
note: seru gak sih? makin out of the box ya Jaerannya? gimana-gimana kesan kalian sejauh ini? komen jangan lupa xixixi. lebih nakal siapa kira-kira, kalian tim Jaesi-Marco balikan atau tim Jaesi-Jaeran pisah? JAWAB YA! MAKSA! enggak deng terserah kalian aja.
"Jaesi gue menyesal," gadis itu udah gak merespon lagi. selanjutnya hanya protesan dari murid-murid kelasnya pada guru bahasa indonesia, Jaeran tetap memandang penuh berbanding terbalik sama teman sebangkunya yang merasa telah ketinggalan sesuatu. selepas kelas Jaesi melangkahkan kakinya ke arah ruang guru sejauh ini belum ada pergunjingan mengenai hubungan persahabatan mereka, ya orang-orang taunya Jaesi dan Jaeran masih tetap akur walaupun ada banyak masalah. gak tau kenapa semenjak kejadian itu cowok itu jadi agak lebay dan alay, jarang kumpul sama teman basketnya, gak pernah ngapelin Cilla lagi. jadi terus berdiri di dekat Jaesi agak luluh sebenarnya tapi kalau mengingat kelakuan pemuda itu Jaesi tetap meneguhkan hatinya.
"Bisa stop gak?" desis gadis itu mulai risih.
"Gak bisa." sahut lelaki tersebut seenaknya, Jaeran bahkan tetap melakukan apa yang ia mau dari awal. selama ini pemuda itu terlalu mencari yang jauh sampai yang terdekatnya dirinya abaikan.
"Jaeran, jangan kaya bocah."
"Gue cuma mau loe maafin dosa gue. sesusah itu ya?!" cowok itu mulai kesal dan menunjukkan rasa frustrasi lalu di pemuda tetap menahan lengan gadis yang mencoba untuk kembali berjalan buat meninggalkannya, "Jaes, ayolah." pinta pemuda itu yang merengek seperti anak-anak namun gadis di depannya melengos memalingkan wajahnya begitu saja.
"Jangan bikin gue marah, Jaeran." Jaesi berdecak lalu menepis lengan pemuda itu di belakang mereka seseorang tengah mengerutkan dahinya bingung akan pemandangan itu, bahkan gadis yang berada di dalam dekapannya tersebut gak bisa menahan rasa sesak. "Cilla gimana, loe pernah gak sih mikirin dia. gue gak mau nantinya di anggap pho," cicit Jaesi dengan lesu.
__ADS_1
"Jaesi, jangan hamil. gue gak siap." masalah ini semakin keruh gak ada jalan lagi bagi gadis itu buat tetap ada di sana, papa menunda penerbangannya dan mama mau Jaesi harus bisa selesai sekolahnya. cewek itu dituntut akan banyak hal ia tau karena sudah tersirat jelas meskipun mama sama papa gak bilang apa pun. Jaeril berjalan dengan cepat ia gak setuju kalau harus ditunjuk sebagai perwakilan dari sekolah untuk Sains nanti, pemuda itu berlari ke setiap lorong sekolah mencari sosok Marissa yang mendadak gak bisa pemuda tersebut temuin.
Marissa terkejut saat namanya disebut sama lelaki yang berlari dari arah belakang, "Marissa!" gadis yang lagi ada di perpustakaan itu sontak saja menipiskan bibirnya.
"Apasih, Ril. jangan berisik ini perpus."
"Loe kan yang nulis nama gue tadi!" Marissa memutar bola matanya malas lalu kembali pada aktivitas awalnya cowok yang ada di depannya itu malah ikut duduk seraya memohon agar gadis tersebut menghapus namanya ... namun bukannya menuruti permintaan itu Jaeril malah semakin dikerjai oleh Marissa. "gue gak mau tau pokoknya nama gue udah harus gak ada dari buku hitam itu."
"Emang kenapa si kalo ikut sains? gak akan buat loe bego." cibir gadis tersebut, cowok itu terlihat melamun dan banyak pikiran halo inilah yang menjadi alasan utama bagi Jaeril terus menolak buat diajukan ke guru-guru untuk menjadi perwakilan sains. Marissa jelas mengerti akan permasalahan Jaeril namun dirinya sama sekali gak ingin seseorang di dekatnya itu mengalami kecemasan, gadis itu menatap lurus pemuda tersebut.
"Apasih! siapa yang liatin elo! pede banget." agak salting diliat secara dekat seperti itu sama Jaeril lalu cowok itu meletakkan kepalanya tiduran di atas meja, dan lama-lama ketiduran. anginnya memang enak dibuat tidur apalagi sedang hujan, Marissa rasa pemandangan kaya begini gak boleh terlewat begitu saja. "tampan." puji gadis itu.
"Tau kok."
__ADS_1
"Siapa?"
"Gue 'kan?"
"kok pede." Jaeril mengangkat kepalanya lalu menghadap ke arah gadis itu, Marissa merona saat ditatap seperti itu namun wajahnya ia tutupi dengan buku bacaannya. "apasih!" jelas gadis itu akan lebih marah dan merasa salah tingkah, pemuda itu sama sekali nggak kelihatan rasa bersalah.
"Loe malu ya," ujar lelaki itu yang menatap lurus ke arah jendela perpustakaan sembari tersenyum.
"Gimana?"
"Gak gimana-gimana," Jaeril sama sekali gak memerhatikannya lagi dan langsung pergi tetapi permasalahan tentang sains itu belum berakhir. gadis yang masih ada di dalam perpustakaan itu memandangi punggung cowok yang ada di depannya hingga menghilang di balik pintu tersebut lalu nggak lama temannya datang dan mengatakan bahwa dirinya serta Jaeril terpilih seleksi berikutnya ... Jaeril benar-benar gak tau kalau ulangan harian tadi merupakan bagian dari seleksi sains.
Marissa senang jujur saja ia gak berharap banyak sama lomba ini tetapi sudah ia duga pasti cowok itu masuk seleksinya. "seriusan?!" Bara mengangguk lalu melengos pergi dari sana sembari memberikan buku pinjamannya itu. Marissa segera mengirimkan pesan pada Jaeril, hari terus berganti sampai waktunya telah tiba mereka berdua di olimpiade sains: itu gak hanya sekolah mereka saja tetapi ada sekolah kakaknya juga. kakaknya juga menonton perlombaan itu akan tetapi gadis yang duduknya enggak jauh dari para guru-guru itu membuat sang pemuda menoleh ke arah jarum jam 02.00 namun fokusnya hanya pada perlombaan hari ini.
__ADS_1
Jaesi menyemangati adik laki-lakinya lalu kembali duduk di sebelah Marco, fyi, gadis itu datang bersamanya. karena gak ada pilihan lain buat menghidari Jaeran dan bala tentaranya, lagipula gak ada salahnya berangkat bareng Marco. "gue ke toilet dulu," pamit Marco yang bergegas keluar dari area perlombaan Jaesi merasa pusing udah seminggu dirinya merasakan itu akan tetapi dirinya gak pernah mengatakan pada orang tuanya. yang menjadi ketakutannya adalah bagaiamana kalau hamil? lalu apa yang harus ia lakukan? apa kedua orang tuanya masih mau menerimanya? pertanyaan gak masuk akal terus saja menggerogotinya dari dalam ke khawatiran lain mulai muncul. lantas apa dirinya akan sungguh-sungguh di asingkan? Jaeran bagaiamana nantinyahanya pertanyaan kosong yang memenuhinya saat ini.