Vilanian

Vilanian
16


__ADS_3

Jaesi menatap Marco yang sedang mengerjakan pr dari sekolah perempuan itu tentu tak terkejut akan kepintaran yang dimiliki oleh kekasihnya, gadis tersebut menaruh teh hangat yang dia buat tepat di dekat buku-buku pemuda itu. Jaesi tak mengerti berapa lama ia tidak menghabiskan waktu bersama kekasihnya, bukankah seharusnya waktu seperti ini mereka berkencan? Mengapa malah menghabiskannya belajar seperti ini. Jaesi juga cukup berprestasi, bukan berarti ia tidak pintar, tidak seperti itu akan tetapi gadis itu hanya tau bagaimana cara membagi waktu belajar. "Kamu udah sampe sini belum?" tanya Marco yang mengalihkan perhatiannya dari buku.


"Udah, ini tuh sama aja kaya kamu membagi hasilnya. Pake aja perkalian silang," usul perempuan itu yang langsung dilakukan oleh lelaki dihadapannya. Jaeril yang baru saja lewat menggeleng pelan melihat kegiatan sang kakak dan kekasihnya itu, ya, meski lelaki yang kini berjalan ke arah tangga itu tau sebenarnya Jaesi juga pasti akan bosan. Jaeril mendengus kesal nasib menjadi pria jomlo memang seperti ini, untungnya dia tampan jadi tidak terlalu ngenes banget, ya meskipun jomlo banyak yang menunggu cowok itu. Sang adik juga tidak kalah populer dari kakak perempuannya, SMA Amico sering sekali mengadakan festival musik. Marco pamit pulang lalu mengecup singkat kening Jaesi; Jaeran yang melihat itu mencengkeram senar gitar hingga tangannya luka, gadis itu meliriknya sebenarnya hatinya merasa teriris liat telapak tangan pemuda tersebut terluka karena senar, akan tetapi Jaesi sudah komitmen bakal menjauh dari lelaki itu.


Jaesi menghela perasaannya semakin gak tenang saat tau sahabatnya sedang tak baik-baik saja, Jaeran bahkan belum tau alasan mengenai gadis itu yang menjaga jarak dengannya, "gue ada salah ya sama Jaesi sampe-sampe buat dia marah?" gumam Jaeran yang termenung menatap luka dijemarinya. Pemuda tersebut mengusap pelan jarinya yang luka, dibawah Cilla mengetuk pintu rumah Jaeran: seraya membawa camilan favorite lelaki itu.


Jaeran memanggil dengan yang penuh disamping itu Marco dan Cilla memerhatikannya menggunakan tatapan heran. Perempuan yang namanya dipanggilpun tak mau menyahut karena tau apa yang akan dikatakan oleh pemuda itu, Jaesi meliriknya sekilas; Jaeran berusaha sekali membuat perempuan itu menyadari kehadirannya. Akan tetapi perempuan tersebut tetap tak mau menggubrisnya, pemuda yang mengepalkan tangannya kesal itu berusaha mengontrol rasa emosinya pada sahabat perempuannya itu. Darren datang dengan membawa bekal yang biasa laki-laki itu makan saat istirahat, pemuda dimple itu memerhatikan kedua temannya yang saling diam. "Kalian kemusuhan ya?"

__ADS_1


"Gak!!"/"ya!!" sahut mereka berdua yang secara tidak langsung berbarengan. Darren menghela ia tau situasi macam ini, karena sebelumnya pernah terjadi tidak hanya sekali akan tetapi berkali-kali terjadi keduanya memang seperti ini jika sedang mengalami masalah sulit dalam pertemanan, Jaeran tidak sependapat dan gadis disebelahnya sependapat. Jaesi menarik lengan Marco untuk mengajaknya pergi, dan Jaeran menahan sebelah lengan perempuan tersebut. Jaeran memandang dalam manik sahabatnya lalu mencari secercah harapan pada hubungan mereka, Jaesi menepis tangan pemuda itu dan sontak saja membuat para sahabatnya terkejut.


Jaesi menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kantin, perasaan sakit yang Jaesi sendiri tak mengerti apa itu, perasaan bersalah yang mengundang perempuan ingin menoleh dan berlari memeluk tubuh sahabatnya. Jaeran berdiri dari duduknya lalu menatap punggung sahabat perempuannya, "kenapa sayang?" gadis itu terhenyak kemudian tersenyum seraya menggeleng pelan kepalanya.


