Vilanian

Vilanian
1


__ADS_3

Jaesi membuang wajah tak suka pada Cilla.


Jaesi melangkah pelan kakinya dan nengabaikan tatapan anak-anak. Hari ini dia terlalu kesal dengan semua orang rasa-rasanya dia ingin cabut sekolah hari ini. Anak perempuan itu memandang jenuh orang-orang yang berpasangan. Bahkan Darren juga lagi tertawa bareng sama Gricella.


"Najis ini sekolah isinya kaum bucin semua," keluhnya yang duduk dipinggir kelas.


"Kaya situ gak bucin ajh mbaknya," Jaesi terkejut langsung menoleh dan orang tersebut adalah Darren yang menyusulnya. Jaesi mengabaikan cerocosan Darren dan tetap melempar batu ke lapangan.


"Gue bete! Marco gak balas chat! Jaeran sibuk sendiri. Gue sendirian, bosen banget kalo ngobrolnya sama loe lagi loe lagi!"


Darren mendengus lalu pergi namun dicegah sama Jaesi. Sepertinya cowok itu marah sama Jaesi, dia menghempas tangan gadis itu dengan kasar. Jaesi jadi merasa tak enak telah berkata seperti itu. Lalu Darren kembali dengan costume maskot mampang dan menggoyangkan costum itu seperti badut.


Tawa Jaesi meledak saat melihat Darren berpenampilan seperti itu. "Aduh ... Perut gue..." lirih gadis itu yang menahan sakit karena ketawa.


Darren masih menghibur Jaesi yang sibuk ketawa. Pemuda itu melepas atas kepala maskot dan duduk disamping. "Udah puas ketawanya?" sarkas Darren yang langsung pergi mengganti seragamnya.


Jaesi masih sibuk ketawa dan Darren sudah masuk kedalam area loker.


Jaeran menatapnya dengan bingung begitupun juga Cilla. Cowok itu menghampiri Jaesi namun gadis itu langsung melengang pergi ke arah kantin sambil berlari menyusul Darren yang ada diloker.


Jaesi hanya ingin pemuda selalu ada disampingnya dan tak mempedulikan yang lain. Jaesi terlalu kesal diabaikan seperti ini sama Jaeran, apalagi kehadiran gebetan Jaeran terlalu menganggu menurutnya. "Udah gak usah cemburu gitu," Jaesi menatap Darren kaget dan segera mengelak.


"Apa sih! Orang kaga!"


"Keliatan," Darren menyipitkan matanya karena melihat Marco yang sedang duduk berdua dengan perempuan.


Darren membalikkan tubuh Jaesi agar tak melihat Marco bersama cewek lain. Jaesi mengerutkan kening ngeliat tingkah Darren yang aneh. Jaesi menyingkirkan tubuh Darren, "minggir ah," Jaesi membeku lalu menatap Marco penuh luka.


Jaesi menguasai diri dan berpikir positif bahwa Marco tak menyelingkuhinya. Namun siapa yang tau dengan hati sang gadis. Gadis itu menarik lengan Darren dan duduk dimeja yang cowok itu tempati. "Loe ... Gak marah?" tanya Darren menukik alisnya heran.


"Kenapa harus marah? Gak ada alasan buat gue marah ke Marco. Mereka cuma temen." santai gadis itu yang sedetik kemudian menyapa Marco dengan mendadak. Marco terkejut san raut wajah perempuan yang ada dihadapannya berubah muram.


"Kalian di sini juga? Ko, kok kamu gak balas chat aku?" tanyanya agak sinis. Marco gelagapan tak bisa menjawab pertanyaan Jaesi.


Darren diam dan menyaksikan pembalasan dendam temannya itu. "Darren ntar temenin aku ya ke gramedia, lagian gak guna punya pacar tapi serasa jomlo." sindir Jaesi yang melirik Marco jutek.


