
Jadi Jaesi lagi ada di mall buat nongkrong bareng anak kelas karena gak ada tebengan balik makanya cewek itu masih berada di dalam mall, itu dia jadiin aji mumpungkan walau cuma liat-liat buat foto tapi gak masalah juga buat pajangan facebook. gadis itu menghela saat melirik orang disekitarnya pada membawa pasangan karena mulai bosan di dalam pas mau balik ke rumah Jaesi gak sengaja ketemu sama adiknya yang juga lagi jalan sama Marissa. "itu bukannya Jaeril?" gumam Jaesi yang langsung membuka kamera ponsel.
Jaeril menggenggam tangan Marissa yang juga tengah malu-malu bahkan gadis itu hendak menyembunyikan wajahnya dipundak lebar sang lelaki, tadinya gadis itu ingin menjahili adiknya akan tetapi niat itu dibatalkan dan si kakak memilih untuk pulang serta mengabaikan ponselnya yang masih terbuka pada kamera hanya sesaat cewek itu mengaktifkan kamera di ponselnya lalu langsung mematikannya menggunakan tombol yang ada di samping ponsel ... sesampainya sang gadis di rumah bahkan ia nggak langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa. Jaesi meletakkan ponselnya di atas meja dapur dan dirinya langsung masuk ke dalam kamar mandi bahkan itu nggak membuat si pemilik ponsel mengabaikan segala teriakan dari arah kamar orang tuanya.
Gadis itu menghela kesal saat seseorang mengetuk pintu dengan barbarnya. "apaan sih?!" ketus gadis itu yang hendak mandi dan bersiap untuk mengerjakan pekerjaan sekolah. Jaeran mengerjai gadis di belakang pintu itu lalu melompat kegirangan kaya anak kucing kalau dapat ikan asin, Jaesi refkeks mukul kepala cowok itu yang mengira akan berbuat gak senonoh tapi nyatanya malah membuatnya kesal. "JAERANJING!!!!" pekik gadis itu yang mengejar cowok di depannya.
"Apa Jaesinting?!"
"Apa loe bilang? gue sinting?!"
"Ya habis elo ngatain gue duluan," cibir cowok itu yang membuka keripik kentangnya gadis itu berjalan tanpa mau peduli lalu iya kembali masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan ritual nya yang sempat tertunda karena ulah si pemuda di depan teras setelah selesai semuanya gadis itu pun kembali dengan menggunakan pakaian santai gak lama kemudian adiknya datang bersama satu rombongan anak cowok yang gak dikenalnya. Jaesi dan Jaeran menatap heran sekaligus nggak paham sama rombongan anak-anak remaja itu tetapi ketika diperkenalkan adiknya hanya mengenakan beberapa saja lalu melangkah masuk.
__ADS_1
Jaeril melirik sekilas kakaknya yang cuma main berdua saja kemudian menghela panjang sesaat adiknya itu berpikir kakak perempuannya itu seperti ngga memiliki teman selain dua anak laki-laki yang kerap main ke rumahnya tetapi saat itu hanya ada tetangga sebelah rumah dan gadis yang lagi duduk menatapi dirinya. "kak kenapa mainnya berdua mulu sih? kaya kekurangan temen aja." Jaesi gak membalasnya apa-apa namun yang dikatakan adiknya kadang kala ada benarnya.
"Buat apa punya banyak temen tapi gak menguntung?" Jaeran menatap bangga gadis itu lalu memeluknya dari samping.
"Itu baru sohib gue!" mereka sama-sama memberikan high five kemudian tersenyum meremehkan jelas saja adiknya kesal makanya Jaeril membawa teman-temannya untuk membalas sang kakak. "godain sana ada brondong." ledek Jaeran yang tergelak renyah.
"Huh? jagung dong?"
"Mungkin." Darren merasa bosan sekali terjebak di dalam ruangan putih itu bahkan mamanya marah-marah sepanjang hari karena gak ada yang mau bantuin jualan dipasar, suara menggelegar mamanya terus saja menyeruak dipermukaan gendang telinganya ketika mama lagi kesal kaya begitu saja anak laki-lakinya masih bisa melawak.
