
Mari kita sedikit flashback ketika semalam pemuda itu aka Jaeran datang ingin meminta maaf kepada Jaesi namun berujung trouble. Seharusnya pagi ini mereka sudah berbaikan satu sama lain namun karena satu dan lainnya, itu membuat gadis itu semakin marah lalu sebal.
Flashback
Ketika tadi malam Jaeran bergegas pergi ke rumah Jaesi untuk meminta maaf, pemuda itu tak tau jika ia salah waktu untuk datang. Sebab Jaesi lagi belajar, saat gadis itu sudah mengiyakan kata-kata pemuda di depannya itu dan meminta Jaeran untuk pulang ke rumahnya. Jaeran tak sengaja menambah masalah semakin melebar. "Gue minta maaf," sesal Jaeran sebelum pergi.
"Niat loe udah bagus buat minta maaf, gue pahami itu. Tapi loe jangan gitu lagi, kita sahabat, Ren. Suka duka selalu sama-sama. Terus kenapa sekarang loe malah kea gini, ya udah pulang sana." Tukas, gadis itu yang beranjak dari tempatnya lalu membuka pintu depan.
Pemuda itu menatapnya tajam dan kembali emosional, "gue juga gak mungkin bilang gitu, kalo loe gak jadian sama abang gue ya. Lagian murah amat, sana sini mau." Ucapnya tak sadar dan kemudian gadis itu tersentak ketika dengar. Jaesi melangkah masuk ke dalam kamar seraya dibanting.
Jaeran sudah menunggu di depan pintu gerbang rumah kediaman keluarga Pears. Pagi ini, cowok itu gak boleh gagal buat dapat maaf dari sahabatnya itu. Jujur dirinya rindu main dengan gadis berambut brown sugar itu, saat Jaesi menampakkan dirinya di depan gerbang rumah, gadis itu mengabaikan hadirnya seorang Jaeran. "Bonjour," sapa, Jaeran dalam bahasa Prancis, namun Jaesi tak membalas dan melangkah begitu saja. "Kalo ada orang sapa, balas dong." Celetuk, pemuda itu yang melanjutkan ucapannya dengan cengiran.
"Hm, morn." Balas, gadis itu tanpa ekspresi wajah. Jaeran mendengkus lelah, cowok itu sudah berikrar tak akan menyerah semalam.
"Nah gitu kan enak, mau berangkat? Bareng kuy!"
Jaesi berhenti kemudian menolehkan kepalanya miring, diliatnya Jaeran tengah tersenyum. Gadis itu berpikir sebentar agak goyah namun ia berusaha menguatkan hatinya, saat pemuda menepuk jok belakangnya. Jaesi lebih memilih melanjutkan perjalanan menuju halte bus ketimbang dibonceng motor oleh pemuda yang lagi mengikutinya. Menurut dia anak ini lumayan gigih untuk mendapatkan maaf darinya, Jaesi yang jengah menatap wajah Jaeran kesal lalu menaiki motor pemuda itu. "Cepetan," malas gadis itu. Dengan wajah yang mengembang cowok itu langsung menarik gasnya kesekolah.
"Jaes, udah dong. Jangan marah, loe tuh cantik tau kalo gak marah. Serius!"
"Terserah,"
"Jaes, ayolah jangan gini." Bujuk Jaeran.
"Bodo,"
"Gue galau banget kalo loe marah lama kea sekarang." Cicit pemuda itu yang masih fokus pada jalanan.
Jaesi memutar bola matanya malas. Ia terlalu hatam dengan trik cowok yang ada dihadapannya itu, pemuda itu pikir, gadis itu tak akan sadar dengan jurusnya? Bahkan ia lebih mengenalnya lebih baik daripada pacar cowok itu. "Gak mempan," ketus gadis itu.
__ADS_1
"Jaes, udahan kuy marahnya. Gue kangen, apa loe gak kangen?" Tanya Jaeran serius, agak tersentak ketika dengar itu. Jaesi langsung buru-buru mengubah mimik wajahnya yang tadinya terkejut menjadi biasa saja.
"Serius loe kangen?" Tanya, gadis itu balik. Jaeran tampak serius dengan ucapannya itu sadar atau tidak Jaesi hampir memekik tertahan.
Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum misterius. "... Iya, ..." agak percaya gak percaya sebenarnya gadis itu. Namun jarang sekali pemuda itu ngangenin dirinya sampai sebegitu galaunya.
"Ah, tipu kan loe!" Tuduhnya tak percaya.
"Serius gue," cowok itu memasang wajahnya bersungguh-sungguh. "Jangan marah lagi ya?" Lanjut Jaeran. Jaesi mendengus dingin lalu menekuk mukanya agak jengkel.
"Gak janji," gadis itu melenggang pergi meninggalkan area parkir setelah sampai sekolah. Jaeran tersenyum senang dan berlari menyusul kemudian merangkul pundak gadis itu dengan santai. Jaesi yang masih agak kesal buru-buru melepaskan rangkulan itu.
