
Play [YUJU - Love Rain]
Malam itu saat malam muhasabah Jaesi duduk dikursi belakang motor Jaeran yang melaju ke arah sekolah, gadis itu dan sahabatnya berangkat bareng namun sepertinya Jaesi gak mau ini semua berlalu dengan mudahnya padahal acara hampir saja dimulai. ketika sampai disekolah agak telat acara baru saja mulai dan mereka gak langsung masuk ke dalam masjid, keduanya duduk dihalaman masjid lalu saling berpandangan satu sama lain: Jaesi tetap memasang wajah senyumnya kemudian bertanya dengan raut polosnya tetapi itu malah memicu rasa marah dalam diri Jaeran, gak berselang lama Darren datang membawa box berisi konsumsi lalu meminta mereka berdua membantunya karena merasa gak ada partisipasinya sama sekali dari mereka berdua. "bantuin kek!!" teriak pemuda berdimple itu kesal lalu melepaskan sandalnya.
Selepas membantu Darren, Jaesi malah berucap terima kasih pada Jaeran yang semakin membuat kedua laki-laki itu gak mengerti. "makasih, makasih buat lukanya. makasih buat persahabatannya. gue tau seharusnya kita gak usah aja saling kenal, 'kan? tapi gue rasa setelah semua ini akhirnya ada perasaan yang gak bisa gue miliki. persahabatan, cinta, kenangan SMA, mantan, gebetan, semuanya bakal jadi momen paling indah buat gue. elo tau kan gak ada yang lebih sayang elo daripada gue, kecemburuan gue sama elo, rasa cinta ini, dan semua hal tentang elo buat gue lebih berwarna. makasih. kenang gue sebagai sahabat baik loe ya? kenang gue sepantasnya. gue sayang banget sama elo Jaeran melebihi apa pun. kebahagiaan elo kebahagiaan gue juga. gue ... secinta itu sama loe." hari terus berganti dan wajah senyum Jaesi gak pernah luntur sejak hari itu Jaeran gak pernah lagi melihat sahabatnya bahkan gak di rumahnya sekalipun, setelah ujian nasionalpun semua tampak kembali normal dan gak ada apapun yang terjadi.
"Elo bahkan belum tau yang sebenarnya gimana, Jaes. tapi dengan mudahnya elo ninggalij gue." gumam pemuda itu yang menutup kopernya lalu bergegas melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Jaeran menunggu kabar Jaesi yang masih abu-abu sedangkan gadisnya sedang bersiap untuk pergi tanpa berniat kembali, Darren mengantarnya ke bandara pada akhirnya cowok berdimple itu keterima disalah satu universitas Zurich. jujur Jaeran menyesali semua yang terjadi di antara mereka bahkan ia gak menyadari perasaannya sendiri terhadap Jaesi, pemuda itu memang kembali lagi sama Cilla tetapi pikiran serta hatinya terus saja mencari keberadaan Jaesi. Jaeran melakukan panggilan pada Jaesi tetapi sama sekali gak ada jawaban dari sahabatnya itu, pemuda tersebut lebih sering bertengkar sama Cilla daripada bahagianya ... ucapan Jaesi seakan menancap di dalam kepalanya.
"Tungguin gue!" pekik Darren gak sabaran.
"Makanya cepetan susulin dong! masa urus Visa aja lama banget!"
"Ya elo enak. lah gue? pertama kali ini, lagian kenapa gak satu kampus aja."
"Idih, mupeng amat loe. nanti tinggal di asrama, 'kan?"
__ADS_1
"Iya, asrama." karena sudah mau terbang Jaesi menghentikan obrolan mereka dan saling berpelukan tanpa gadis itu sadar Jaeran baru saja lewat berpapasan dengannya, sahabatnya itu melanjutkan pendidikan ke Australia. bahkan saat di dalam kabin pesawat saja mereka sesungguh bersebelahan hanya tersekat dengan satu penumpang lain. belum ada beberapa menit mereka bertemu Darren sudah melakukan panggilan video namun ketika Jaesi memutar kameranya sahabat baiknya itu terkejut melihat orang yang gak Jaesi inginkan ada di dekatnya, laki-laki itu terus saja berteriak heboh akan tetapi sontak saja membuat gadis yang memagang ponsel tersebut bingung. "SAMPING LOE!!! SAMPING LOE!!!" tukas Darren heboh.