"Astagfirullah!"
__ADS_1
"Eh, seharusnya alhamdulillah ma." setiap keluarga pasti memiliki pelipurlaranya sendiri begitulah dengan keluarganya Darren yang punya bahan candaan sama mama meski kadang wanita itu yang jadi bahan ejekan anak-anaknya, "ma bosen gak sih punya suami kaya papa?" mama menghela panjang mau jawab tapi takut dipecat jadi istri.
"Ya eng—" papa menyahut dari dalam kamar mereka berdua lalu Darren tersenyum penuh arti sama mamanya dan mendorong pelan mamanya.
"Ma!" panggil papa Darren lalu anak laki-laki seperti orang yang sudah paham sama kode itu kemudian melambaikan tangannya pada mama sesaat anak itu berjalan ke arah halaman belakang buat mengambil mangga dipohon depan, Darren melirik sekitar dan langsung memanjat padahal kalau bilang pasti dikasih sama yang punya. laki-laki itu memutuskan untuk pergi dari rumah dan mencari udara segar sesaat setelah iya berhasil mengambil mangga dari pohon tetangga meski tahu itu akan menjadi makanan yang gak halal tetapi lelaki itu tetap akan menerobosnya.
Darren bingung mau ke mana ketika dilampu merah pemuda itu langsung memutuskan buat main ke tempat Jantho. Jantho menatap lurus temannya itu kemudian tersenyum konyol seraya mengalungkan tangannya ke pundak Darren, hey! jangan bilang kalau keduanya mau main ke tempat Jaesi?! hanya melihat dari gelagatnya saja sudah ketebak jelas motif mereka berdua. Jaesi tetap mengobrol meskipun rumahnya ramai, saat ini dia dan Jaeran ada di kamarnya terlalu pusing buat tetap berada diteras: gadis itu memainkan gitarnya lalu bersenandung sama sahabatnya.
"Gue gak heran adek loe banyak temennya." ujar lelaki di sebelahnya dengan mudah. Jaesi gak menanggapi apa pun hanya fokus pada senar gitarnya saja gak lama ponselnya berdering, gadis itu menghela panjang saat melihat nama yang tertera di layarnya.
"Loe gak ngabarin cewek loe ya?" Jaeran mengendikan bahunya acuh dan bersikap bodoh amat sama Cilla. cowok itu bener-bener nggak melirik ponselnya yang sedari tadi tetap berdering meskipun tahu siapa yang tengah menghubunginya biar bagaimanapun iya juga tetap mau menjalin pertemanan dengan teman-temannya yang lain gak harus terus menerus menemani cewek yang ada di sekolahnya itu pergi ke manapun pacarnya mau. "neror gue tuh," agak gak enak sebenarnya sama Jaesi ketika pacarnya terus mengirimkan spam chat. Jaeran mengambil ponsel sahabatnya lalu menjawabnya bukan atas nama dirinya melainkan atas nama Jaesi, karena terlalu malas ribut juga akhirnya disaat terakhir pesan langsung mematikan mode selulernya.
__ADS_1
"Udah beres!"
"Yakin?" Jaeran mengangguk pelan dan memeluk Jaesi yang terlihat lelah sama keadaan saat ini. "gue bosen sama loe mulu." keluh gadis itu yang menatap kearah luar jendela dengan tatapan yang sendu namun pada saat itu semuanya menjadi sangat rumit bagi hatinya karena ingat kalau sahabatnya itu sudah memiliki hambatan hati bahkan gadis tersebut rela melakukan apapun demi si cowok yang ada di pelukannya kalaupun ia harus pergi dari dunia ini untuk selamanya. Jaesi mengeratkan pelukannya lalu menenggelamkan wajahnya di lekukan tubuh pemuda itu, gadis itu gak mau terhanyut sama perasaannya sendiri yang pada akhirnya membuat semua pengorbanannya sia-sia.