
Mama biasanya akan masak pagi-pagi dan selalu memasakan makanan favorite keluarganya tapi sejak beberapa hari mama terus saja bersantai dan enggan melakukan aktivitas rumahan, Jaesi gak jarang memberitahu hal yang benar menurut ibunya tetapi herannya gadis itu selalu berakhir sewot. Itu juga kalau gak dipisahin gak mau kalah sama mamanya sendiri, hari ini Jaesi ingin pergi ke sebuah cafe yang ada di dekat bahu jalan komplek walau gak jauh-jauh banget tapi seenggaknya masih bisa terpantau keluarganya. Mama menatap wajah anak perempuannya yang tampak menunjukan wajah kacaunya, ibu dari dua anak itu memandang intens Jaesi dengan gurat kesal. Jaesi menghela panjang sembari melempar tasnya ke atas sofa dan mengumpat pelan itu pun kalau tidak di dengar sang mama yang ada di belakangnya, Jaesi merasa ditipu oleh Marco karena selalu membuat perasaannya down dan diterbangkan lagi seenak jidat. Jaeril yang mengerti tak banyak bicara langsung menghubungi Marissa adik dari Marco, "gue kasih tau kelakuan abang loe yang sok cakep! Eh, dia sama bejatnya sama loe." Jaeril malah jadi ribut sendiri dengan Marissa karena ulahnya tak ada duanya.
Jaesi jadi kacau sendiri karena tak ada yang bisa menolongnya lalu tiba-tiba sebuah ide muncul di dalam benaknya, ide yang akan melibatkan Jaeran sama masalahnya. Gadis itu lari ke arah balkon dan berteriak dari samping sembari melompat kecil, di lihatnya tak ada siapa pun dalam kamar cowok itu ... setelah dipanggilpun tak ada sahutan sama sekali. "JAERAN!!! JAERAN MALING YUK!! JAERAN PETTER SMITH YANG OTAKNYA CUMA SEPERTIGA DARI OTAK EINSTEIN!!! WOY!!! BUDEK YA!!" karena capek manggilin mulu akhirnya Jaesi turun ke bawah dan berjalan ke rumah samping. "Bunda!" Sapa Jaesi yang masih agak ramah.
"Eh, Jaes. Kenapa, nak?"
"Jaeran di rumah gak?"
"Haduh, dia pergi." Jaesi mencelos mendengarnya lalu memutar tubuhnya seraya berpamitan sama Bunda Muti, gadis itu termenung dan keputar ingatan akan ucapan bunda Muti tadi. Hatinya rasanya seperti diremuk dari dalam dan tak berbentuk lagi, kenapa? Kenapa kaya ada yang aneh sama perasaannya. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan hati seorang Jaesi.
"Yaudah bunda aku pulang dulu," tapi sebelum bunda menyelesaikan ucapannya. Jaesi sudah lebih dulu keluar dari rumah dan tak pamit lagi padanya, karena sesaat anak perempuan itu menanyakan putranya: Jaeran langsung menelpon dan minta dikirimkan nasi kuning sama cah kangkung khas bundanya. Bunda tak enak hati sebenarnya jika melihat raut masam Jaesi tetapi putra bungsunya itu seperti memiliki alasan mengapa bersikap layaknya orang asing pada teman masa kecil sendiri. Cilla merangkulnya lalu tersenyum simpul sama orang disebelahnya, Jaeran ikut tersenyum namun ketika bunda mengatakan Jaesi datang mencari pikirannya jadi pada anak gadis tetangganya itu. Jaesi benar-benar ada di dalam pikirannya kala itu, ia selalu memandang wajah Jaesi yang menjadi lockscreen ponselnya.
__ADS_1
"Nanti kalo kita udah resmi, lockscreennya fotoku ya?" tutur Cilla. Jaeran menghela kemudian mengangguk pelan, jujur saja ia tak bisa mengganti foto lockscreen karena itu sudah lama diambil olehnya saat zaman smp pertengahan. Jadul banget? Pastinya.
"Kalo itu kayanya gak bisa deh."
"Kenapa?"
