Vilanian

Vilanian
23


__ADS_3

Jaeran mengerti kenapa hubungannya kurang begitu baik sama Jaesi akhir-akhir ini karena kedekatan kakaknya sama sahabat perempuannya tersebut seakan Jacob ingin menyainginya dalam waktu singkat, gadis itu bahkan sudah pergi dari beberapa jam lalu. Jaesi memutar bola matanya jengah saat Darren terus-terusan mengomentari penampilannya dan sekarang gadis itu lagi ada di kedai chatime bersama teman lelakinya itu, Darren tersedak thai tea miliknya saat mendengar Jaesi mempunyai firasat jelek mengenai hubungan ketiganya. "Loe tau apa yang lebih jelek dari ini?"


"Elo," sahut gadis yang tampak acuh itu.


"Ey, gue tau loe suka tapi gak segini juga! Pikirin Marco, pikirin juga Cilla dan kebahagiaan elo bukan sama Jaeran." Jaesi merapatkan bibirnya merenggut kesal lalu membuang mukanya ke arah lain, pandang tertuju pada satu orang yang ia kenal. Jaesi tanpa sadar beranjak dan meninggalkan Darren tengah mengocehkan dirinya dan kebodohan gadis itu, pemuda berdimple itu sama sekali gak sadar kalau Jaesi tidak ada di hadapannya. "Gue gak pernah minta el—o, lah tu bocah ke mana?" Jaesi bertemu Marco di mall itu bersama Vanilla. Gadis yang lagi nongkrong itu benar-benar kesal sama kelakuan Marco, selama ia sakit tak pernah ada untuknya dan hanya beberapa kali jenguk saja selebihnya selalu keluarga dan teman-temannya yang datang. Marco mengulas senyum manis pada gadis di bawahnya itu bahkan tak terlihat tertekan pada saat mengantarnya berbelanja seperti ini.


"Marco!" panggilnya keras keduanya menoleh tetapi Vanilla tampak biasa saja dan Marco agak sedikit tergagap, hey! Ini bukan kali pertamanya namun rasanya agak beda seperti sebelumnnya. "Kamu ngapain di sini sama dia?" tunjuk Jaesi dengan perasaan gak suka.


"Nemenin dia belanja, kenapa? Kamu sendiri ngapain di sini bukannya aku udah bilang buat jauhin Jaeran?" Jaesi diam saja sembari menghela panjang sebelum menjawab rentetan pertanyaan itu.


Jaesi melengos saat seseorang mencuri kesempatannya untuk bicara, "dia sama gue. Kenapa gak boleh? Loe aja boleh sama Vani masa Jaesi gak boleh sama cowok lain. Itu gak adil men!" Darren merangkul pinggang temannya lalu melirik sinis sikap menyebalkan milik Vanilla, tangannya mengepal kuat tak lama satu pasangan lagi datang tanpa di undang. Cilla menarik tangan Jaeran ke arah toko yang sama seperti mereka lalu ekspresi dari sang cowok pun sama masamnya kaya yang ditunjukan Jaesi, Cilla menyapa ke empatnya lalu bergabung. Jaeran menatap rangkulan dari Darren kemudian melepaskannya secara paksa agak gak suka melihatnya, Cilla masih belum mengetahui hal tersebut: tak lama Jaeran mengajak gebetannya pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Jaesi melepaskan paksa tangan Darren lalu berjalan ke arah pintu keluar diikuti oleh pemuda dimple itu, "elo gak usah sampai segitunya bantu gue." Darren pura-pura tak mendengar satu detik kemudian sebuah hantaman menyapa pipi Darren, pemuda itu terkejut dia bermaksud menolong tapi malah dapat hadiah manis dari Marco. Jaesi kaget banget dan melihat kebelakang tubuhnya badan besar Marco menariknya dengan paksa hingga si gadis merintih kesakitan. "Sakit! Lepas Marco! Aku bilang lepas, sakit tanganku!" Darren tak terima dan langsung membalasnya. Terjadi perkelahian di sana sedangkan di tempat lain Jaeran lagi asik memilih jaket untuk mereka berdua.


"Loe tuli atau apa!? Lepasin!!! Atau gue bantai di sini!!?" Darren seperti orang yang kesurupan, Cilla penasaran dengan kerumunan itu namun langkah Jaeran masih membuatnya tak bisa berhenti untuk melihat pertunjukan sirkus itu. Darren benar-benar membuat Marco sulit bergerak, tetapi tangis Jaesi menghentikan aksi lelaki yang ada di atas badan Marco itu.


