Vilanian

Vilanian
24


__ADS_3

Jaesi duduk bersantai seraya menikmati angin yang menerpa wajahnya di halaman belakang rumah, gadis itu mendapat telpon saat lagi diam sendiri di kursi belakang rumah. Gadis yang hampir jatuh karena rasa terkejutnya itu langsung menoleh ke arah belahan lain rumahnya walau tau siapa orang yang memanggilnya gadis tersebut tetap gak mau menyahutinya, dirinya enggan berdebat sama Marco. "JAESI ADA MARCO!!" pekik mama yang ada di dalam rumah, Jaeran agak aneh sama sikap acuh sahabat sekaligus adik perempuannya itu, meski bukan adik kandung tapi Jaesi sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Jaesi menahan rasa marahnya terhadap situasi ini lalu menghapus jejak air matanya dan lekas menghampiri pacarnya, "mama tinggal dulu ya." Jaesi mengangguk pelan. Marco tak sama sekali senyum wajahnya menunjukan sebaliknya dingin dan penuh keirian hati.


"Gimana biar kita bisa kaya dulu lagi?" Jaesi melirih pelan lalu menghela panjang. Bukan dia tak mau bercerita pada dua sahabatnya tapi gadis itu merasa masih bisa menanganinya sendiri, tapi masalahnya semakin melebar dan membuat jurang di antara keduanya semakin nyata. "Aku mau kita yang dulu, kita yang selalu bahagia. Kita yang selalu bareng." Marco juga tak pernah berpikir dulu mereka sesenang itu kalau jalan bareng Jaesi yang ada dipikirannya hanya cara membuat Jaesi menangis dan menangis, karena kalau boleh jujur bukan dirinya alasan Jaesi selalu tersenyum dan bahagia. Marco merenung dengan setiap ucapan yang Jaesi keluarkan ia bahkan tidak tau kalau semuanya membuat Jaesi bahagia.


"Ouh kamu merasa alasan kebahagiaanmu aku?" Jaesi terkejut atas apa yang diakui Marco, "aku pikir di dalam sana hanya ada Jaeran doang."


"Kenapa kamu selalu libatkan orang lain."


"Jaeran bukan orang lain. Tapi dia sahabat kamu kan!" Marco memberi penekanan pada setiap katanya dan memberikan reaksi santai namun penuh dengan kesinisan, hanya ada satu hal yang membuat mereka berbaikan dan Jaesi benar-benar melupakan Jaeran ya itu pindah sekolah. Tapi itu mustahil dengan semua yang sudah terjadi dan apa yang dilaluinya bersama teman-teman sekolahnya tak mungkin ada yang menerima siswa di tengah semester seperti ini. "Bener bukan?" desis Marco yang mulai kesal. Marco masih tetap memandang wajah Jaesi namun gadis itu menatap ke arah lain dan tersenyum malu padahal cowok disebelahnya juga gak melakukan apa pun. "Cuma ada satu cara agar kita bisa sama-sama, lupain Jaeran. Lupain persahabatan kalian, atau kita gak akan pernah membaik." Jaesi menghela berat.


"Apa aku kurang melakukan pengorbanan? Sejauh apa kamu tau tentang aku sama Jaeran."

__ADS_1


"Pengorbanan? Apa yang kamu maksud pengorbanan itu adalah rusaknya hubungan kita?"


"Kamu kenapa selalu sangkut pautin semuanya sama persahabatan aku dan Jaeran. Apa gak sebaiknya kamu berkaca ke diri sendiri?! Vanilla itu siapa!!" suara Jaesi mulai meninggi dan langsung membentaknya Marco kaget jujur saja, ia tak pernah mendengar bentakan sekeras itu dari Jaesi.


"Aku sama dia itu cuma—"


"Apa?! Apa?! Mau bilang kalian hanya sebatas adik-adikkan?! Itu basi." Marco mengulum bibirnya yang basah lalui tertawa sarkas pada pacarnya. "Kamu bilang bakal jauhin Vani layaknya aku jauhin Jaeran apa buktinya!!"


"Gue harus ikutin mobil itu, Jaesi harus selamat sampai tujuan." Marco melirik spion lalu menghela kasar.


"Kamu yakin sendirian?" Jaesi mengangguk lalu kembali pada arah jalanan, gadis itu bahkan gak tau kalau Jaeran tadi lewat di hadapannya. Marco seakan meyakinkan gadis di kursi samping kemudi bahwa mereka tengah dibuntuti oleh seseorang yang tak lain adalah Jaeran, "kamu gak lagi bohong sama aku, kan?" desis pemuda yang terus saja mendesak Jaesi.

__ADS_1


"Kamu gak percaya sama aku?" tembak Jaesi pada Marco yang mendadak gak bisa berkata apa pun.


"Iya."


Seharusnya Jaesi sudah duga karena semenjak kenal Vanilla pacar berubah begitulah pemikiran Jaesi, tetapi gadis itu gak mengerti kalau dirinya memang hanya dipermainkan. Vanilla lagi-lagi menelpon Marco itu membuat Jaesi agak jengkel sama tindaknya, Jaeran kehilang jejak dan merasa sangat sial saat kehilang jejak Jaesi. "Jaes, gue gak bisa pilih loe atau Cilla. Karena kalian sama berartinya dalam hidup gue, maafin aku La, aku gak bisa jadi yang kamu minta." jujur Jaeran berusaha buat gak berhubungan sama Jaesi tapi rasa pedulinya terlalu tinggi dan lagipula gak semudah itu buat seorang Jaeran mengganti posisi Jaesi sebagai adiknya. Cilla jelas memiliki arti yang berbeda dari Jaesi, gadis tersebut special— amat special. Di sekolah Jaesi agak sedikit terlambat karena aksi adu mulutnya sama Marco tapi beruntungnya belum bel masuk.


Darren mengerling ke arah masuknya Jaesi lalu berkata, "tumben hampir telat, biasanya paling on time. Jaeril ngaret lagi?" Jaesi menggeleng. Perlu diketahui bahwa pemuda yang duduk di samping Jaesi itu gak benar-benar tidur dia hanya membalikan kepalanya ke arah jendela agar sahabatnya itu menyangka ia tidur, "Marco? Udah gue bilang kan gak usah sama dia lagi. Loe mau berapa kali di tipu." cibir Darren agak keras pada Jaesi yang lagi menatap buku tulis.


"Gue lebih baik bertahan sama Marco daripada sama seseorang yang bahkan gak pernah tau isi hati gue."


"Jaes, Jaes. Kadang jadi cewek jangan terlalu bloon buat tau orang yang loe maksud itu balas perasaan elo apa kagak." manik Jaesi memandang lurus ke satu objek saja ya itu Jaeran yang juga tengau memikirkannya, walau hati mereka sama-sama tau tapi siapa yang menyangka kalau keduanya saling memikirkan satu sama lain. "terus loe gak turun dipinggir jalan kan? Cuma buat sekadar jemput Vani."

__ADS_1


"Kita berdua udah berkomitmen bakal sama-sama saling menjauh dengan begitu Marco gak akan lirik cewek lain lagi," ujar Jaesi yang beranjak dari duduknya kemudian berjalan ke arah perpustakaan untuk menemui Marco di sana. Gak lama Jaeran ikut berdiri dan jalan ke arah yang sama buat menenangkan diri.


__ADS_2