Vilanian

Vilanian
8


__ADS_3

Jaesi tak pernah berhenti tersenyum saat Jaeran lebih memilih dirinya daripada pergi mengejar cintanya pada Cilla, bukan karena dirinya melarang mereka saling bertemu dan merajut kasih satu sama lain, akan tetapi pemuda itu terlalu memerioritaskan gadis yang saat ini sedang duduk bersandar dibahu lebar pemuda tersebut. Jaesi memejamkan mata menikmati himilir angin yang menerpa wajahnya, ketika ia sedang menaruh kepelanya yang mulai berat itu. Jaeran menatap matanya sayu, diusapnya helai rambut hitam milik Jaesi yang menutupi sebagian wajahnya perempuan itu.


Sayup-sayup suara Jaeran masih terdengar begitu jelas, namun lama-kelamaan menjadi tidak terlalu jelas karena gadis itu mulai menyelami dunia mimpi, pemuda itu mendengkus ketika sang gadis sudah terlelap dengan gampangnya. "Jaes, gue gak tau kenapa bisa sesayang ini sama loe. Padahal gue rasa gue gak punya perasaan lebih sama loe, tapi kaya gak ikhlas aja loe sama Marco." lirih pemuda itu yang mengusap lembut kepala gadis itu.


Suara yang berhasil membuat keduanya saling membeliak satu sama lain kontan saja membuat sang pemuda tertawa terbahak-bahak mendengar suara perutnya Jaesi yang tengah demo, Jaesi menunduk malu karena perutnya tak bisa diajakin berkompromi di depannya Jaeran. "Sorry, Ren. Emang perut gak tau malu." dengus gadis itu yang cengengesan.


"Gak apa-apa, gue juga laper. Kuy cari makanan. Pasti udah dangdutan itu perut, ya kan?"


"Tau aja! Eh, bentar." ponselnya berdering lalu tak lama Jaesi mengangkat telepon tersebut karena dirasa tidak ada yang ingin dibicarakan lagi akhirnya perempuan tersebut menutup sambungan telepon tersebut. Ketika Jaeran bertanya tentang siapa yang menelponnya dan alasan kenapa perempuan tersebut menjauh darinya saat mengangkat telepon tersebut, gadis itu tak menjawab dan malah melengos pergi meninggalkan pemuda itu tanpa ingin menjawabnya.


Di tukang pecel Madiun Jaeran masih menghormati keputusan Jaesi yang tak mau menjawab pertanyaan itu, saat sedang makan pemuda itu tiba-tiba dibuat geram karena sang sahabat merasa terteror akan telepon tersebut. Karena kesal Jaeran mengangkatnya dan langsung membentak sang penelepon saat itu juga, tanpa memeriksanya ulang. Jaeril. Si penelpon gelap itu langsung mendengkus kasar' dan mematikan sambungan telepon tersebut tanpa memedulikan ocehan tak penting Jaeran. "Harusnya gak usah diangkat, biarin aja. Emang rese banget itu anak, cuma jalan beli makan aja males banget padahal dekat komplek." cibir Jaesi yang merasa kasian karena telah dirugikan oleh Jaeril.

__ADS_1


"Hm," sahut pemuda tersebut.


Perempuan itu terlalu lahap hingga tak sadar sepanjang makan lelaki yang duduk disampingnya itu cuma mandangin dia doang, Jaeran mengamati bahwa sana yang tiba-tiba muncul pikiran liar. Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan tak lama kemudian ia menoleh lagi saat Jaesi memanggilnya dengan tak santai, hey! Lelaki itu tak tuli. Jaeran memang sengaja agar pikiran liarnya teralihkan saja, "gue gak budek ya!" seru lelaki itu yang cuma dibalas cengiran konyolnya, Jaesi mengusap lembut sudut bibirnya lalu beranjak dari sana tanpa memedulikan biaya makanannya.


"Loe yang bayarin," Jaeran memutar bola matanya malas. Ponselnya terus berbunyi hingga tak terasa sudah banyak panggilan tak terjawab dari Cilla, "kenapa gak diangkat?" ujar Jaesi. Jaeran meliriknya sekilas kemudian melenggang pergi meninggalkan sang sahabat yang lagi menatapnya bingung, Jaesi tau sebenarnya dari beberapa menit lalu Cilla terus menghubunginya. Jaesi merasa tak masalah jika dirinya sendirian di sana, perempuan itu bisa memanggil teman-temannya yang lain, toh juga teman dekatnya banyak.