"Darren udah kasian cowok gue," lirih Jaesi yang memeluk tubuh bongsor Marco.


"Elo kenapa sih belain dia terus!" kesal pemuda di depan namun Jaesi sama sekali tak memberikan alasan atau respon sesuai dengan ekspetasinya, Darren melengang pergi lalu meninggalkan Jaesi berdua sama Marco. "terserah."


"Aku pulang dulu, ouh ya, aku udah maafin kamu." Marco kehilangan kata-kata lalu gadis itu berlari mengejar Darren, sepanjang jalan pemuda dimple itu hanya melamun seraya mendiamkan sahabat perempuannya. "Ren, loe gak mau tegur gue?" cicit gadis itu pelan kalau sudah begini Darren mana tega buat pundung kan? Apalagi wajah Jaesi tampak memelas.


"Gue gak bisa!"

__ADS_1


"Itulah dongonya elo, sayang bisa tapi marah gak bisa."


"Ini beda persoalan Darren!!"


"Ini bukan beda persoalan tapi cara loe nanganinnya itu yang bikin elo bego." ketus pemuda itu yang langsung ngegas keluar dari halaman rumah si gadis yang kini termenung di depan pagar rumahnya, Jaesi kehabisan kata. Ya seperti yang dibilang sama Darren tadi ia terlalu bodoh dan lebih bodohnya lagi gadis itu semakin masuk ke dalam lautan luka yang dibuatnya sendiri dengan langkah gontai Jaesi masuk ke dalam rumah sembari melemparkan tasnya ke atas sofa.


"Gue emang tolol," Jaesi menjatuhkan tubuhnya secara kasar ke atas kasur di kamarnya. "gue sayang sama Marco tapi rasa cinta cuma milik Jaeran doang, gue harus apa? Gimana nanti sama persahabatan kita." Jaesi berpikir cintanya sepihak dan akan segera meluapkan rasa cinta itu seiring berjalannya waktu, namun gadis yang lagi ada di rumah itu gak tau bahwa Jaeran juga mulai merasakan keresahan yang sama sepertinya. Perhatiannya Jaeran memang teruntuk Jaesi tapi belum tentu itu rasa cinta dan sayangnya sebagai seseorang yang istimewa. Seharusnya ia tau posisi yang bagus memang cuma teman dan gak lebih apalagi mereka sedekat nadi dan sejiwa juga, Jaesi memandang foto kenangan lama seperti yang dilakukan oleh Jaeran. "kenapa tuhan kasih rasa cinta ke orang yang gak tepat?" ujar keduanya secara bersamaan walaupun beda tempat. Jaeril menghela panjang saat melihat kakaknya kaya perempuan nelangsa, helaan berat yang dikeluarkan oleh lelaki di depan pintu kamar itu sama sekali gak membuat Jaesi menoleh atau menerima atensinya sama sekali, gadis itu sibuk termenung dengan angannya sendiri.


"Kata orang temenan itu awal dari rasa suka? Berarti cinta itu ada karena biasa." Jaesi benar-benar menulikan pendengaran, gadis itu tergelak entah apa yang ditertawakan lalu tiba-tiba menangis sendiri begitupun seterusnya. Jaeril jadi takut sendiri melihat kondisi kakaknya yang kaya begitu, "ih, ih, idih. Kenapa tuh!" serunya takut lalu melangkah pergi dengan bergedik ngeri akan tingkah stress kakaknya. Mama melihat itu hanya menepuk pundak anak bungsunya lalu menatap heran dan segera bertanya pada Jaeril.


"Kamu kenapa?"

__ADS_1


"Kakak kayanya udah gila deh ma. Soalnya nangis sama ketawa sendiri layaknya orang sarap!" celoteh Jaeril yang di sambut tawa dari sang mama anak laki-lakinya itu membuatnya tergelak dengan gelinya, sampai sakit perutnya. "mama! Ini serius, kayanya kita manggil psikolog aja deh!" mama menggeleng pelan sembari mengusap air matanya lalu mengulas senyum menawan khasnya.


"Kakak kamu gak apa-apa, dia cuma stress aja." tapi Jaeril gak yakin orang saat dia melihatnya tadi Jaesi tampak begitu kehilangan akal, dan yang menjadi bahan omongan keduanya turun memandang aneh adik juga mamanya. "gak apa-apa kan, mama udah bilang sama kamu." bisik mama dan Jaeril mengulum bibirnya lega.


__ADS_2