Vilanian

Vilanian
7


__ADS_3

Jaeril memakan cheese stick yang dibawa oleh sang gadis lalu menatap wajah kakaknya beberapa menit, tidak terlihat kecewa seperti menit sebelumnya. Gadis itu tak terlihat sekesal tadi disaat pulang dari kencannya, apa karena Jaesi cuma duduk diam bersandar pada punggung sofa, sesorean sang kakak tak banyak tingkah seperti biasanya, pemuda itu agak membungkuk dan menatap manik legam Jaesi. "Daripada nangis kaya gini, mending jadi sparing gue kakak. Mingdep gue ada tournament." sebenarnya agak malas' bermain dengan adiknya itu, pasalnya Jaeril itu berbeda seni beladiri darinya. Lelaki itu tenaganya jauh lebih kuat dan dalam tehniknya daripada dirinya, ...


Akan tetapi gadis itu banyak diajari oleh sang adik yang langsung membenarkan jika ada kesalahan terhadap tehnik menguasai milik kakaknya itu. "Gue malas sebenarnya, bukan apa-apa. Ril, lagi gak mau pake tenaga dalam aja. Besok ada latihan soalnya kalo gue pake buat lawan elo, yang ada nanti gue tumbang." tolak Jaesi yang tak mau jadi korban sang adik.


"Mungkin buat sebagian yang gak tau jutsu itu bakal selalu berpikir kaya gitu, tapi loe gak tau kak. Kalo gue selalu bisa menggunakan tenaga dalam gue dengan baik, hehe. Jangan bosen ya, latihan sama gue." Jaesi mengusak rambut Jaeril dengan gemas, keduanya melepas tawa saling meledek.


Dulu Jaesi pernah merasa dirinya mengalami sial karena memiliki adik seperti Jaeril namun seiring berjalannya waktu, gadis itu kini mengerti kenapa tuhan mengirimkan adik seperti seorang Jaeril. Meski kadang tak berguna dan menyebalkan, akan tetapi gadis itu selalu terhibur dengan sikap konyol sang adik. Jaesi memutar bola matanya jengah saat adiknya selalu mengejeknya dengan sikap yang sangat minta dihantam, namun lelaki itu tetap melakukannya dan tak akan mau berhenti.


Jaesi baru habis selesai melakukan hal yang paling membuatnya malas sebagai pelajar, gadis itu baru' saja selesai mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh guru-guru disekolah. Ponselnya bergetar ketika sang gadis tengah mencuci piring sehabis makan malam, Jaeril tak mau menggantikan posisinya kala itu dan terpaksa harus ia selesaikan terlebih dulu baru meraih ponselnya. "Pelit banget! Awas ya!" gertakan itu hanya dibalas dengan anggukan kepala meledek.


"Gak apa-apa pelit yang penting ganteng," ejek Jaeril.


"Apaan ganteng, gantung loe mah, najis banget gue punya adik kaya loe! Euw banget," lengos gadis itu yang berjalan menuju ruang depan. Gadis itu tak menyalakan saluran televisi namun ia juga tak memainkan ponselnya kala itu, sampai tak lama sang Mama datang membawa kue Malvin kesukaannya.


"Kamu tau gak itu kue dari siapa?" Jaesi menghentikan kunyahannya saat mendengar sang mama berkata demikian, lalu ia meletakkan kembali potongan kue tersebut dan segera kembali ke dalam kamarnya.


"Siapa?"

__ADS_1


"Calon mantu mama," jangan lupa senyum menggoda khas sang mama yang membuat Jaesi kian malas memakan kue tersebut lalu gadis itu hampir tersedak karena sang mama menyebutkan kata 'calon mantu mama'.


"Siapa yang mama sebut calon mantu mama?"


"Jaeran," Jaesi sudah duga akan hal ini sebelumnya. Sedangkan Jaeran tengah lebih-lebihkan cerita kepada sang ibunda tercinta saat memberikan kue tersebut, lelaki itu menarik senyum menyeringai ketika sang mama percaya begitu saja padanya.


Jaeran menyampirkan jaketnya pada gantungan baju lalu merebahkan dirinya di atas kasur berukuran besar, lelaki memainkan ponselnya seraya memasang wajah tanpa dosa. Lelaki kemudian memandang ke arah pintu keluar balkon kamarnya pada saat hendak menutupnya, Jaeran tak terkejut dengan tingkah Jaesi yang layak orang tak tau sopan santun. "Ada pintu kenapa harus selalu lewat sana?" Jaesi tak merespon kemudian menaruh kotak bekal yang berisi kue Malvin kesukaannya itu.


