungnya. "HALOO VIVIAN?" suara ayah sengaja dibesarkan agar anak itu mendengar namun Jacob tak mendengar karena telah memasang earphone.
Vilanian
Jaesi lagi ngerjain pr buat besok. Jaeril pun sama juga, adiknya itu yang paling tenang kalau urusan belajar, beda sama gadis itu yang baru buka buku udah misuh-misuh duluan karena belum tau jawabannya. Padahal baru bukakan? Masa iya udah nemu kunci jawabannya? Kan aneh. Suara pintu terketuk dari depan, gadis itu bangkit dan membuka pintunya. Alangkah terkejutnya ia melihat Jaeran diri di depan rumahnya, dengan wajah menunduk. Pemuda itu mendongak menatap wajah perempuan yang ada di depannya dengan sayu.
Mereka saling berpandangan, Jaesi memandang pemuda itu heran dan pemuda itu memandangnya meminta kejelasan hatinya. Jaeril merasa aneh, karena membuka pintu tak membutuhkan waktu dua abad saja. Dia berinisiatif menyusulnya, waktu melihat keduanya tengah pandang-pandangan. Cowok itu menegurnya dan membereskan bukunya yang ada di atas meja. "Masuk, gak enak sama sebelah." tegurnya pelan.
__ADS_1