"Ya oranglah!"
"Jaeran bego!"
"Mana ada!"
"Ada!"
"Otak loe ketinggalan dibandara deh kayanya." satu pesan masuk dan itu dari Jaeran yang gak dipahami adalah mereka satu pesawat tetapi Jaesi benar-benar gak sadar sama sekali. gadis itu menghela panjang lalu mencoba beristirahat saja dengan tidur seusai berbicara sama Darren ditelpon, bahkan bayang-bayang Jaeran sama sekali gak mau lepas darinya.
Jaeran
Elo gak penasaran gue ngapain? wkwk. biasanya loe bakal nanya sih, Njaes elo gak mau tau jawaban dari pernyataan waktu itu?
telat gak sih kalo gue balas sekarang?
__ADS_1
Njaes gue juga. gue juga sama kaya elo. semoga setelah baca chat gue, elo kasih tau dmna keberadaan elo sekarang biar gue samper terus bisa meluk elo
read
Jaesi menangis ketika membaca pesan itu. ia gak mau lagi berada dalam dilema besar dan berakhir jadi merusak segalanya, sekarang yang dipikirkan hanya masa depannya dan juga kepentingan keluarganya bahkan gadis itu nggak lagi mau memikirkan soal kisah cinta apapun atau persahabatan yang merusak masa depannya sendiri ... gadis itu akan tetap menjaga hatinya cuma buat satu orang saja dan gak akan ada pengganti lain selain memiliki perasaan yang berbalas. lantas bagaimana sama keluarga Pears? sesudah Jaesi pergi ke Paris seluruh keluarga memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaan, seperti mama yang memulai arisan di rumah, papa yanh sibuk kerja tetapi gak lupa waktu sama keluarganya sendiri dan Jaeril menambah bimbingan belajarnya.
"Adik nanti antar mama!" pekik mama yang berada di dapur, rumah seakan sepi tanpa pertengkaran dua anaknya. belum apa-apa saja mama sudah rindu pada anak perempuannya sendiri tetapi perempuan setengah baya itu lebih memilih untuk gak memikirkannya, "Jaeril kamu dengar gak?!" ulang mama.
"Iya mama cantik!"
"Kamu teriak ke mama?!"
"Enggak! kan jaraknya jauh mama, nanti kalo gak teriak mama gak dengar!" mama tau anak bungsunya itu hanya berkelit tapi bukannya menghentikan pertengkaran itu mama malah semakin mengamuk dan memotong uang sakunya. mama berusaha banget untuk seperti sang putri agar rumah tidak terlalu sepi dan sunyi perempuan tua itu sangat-sangat mengusahakan agar rumah tetap terasa ramai meski pada kenyataannya bahwa itu tidak seramai dulu. sore itu mama mengantar kue ke rumah Jaeran di sana ibu dari Jaesi agak heran karena pasalnya rumah kediaman Smith begitu sunyi seperti gak ada orang sama sekali di rumah itu; mama Jaesi hanya menaruh kue yang dibuatnya di atas meja.
Jaeril menghela panjang selepas mama keluar rumah di dalam semakin sepi saja bahkan papa juga lagi ada di luar kota untuk urusan pekerjaan, gak lama kemudian telpon rumah berbunyi begitu nyaringnya sehingga anak laki-laki itu mengeluh keberisikan. ketika menerima panggilan itu rupanya telpon tersebut dari sang papa yang meminta berkas map berwarna hijau tua, Jaeril gak mau disalahkan kaalu ada apa-apa jadi lelaki itu lebih baik menunggu sang mama pulang: mama datang dengan wajah murungnya lalu duduk seraya memerhatikan ponsel. "kenapa kamu liatin mama kaya gitu?" ujar mama dengan nada lelah. "ouh, iya rumah sebelah tuh gak ada orang apalagi pergi, ya? kok sepi banget." lanjutnya.
"Mama gak sopan masuk rumah orang." cibir Jaeril.
__ADS_1
"Sembarangan! mba Lis gak ada. padahal udah dipanggilin." balas mama dengan ketus. Jaeril langsung menyampaikan amanat sang papa begitu selesai mendengar ocehan mama tercintanya.