"Entar, gue traktir makan."
"Iye, ..." Sahut, Jaesi capek sendiri dengan tingkah lakunya pemuda itu. Padahal ia tak minta, akan tetapi rezeki gak boleh ditolakan? Jadi Jaesi hanya mengangguk sambil menaruh tasnya di dalam kelas, gak berniat marah sampai segitunya juga si tapikan kadangkala cowok kaya Jaeran harus diberikan hukuman.
Vilanian
Darren yang menatapnya dengan tatapan mata heran, seperti melempar sorot bertanya pada gadis itu. "Kenapa?" Namun lagi-lagi Jaesi dibuat gagal paham sama tingkah polah bayi besar di depannya itu. Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya cepat.
"Sehat loe?" Sindir, gadis itu sinis.
"Sehat jasmani dan rohani, kok." Sahut, Jaeran enteng. "Yang gak sehat jantung gue, kenapa?" Cowok itu menatap lekat wajah yang cantik ada dihadapannya ini.
"Kea orang sarap," Darren hampir meledakkan tawanya jika tak ingat tempatnya sekarang. Pemuda itu gak membalas malah mengulas senyum manis.
"Emang sarap." Sambung Darren yang meminum es teh manisnya.
Jaeran tak peduli celotehan mereka.
__ADS_1
"Jaes, kalo gue putusin Cilla terus nembak loe gimana?" Jaesi meringis sambil menunggu perkataan cowok itu selanjutnya apa. "Jangan ngatain gue bucin tapi ya," Darren tampak lebih kesal daripada gadis yang duduk disebelahnya.
"Belom jedor udah bucin duluan." Sewot cowok berdimple itu yang diselingi dengan putaran mata malas.
"Bicot!" Seru, pemuda itu sinis.
Jaesi masih diam saja dan tidak bersuara. "Kalo gue gak mau gimana?" Tanya anak perempuan itu yang akhirnya bersuara sekarang.
"Ya gue tinggal minta restu sama om tantelah!" Gadis itu mendelik tajam kearahnya lalu menyuruput air green tea yang ada diatas meja kantin, Jaeran yang masih menatapinya membuat Jaesi memerah pipinya.
"Buat apaan restu, kita gak pacaran atau mau nikah, ege." Darren yang semakin muak dengan obrolan ringan temannya itu memilih untuk pergi dari sana dan latihan basket.
"Yang udah baikan beda njeng!" Ketus cowok itu yang menyindir terlalu kesal, karena merasa semakin ngenes banget sama hidupnya. Keduanya gak mendengarkan kekesalan warga negara +62 yang satu ini.
"Ya nanti kita pasti bakalan nikah terus membina hubungan baik sebagai satu keluarga besar." Racau Jaeran semakin melantur ke mana-mana.
Gadis itu memandangi kepergian Darren yang terlihat jijik dengan aksi temannya itu. "Noh, temen loe pergi susul sana." Usir, Jaesi yang mencoba menenangkan detak jantungnya.
"Dih, malas, gue kan masih kangen sama loe." Rengek pemuda itu yang membuat Jaesi malas. Rengekan itu benar-benar membuat gadis yang ada di depannya terheran-heran melihat perilaku cowok itu. Sungguh bukan Jaeran sekali.
"Kangen apaan tiap hari met juga!" Dorong Jaesi yang langsung beranjak pergi dari kantin ke perpustakaan sekolah, pemuda itu agak sebal saat gadisnya itu mendorong untuk menyusul teman satu teamnya.
"Met apaan! Kan loe marah sama gue bajing!" Seru, Jaeran yang melangkah keluar dari kantin sekolah.
Sebenarnya Darren pergi bukan karena gak tahan sama sikap bucin Jaeran yang mendadak itu, ia pergi karena memang ada waktu latihan dengan yang lain. Jaeran mendengkus dan mengumpati temannya itu yang kini berdiri disebelahnya, pemuda itu tentu saja tau jadwal pertandingan liga antar sekolah besok, untuk pekan olahraga Nasional.
Darren yang mengetahui kedatangannya langsung saja melontarkan pertanyaan itu, "sejak kapan loe bucinin Jaesi?" Tanya, cowok itu. Jaeran terkejut dengan apa yang baru saja meluncurkan dari bibir kotor temannya itu.
"Gue gak bucinin Jaesi!" Elaknya.
__ADS_1
"Dih," hardik pemuda dimple itu seketika dan masukkan tangannya ke dalam saku celana abu. "Terus, tadi itu apa?" Desak, pemuda berlesung pipi itu.
Pemuda itu tak bisa berkata-kata apapun lagi. Ia merasa terjebak dengan pernyataan bucin itu, dan mengalihkan pandangannya pada gadis yang duduk di tribun. Ya itu Cilla. "Jangan bilang-bilang," dengus Jaeran yang diacungkan dua jempol oleh Darren seraya tersenyum. Kini pemuda itu pasrah jika cowok yang ada disampingnya itu ingin mengatai dirinya bucin.