
Jaesi mengelus rambut coklat cowok remaja yang lagi tidur diatasnya dan memejamkan mata dengan rapat serta mengosongkan pikirannya itu, perempuan yang tiba-tiba menghentikan gerakannya itu menarik tangan kecilnya dan menghembuskan deru lelah. Jaesi kini telah mengganti warna rambutnya menjadi sebuah warna hitam itu, menggerakkan bola matanya gelisah. "Ren," panggilnya pelan.
Tak ada sahutan dari sang lawan bicara. Apa cowok itu benar-benar udah tidur? Atau malah ia pura-pura tidur? Jaesi meringis ketika panggilannya gak mendapatkan respon yang baik. "Hm," hanya sahutan itu yang keluar dari pernapasan cowok tampan itu.
"Loe beneran tidur?" Kembali tak ada sahutan dari Jaeran. Gadis itu buru-buru meraih handphonenya dari atas meja dan mencoba untuk ambil satu lembar foto.
"Kalo motoin orang itu, bilang biar bisa pose." Celetuk Jaeran yang kemudian menatap wajah perempuan itu dari bawah. Manik keduanya saling bertemu dan tak ingin memutuskan pandangan mata itu sebelum Jaesi yang lebih dulu memutuskannya.
Jaeran bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap ke arah depan cewek cantik itu. Hal pertama yang membuat cowok itu tersenyum adalah kepekaan sang sahabat terhadap hobinya yang baru. "Rambut loe baru? Terus loe ngapain sih bawa kamera digital?" Senyuman manis terulas begitu ajh direlung bibir Jaeran.
"Ouh, iya, ..."
Jaesi melangkah ke arah kamar mandi karena kebelet buang air kecil. Namun cowok itu menahan lengannya dan menatap wajahnya yang entah apa maksudnya, gadis yang udah gak tahan buat buang air kecil itu langsung menepis tangan besar itu dan berlarian menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit selesai. Jaeran tampak asik dengan kameranya itu, Jaesi merasa bosan dengan pemuda itu saat sedang asik dengan dunianya sendiri. Tapi perempuan itu tak berniat untuk pergi meninggalkan pemuda yang lagi mengambil banyak gambar itu. "Ren, bosan." Keluhnya, yang tak menatap wajah Jaeran.
Jaeran berhenti lalu menarik lengannya ke arah parkiran motor dan mengantar Jaesi pulang, tak banyak omong kosong cowok itu benar-benar mengantar perempuan itu pulang ke rumahnya dan melajukan kembali motornya ke daerah Pewira Tambun. "Ren, maksud gue bukan pulang! Ren!" Pekik Jaesi kesal.
Entah kenapa ada yang berubah dengan sikap pemuda itu. Jaesi masih berusaha positif thinking tentang cowok itu, namun pikirannya melanglang buana ke kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Mau sampai kapan hubungan mereka akan terus seperti ini, friendzone tak ada kejelasan sama sekali. Jaesi tahu, ia tak sepihak. Tapi dirinya gak akan mungkin terus ada seperti saat ini.
Jaeril menatap wajah kakaknya yang muram, ingin menegurnya tapi itu tak jadi. Ada niat buat menghujat namun sepertinya tidak pas dengan momentumnya. "Kenapa?" Hanya pertanyaan itu yang bisa ia keluarkan.
Vilanian
__ADS_1
Jaeril terus berseru heboh saat kalah dengan cewek disampingnya itu, pemuda itu ikut tersenyum manis saat lihat kakaknya senyum. Pemuda itu sengaja mengalah ketika bermain game mortal combat bersama Jaesi, karena berniat untuk menghibur kakak perempuannya itu. "Udah kelar?" Jaesi meringis ketika dengar itu lalu ia mengangguk sambil tersenyum malu.
"Udah,"
"Ya udah sana!" Usirnya.
Jaesi melotot dan langsung nendang badan besar adiknya itu yang lagi memandanginya dengan tatapan mata menghujat. "Gak ada akhlaq?!!"