"Gue mau pergi—" ucapan cowok ganteng itu kepotong pada saat gadis di depannya tau apa yang akan ia katakan, jadi Jaesi langsung mengangguk tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


"Ye-ye, sana pergi. Jaeril otw ke mari." Jaeran memang akan bersiap pergi meninggalkan sang sahabat namun pemuda itu tak yakin jika, gadis yang lagi sibuk bermain game itu memanggil adiknya. "Lha, kaga jadi pergi?" Jaeran gak tau apa keputusannya tepat atau enggak, lelaki itu berpikir untuk mengajaknya juga dan berbicara mengenai hal tersebut dengan Cilla.


"Dih! Apaan! Masa gue jadi kambing conge!" protes Jaesi yang gak setuju dengan ajakan cowok tersebut, namun lelaki itu tetap membujuk Jaesi—sang sahabat— pemuda itu berjanji tidak akan mengabaikannya kalau sudah bersama Cilla. Akan tetapi perempuan itu tak yakin dengan alasan tersebut.

__ADS_1


Jaesi menghela pelan bukannya perempuan itu tak mau makan bareng sama sahabatnya ini, akan tetapi jika ia berada di antara mereka berdua pasti hanya menjadi penonton saja dan itu akan sangat membosankan baginya. Tetapi lelaki itu tak bisa ditolak jika tak benar-benar ada Jaeril bersamanya, "gue gak apa-apalah kalo loe tinggal date," ujar Jaesi capek sendiri udah berapa kali gadis itu mengatakannya.


"Ya loe gak apa-apa! Gue yang apa-apalah! Masa loe sendirian? Kan gak mungkin gue yang ngajak tapi gue yang ninggalin." cerocos lelaki itu yang melihatnya agak kesal. Biasanya juga seperti itu, umpat Jaesi yang memutar bola matanya malas'.


"Hilih!" Jaesi melenggang pergi meninggalkan sang pemuda yang kemudian menyusulnya dan menghadang jalannya, Jaesi memincingkan maniknya heran lalu menatapnya gemas dengan tangan yang sudah terkepal di atas muka. "Iya-iya gue ikut! Ah elo mah! Kesel banget sama loe sumpah!" gerutu Jaesi yang membuat lelaki itu mengembangkan senyumnya merekah. Cilla mengulas senyum tipis pada Jaesi lalu menarik kursi sebelah kanannya, Jaeran yang melihatnya merasa senang ketika keduanya terlihat akur seperti ini, akan tetapi gadis yang berada di depannya terlihat tak senang. "Harusnya loe gak usah, izinin bekantan satu ini. Gue gak enak sama loe, Cill." dengus gadis itu, Cilla hanya diam saja lalu menggeleng kepalanya perlahan.


"Gak apa-apa, gue juga gak merasa terganggu sama loe. Kalian kan teman, jadi fine aja menurut gue." Cilla memberikan pendapatnya namun tetap saja Jaesi merasa tak nyaman jika dirinya mengganggu kencan sahabatnya itu, atau bisa saja dia memanggil Marco agar bisa lepas dari sang pemilik kencan. Jaesi menelpon Marco dan meminta agar lelaki itu datang menemuinya.


"Halo," Jaesi agak terkejut masalahnya bukan sang kekasih yang mengangkat panggilan tersebut, perempuan itu agak aneh dengan suara yang ia dengar saat ini. "Mana Marco?" sambung gadis itu yang masih menahan kesabarannya.


"Ada lagi mandi, kenapa? Mau ketemu? Kak Marco lagi sibuk." Marco yang berada di dekat Vanilla langsung merebut kembali ponselnya dan menanyakan Jaesi, namun belum ada sedetik gadis itu menjawab panggilan sudah diputuskan oleh sang gadis. Jaesi mengambil tasnya lalu melenggang pergi meninggalkan restoran tersebut, Jaeran mengerutkan keningnya heran dan menanyakan apakah dirinya melakukan tindakan yang tak nyaman. Jaesi tak menjawab dan langsung pergi begitu saja, pemuda itu menatap wajah sang gebetan hingga ia akhirnya mendapatkan anggukan kepala.

__ADS_1


"Kayanya dia lagi ada strugle, susul sana." ujar Cilla.


"Terus kamu gimana? Aku gak bisa ninggalin kamu," Cilla mengusap lembut surai lelaki itu lalu menggeleng tak masalah jika harus sendirian di sana, Jaeran tetap tak kunjung keluar dari restoran tersebut. "Jaes! Tunggu!" gadis itu menoleh lalu menghela panjang kemudian mengabaikan sang sahabat.


__ADS_2