"Gak usah sok perhatian," desisan itu cukup tajam.


"Gue emang perhatian terhadap perempuan yang gue sayang," sahut Jaeran. Tak mau dibuat ge'er perempuan tersebut langsung memutar bola matanya malas.


Jaeran terperanjat ketika mendengar suara pintu terbuka dari arah luar pemuda yang kini tengah memandangi wajahnya dengan tatapan menggoda itu membuat sang empunya kamar merasa risih karena tatapan tak bersahabat itu, "siapa tadi?" kata Jacob yang duduk di kursi meja belajar.


"Bukan siapa-siapa,"


"Masa?" goda lelaki itu lagi. Jaeran menggeleng sambil menatap sang kakak dengan tatapan mata muak akan gurauan itu, lalu Jacob beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari kamarnya tatapan matanya tiba-tiba jadi serius dan tegas.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyanya gak nyaman.


Jacob tak mengatakan apa-apa kemudian melengos keluar kamarnya lelaki itu memandang pintu yang mulai tertutup rapat, tak lama sosok adiknya keluar dari kamar twrsebut dan sudah berpenampilan rapih. Agak aneh menurut Jacob karena seingatnya adik lelakinya itu tak memiliki janji dengan Jaesi. "Mau ke mana?"


"Mau ketemu Cilla, kenapa?" lelaki jangkung itu menggeleng pelan lalu masuk ke dalam dapur. Jacob pikir Jaeran sudah pergi ternyata ia salah, nyatanya pemuda tersebut masih berada di depan sana.


Jacob menghela panjang, "gak pernah sadar sama perasaan sendiri heran, dia kaya gitu gunanya apaaan kalo bukan buat move on!" seru lelaki tinggi itu menggebu.


Perempuan yang saat ini tengah memotong-motong kentang goreng tepung yang dirinya buat itu mengalihkan pandangannya ketika melihat seseorang mengetuk pintu rumahnya, ia meneriaki nama sang adik yang tak kunjung menyahuti dirinya lantaran memakai earphone ditelinganya, Jaesi menghentikan aktivitasnya kemudian mencuci tangan sebelum melangkah untuk membuka pintu depan. Sejujurnya gadis itu tak terkejut dengan kehadiran mereka Darren dan dua orang yang sudah bisa ia tebak siapa, "kalian ngapain ke sini?"


"Mau minta sumbangan," decak Darren yang melangkah menuju dalam rumah. Jaesi mendecih kecil saat pemuda itu mengatakan hal konyol tersebut.


"Gak nerima sumbangan," perempuan itu pergi meninggalkan halaman rumah dan kembali pada aktivitasnya, agak sungkan sebenarnya mendapati Mita yang tengah berada disampingnya Yoko. Pasalnya gadis cantik itu merupakan sahabat dari Cilla.


Jadi sebenarnya tidak semua yang terlihat baik itu baik, menurut persepsi Jaesi seperti itu karena dia juga tak bisa mengatakan niat buruk teman Cilla itu selama disampingnya ada sosok yang selalu ingin mengajaknya bertengkar kaya pemuda seperti manusia sarden satu ini. "Apa!" sahut gadis itu sewot.


Jadi sebenarnya tidak semua yang terlihat baik itu baik, menurut persepsi Jaesi seperti itu karena dia juga tak bisa mengatakan niat buruk teman Cilla itu selama disampingnya ada sosok yang selalu ingin mengajaknya bertengkar kaya pemuda seperti manusia sarden satu ini. "Apa!" sahut gadis itu sewot.

__ADS_1


Darren memutar bola matanya malas lalu memandang sinis perempuan yang kini tengah memainkan Nintendo milik adiknya itu, pemuda berdimple itu mencibirnya saat kalah melawan Yoko. Saat hendak melanjutkan aktivitasnya tiba-tiba suara pintu menginterupsi mereka, Jaesi berjalan dengan ogahnya. Matanya berbinar seketika ketika melihat siapa yang datang menemuinya. "Lha gue pikir loe dating! Kok sendiri?" Jaeran merangkulnya lalu berjalan ke arah dalam rumah.


"Loe udah gak marah?" tegur pemuda itu hati-hati, Jaesi mengernyit heran lalu menarik sudut bibirnya melengkung kecil seraya menggeleng pelan.


__ADS_2