"Gak tau diri ya!!"
"Loe yang gak tau diri?!!"
"Apaan?!" Balas, Jaeril tak terima lalu berdiri dan berjalan menghampiri kakaknya yang ingin membalas dengan hal yang sama namun kedatangan sang orangtuanya menginterupsi kegiatan mereka.
"Ma!" Papa berdecak seraya duduk di samping sang isteri. "Gak ngajak! Papa juga mau liat kali!"
"Terserah, ayo lanjutkan. Mama udah siapin kacang tanah sama es teh manis." Jaeril beradu pandang dengan sang kakak begitu juga sebaliknya. Anak perempuan itu menepuk jidatnya gak habis pikir.
"Kok kalian malah nonton!!" Protes Jaeril yang diangguki oleh perempuan didepannya itu.
"Terus mama suruh ngapain? Lerai? Males ah mending masak daripada urusin kalian yang berantem mulu!" Ujar, mama agak menyindir ketiga orang tersebut.
Jaesi mendengar itu, menghela panjang dan berjalan ke arah kamar. Moodnya hilang untuk bertengkar dengan adiknya itu, dan mamanya yang membuat moodnya tak berselera tinggi. Perempuan itu menutup pintu kamar dengan kencang saat sampai di dalam kamarnya. Papanya juga tak berniat untuk membelanya tadi. "Keluarga macem apa tau!" Gerutunya, sebal dan membanting tubuhnya ke kasur.
__ADS_1
Diluar kamar papa sekarang tengah berebut kursi untuk makan siang. Papa gak mau ngalah dan Jaeril yang gak mau lepas dari kursi kepresidenannya itu. "Ini tempat papa sekarang, kamu ngalah dong!" Seru, papa pada putranya yang bungsu.
"Papa yang tua, jadi papa yang ngalah!"
"Kamu gak sopan ya!"
Jaeril memutar bola matanya malas pada sang ayah yang masih narik kursi yang ia tempati saat ini. Sang mama menatap tajam kedua orang itu dan menyentak botol susu dengan keras. "Prihatin mama tuh," kata mama yang bersedekap. Papa yang berhenti langsung menoleh ke arah isterinya dan mengernyit heran.
"Prihatin? Emang papa kurang ngasih uang?"
Mama tertawa sinis. Lalu mendengkus dingin menyipitkan matanya kesal pada anak dan bapak itu. "Papa minta anak lagi, tapi gak bisa ngalah sama anak. Papa minta dihujat banget ya?!" Omel mama yang melengang pergi meninggalkan kedua pria itu di sana seraya menatap wajah tak percaya.
"Mama?!" Pekik papa malu.
Jaeril hendak melepas tawanya, namun langsung dipelototi oleh sang ayahanda. Pemuda meringis ketika mendapat pelototan itu dan membentuk sebuah dua jari tangan. "Papa udah bandot gak tau malu ya, ..." Tawa cowok itu pecah.
"Uang sangu papa potong!" Jaeril kontan membeliak kaget dan menyusul papanya kemudian untuk memerotes hal itu.
"Kamu juga!" Celetuk mama yang masih belum melepas pandangannya pada dua orang itu. "Ingat, dia bapak loe. Kalo loe gak ingat siapa bapak sini gue ingatin!" Ketus mama yang keluar dengan bahasa gaul. Jaeril melongo mendengar kata-kata itu.
"Isteri gue nih," sahut papa.
Jaeril melengos pergi masuk ke dalam kamarnya dan tak mendengar lagi perdebatan sengit antara kedua orangtuanya itu. Entah kenapa ia merasa salah lahir di keluarga besar Pears saat ini. Hingga malam kedua anaknya itu belum keluar dari kamar masing-masing, sebenarnya bukan gak mau keluar juga. Malas ajh, menghadapi keluarga yang super abstrak itu. Kaya bukan keluarganya ajj gitu, Jaeril mengirim pesan singkat pada sang kakak yang nyatanya kamar mereka cuma terpisah satu lantai.
__ADS_1