"Gak apa," Jaesi menggamit lengan Marco lalu mengulum bibirnya dalam. Perasaannya kian berkecamuk saat melihat salah satu teman baik sahabatnya menyatakan cinta pada adik kelasnya. Riski dan Resita tentu tak akan ada yang tau mengenai hubungan keduanya, Marco mengamati kekhawatiran kekasihnya itu.


Jaesi tak tau harus berbuat apa saat ini pasalnya pelatih yang biasanya sedang mengambil cuti, mana minggu depan ada pertanding persahabatan dengan SMA lain, ia tak mungkin berlatih sendiri dan lagipula juga seharusnya saat dirinya les di luar tak memungkiri adanya beda pengajaran bukan? Tetapi tak membuat gadis itu merasa malas memelajari bela diri, dengan berteman sang kekasih Jaesi berlatih setiap jurusnya sendirian tanpa pelatihnya, "kamu kalau lelah bilang biar aku beliin minum," Jaesi mengulas senyum tipis.

__ADS_1


"Yakin?" Jaesi mengangguk lalu mengelap keringatnya yang bercucuran, Marco hanya memerhatikannya saja tanpa mau membantunya mengelap air keringatnya, tidak bukannya lelaki tersebut jijik akan tetapi gadis itu masih, "gak apa-apa kalo kamu mau berhenti," melatih kemampuannya. Selepas itu keduanya saling duduk bersandar satu sama lain; bahkan setelah latihan Marco dan Jaesi menebar suasana romantis yang membuat semua orang iri, tak hanya itu Marco memijat pundak gadisnya sehabis latihan.


Jaeril berdiri menekuk lututnya pada pinggir tembok pembatas yang ada di atas gedung memandang lurus seraya memikirkan kakaknya yang tak mau menjelaskan masalah apa yang menimpa hubungan Jaesi dan juga Jaeran akan tetapi itu tak menutup kemungkinan timbulnya masalah baru pada persahabatan keduanya, ini tak akan terjadi jika Marco tak ikut campur dalam hubungan keduanya. Jaeril bahkan tak setuju dengan apa yang diputuskan kedua orang itu secara sepihak mereka memutuskannya tanpa berpikir panjang atas akibat yang terjadi pada scandal persahabatan mereka, pemuda itu memanda Julian dan adiknya; keduanya akrab sekali bahkan saling memerkenalkan pacar masing-masing dan saling bersahabat. Kapan hal ini terjadi pada persahabatan Jaesi dan Jaeran, "gue harus turun tangan langsung," pemuda itu memutuskan buat ke sekolah kakaknya.


Jaesi duduk tak jauh dari lokasi tempat sahabatnya berpacaran, lelaki yang ada di sampingnya menghela kesal. "Aku perhatiin kamu gak fokus ya?"


"Huh? Gak kok," pelan perempuan yang lagi mengalihkan pandangannya. Marco tidak bisa seperti ini terus, bukan dirinya sekali berlama-lama dengan kekasihnya sendiri. "Berharap apa lu Jaes," gumam perempuan itu yang sengaja berbisik pelan agar tak di dengar sama Marco; perempuan melengos mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


"Aku lapar," celetuk Marco yang berdiri seraya menggenggam tangan gadisnya itu dan melewati pemuda yang juga lagi menebar keromantisan, saat dikantin keduanya bertemu dengan Darren yang juga lagi memakan bekalnya. Heran saja sebenarnya lelaki berdimple itu memiliki berapa bekal hingga bisa memakannya dua kali, Jaesi menghampiri meja sahabatnya lalu mengulas senyum tipis, ketika itu Darren masih belum menyadari kehadirannya. "Aku mau baca diperpustakaan," Jaesi menolehkan kepalanya cepat sebenarnya pemuda ini maunya bagaimana.


"Kamu aja aku gak ikut," senyum Jaesi membuat Marco ikut mengulum bibirnya ke dalam lalu melengang pergi dari kantin, karena masih jam kosong banyak siswa yang masih berada di area luar kelas.


__ADS_2