Marco langsung berpindah tempat duduk ke dekat Jaesi dan mengajak gadis itu ngobrol. Namun Jaesi terlalu kesal padanya, "kamu kan punya aku nanti aku temenin ya?" bujuk Marco.


Jaesi memutar bola mata malas. Lalu pergi meninggalkan kantin selera makannya hilang karena melihat Marco yang seperti itu. Darren bangkit dan melangkah mengikuti gadis itu.

__ADS_1


Jiwa memang tak pernah merasa puas saat tubuh ini bersamanya namun hati bersama orang lain.


Sepanjang koridor Jaesi tak menanggapi obrolan mereka dengan serius. Sampai Darren berhenti melangkah dan menatapnya dengan serius. "Loe percaya Marco gak selingkuh? Terus kalo Marco ketahuan jalan lagi sama cewek yang sama loe masih tetap percaya?" Jaesi menghembuskan napasnya panjang berbalik mentap Darren yang menatapnya juga.


"Kalo posisi loe di gue? Apa loe bakal berpikir negatif tentang pasangan loe? Nggak kan?" Darren tak tau harus bicara apalagi dengan gadis dihadapannya ini.


Jaesi kembali melangkah dan memainkan ujung roknya. Langkahnya kembali terhenti saat Darren memancing kemarahannya lagi, "kalo saksinya gak cuma gue tapi Jaeran juga apa loe mau percaya?" tanya Darren yang membuang napas kasar. "Emang loe tau apa penyebab mereka baku hantam apa?!" teriaknya dengan lantang hingga mengundang perhatian warga sekolah.


Jaesi masih menjadi pendengar ditempatnya hingga sampai satu detik kemudian dia memukul temannya itu dengan kasar. "Gak sampai satu detik pun loe bahkan berpura-pura jadi orang tolol buat tau mereka baku hantam hanya karena masalah ini, Ren." tukas Jaesi yang pergi menjauh dari pemuda itu dan berbelok ke arah yang berlawanan.


Jaeran menatap keduanya yang sama-sama sendu dari balik pilar sekolah tak kuat menahan rasa jengkel pada Marco yang tega mengkhianati temannya.


Vilanian


Darren melampiaskan semua kemarahannya pada bola basket. Hingga Jantho melihat itu dan ikut bermain menjadi sparing patnernya dia. "Main jangan terlalu nafsu bro, santai ajh." Jantho tertawa meledek namun sayangnya Darren tak lagi dalam situasi baik saat ini.


"Gak lucu," Jantho menghela napasnya panjang lalu duduk dipinggir lapangan sambil menatap teman satu teamnya itu.


"Kenapa? Lagi berantem sama Jaesi?"


"Jaesi itu terlalu bodoh sampe gak bisa bedain mana pacaran mana temenan. Dia terlalu percaya sama Marco sampe diselingkuhin ajh masih bersikap kaya gitu." balas Darren yang gedeg sendiri dengan sikap acuh cewek itu.


Jantho bahkan tak tau jika Marco benar-benar selingkuh. "Mending tebak-tebakkan," Darren sudah terlalu malas dengan permainan teman masa kecilnya itu.


"Apa?" sahutnya malas.


"Kenapa laut asin?"


Darren berpikir sebentar lalu menggaruk tengkuknya. Dia berpikir kalau Jantho memberikan pertanyaan yang sangat garing. "Karena ... Ikannya pipis?" Jantho menggeleng dan segera memberi jawaban.


"Karena ikannya keringatan, bwahahaha."


Darren tersenyum skeptis lalu menendang alat vital Jantho hingga sang empunya mengaduh kesakitan. Cowok itu melangkah santai tanpa peduli umpatan kasar yang tertuju padanya.


Setelah bel pulang berdering dan Jaesi langsung bergegas menuju parkiran menunggu Jaeril menjemputnya. Jaeran menghadang jalannya agar meminta maaf pada Darren. Namun Jaesi ogah melakukannya karena dia seorang perempuan. "Minta maaf sana!" titah Jaeran yang diabaikan oleh Jaesi.