"Ini foto smp," Cilla mengangguk mengerti walaupun agak sedikit sebal karena itu Jaesi. Penolakan Jaeran bukan berarti apa-apa buat Cilla sendiri, yang artinya gak ada masalah sama hal itu, perhatian Jaeran tertuju sama benda-benda pasangan tapi cowok itu beli bukan buat Cilla melainkan Jaesi yang gak tau mau dikasih kapan. Jaesi sungguh bete sama aktivitasnya ia akhirnya memutuskan buat datang bertemu Jacob walau agak mengejutkan si pemuda, saat ponselnya gadis itu berdering nama Jaeran tertera di sana. Sebenarnya gak ada niatan buat Jacob membajak ponsel Jaesi tapi keliatan adiknya penasaran sekali dengan keberadaan gadis yang lagi ke toilet itu. Jacob membalasnya tanpa sepengetahuan si gadis tapi saat Jaesi balik lelaki itu dengan cepat meletakannya lagi. Jaeran langsung mematikan ponselnya dan mengantunginya wajahnya mendadak jadi muram saat melihat balasan terakhir Jaesi, Jacob cuma mengulum bibirnya pelan.
"Apanya?" Jaesi memutar jengah pada sikap apatis cowok bongsor itu.
"Ipinyi! Hp guelah bambang!" Jaeran pikir tadinya ide bagus kalau mereka ke cafe keluarganya, tapi itu akan berdampak buruk sama Cilla yang lagi sangat senang. Impactnya bisa panjang.
__ADS_1
"Gimana Marco?"
"begitu," jawab Jaesi sekenanya saja. gadis berpikir jika ia mengatakan pada Jacob, pemuda itu akan menjaga baik-baik masalahnya bukan? tidak akan ada yang tau kan? terlebih lagi Jaeran. "dia kayanya benar-benar mikir kalo gue suka Jaeran deh, kalo enggak kenapa dia selalu cari selir dan malah jadi selingkuh? gue gak mau bersikap sok polos tapi ternyata tau semuanya. Jaeran sangka gue bodoh dan gak tau apa-apa, keputusan gue pertahanin Marco itu gak salah, kan?" Jacob tau bagaimana hati Jaesi saat ini. Ia sudah lama menahan beban itu dan sekarang mungkin puncaknya, pria di hadapannya tersebut masih mendengar sampai pada menit berikutnya Jaesi menangis dan mencurahkan semuanya layaknya adik yang sedang mengadu pada kakak laki-lakinya. "gue harus gimana Jack? gue gak mungkin suka, kan?"
"Perasaan loe cuma elo dan tuhan yang tau. Selebihnya gak ada yang tau, mungkin ini sedikit meringkan beban loe tapi coba percaya sama Marco sekali lagi. Itu gak ada salahnya." Jacob belum menyelesaikan ucapannya lalu mengambil tangan Jaesi dan menggenggamnya, "dan satu lagi jangan pernah percaya orang lain kecuali tuhan. Karena loe sendiri gak akan tau kapan elo dikhianatin dan kapan elo akan dibenci, itu aja pesan gue buat loe."
"Tapi gue selalu ikutin mau Marco," lirih Jaesi.
"Emang apa yang dia mau?"
"Jauhin Jaeran," pelan nyaris tak terdengar. Jacob agak kaget tapi ia bisa memaklumi rasa sakit hati Marco sebenarnya pemuda itu sedang mengalami fase di mana dirinya menelan ludahnya sendiri. Marco mulai perhatian pada Jaesi dengan melakukan sikap agresifnya, bahkan Marco jarang ada bersama Vanilla beberapa hari ini.
__ADS_1
"Ikutin, aja dengan begitu kalian bisa membaik." tapi Jaesi gak yakin sama keinginannya, ia sempat memergoki Jaeran lagi jalan sama Cilla di depan rumahnya, Jacob mungkin ingin gadis di depannya mengakui semua perasaannya tanpa adanya keterpaksaan dengan begitu Jaesi bisa memutuskan dengan siapa nanti ia berlabuh. Jaesi tergelak ketika mendengar lelucon dari Jacob, pemuda ini bisa begitu cepat mencairkan suasana haru tersebut dan anehnya Jaesi benar-benar memerankan sosok adik perempuan dengan baik yang disertai sama tawa rendah lelaki itu.