Saat dia mau menolak Cilla datang dan mengajaknya pulang. Wajah kesal Jaesi semakin terlihat jelas. "Udah move on ajh, gue tau loe naksir sama Jaeran." sambar Darren yang melangkah pergi meninggalkan kelas. Pipinya merona, Jaesi menyangkal pernyataan tersebut.


"Apaan sih!" ketus Jaesi

__ADS_1


Darren tetap acuh dan tak mau mendengarkan bantahan itu. Jaesi mendengkus sebal lalu meninju lengan cowok itu kemudian berlari mengarah ke parkiran.


Langkahnya jadi memelan saat dia kembali memergoki Marco sedang boncengan berdua dengan orang yang sama. "Apa gue salah nilai sikap Marco?" gumamnya pelan.


"Terima nasib ajh kalo udah tau kaya gitu." Darren langsung melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


Marco pergi tanpa menoleh dan cewek yang dibonceng oleh Marco menyeringai jahat.


Tak beberapa lama Jaeril sampai dan segera melesat pulang ke rumah mereka.


Jaeril melempar kunci dan langsung sibuk dengan gamenya. "Yuhuuu!" teriak gadis itu mendapat lemparan bantal dari adiknya.


"Berisik!"


"Sirik tanda tak mampu," ledeknya menggoda lalu melangang masuk ke kamar.


Jaeril melotot pada Jaesi dan kemudian berlari mengejarnya. Gadis itu masih meledek sang adik hingga Jaeril berteriak marah-marah.


"KAKAK!!!" teriaknya keras. Untungnya rumah sedang sepi saat ini. Karena kedua orang tuanya sedang ada acara di tempat lain.


"Berisik bocah!" balas Jaesi tak mau kalah.


"LOE JUGA SAMA PEA! JANGAN SOK TUA DAH?!" teriak Jaeril jengkel. Namun sahutannya tak berbalas, Jaesi menatap lelah pada sang adik yang dari balik pintu kamar.


Jaesi membuka kenop pintu saat melihat siapa yang datang gadis itu kembali menutup pintu kamarnya. Gadis itu menatap kosong atap kamarnya. Menerawang apa yang kedua temannya lakukan dirumahnya. "Bicot!" pekik Jaesi masih berteriak pada Jaeril.


Suara pekikkan kembali memekakkan telinganya. Gadis itu hampir mengumpat saat Jaeril memanggilnya dengan layak. Ya dengan layak, kenapa bisa? Karena panggilan yang paling dia sesali sejak mereka kecil. "Yaya ada yang mau ketemu ama loe," Jaeril terkikik geli saat panggil itu berhasil membuat emosi kakaknya meluap.


"Gak usah teriak bego! JANGAN PANGGIL YAYA?!! KAMPRET!!" emosi Jaesi tersulut lalu tawa menggelegar Jaeril meledak. Cowok itu kembali meledek sang kakak.


"Yayaaa, dicari ini sama kembaran pangeran disney." balas Jaeril tak peduli dengan protesan Jaesi.


"Bodo amat!"


Jaeril melangkah pergi mendekati kamar Jaesi. Lalu sebelum cowok itu sampai sang kakak sudah memberi ancaman padanya. "Jangan naik atau loe gua bunuh?!" namun sepertinya Jaeril tak takut pada ancaman itu.


"Yaya ini udah ditungguin!!" Jaesi terlalu kesal pada adiknya sampai-sampai dia tak mau mendengar panggilan itu lagi.


Suara notifikasi berbunyi dari ponselnya. Dengan cepat dia membuka lock ponselnya. Namun bukan chat Marco yang seperti dia harapkan melainkan chat orang yang teramat dia malaskan sedari tadi.

__ADS_1


Jaeran: gue udh dbwh sm Cilla cpt kluar!


__ADS_2