
Jaeril menghela panjang saat menatap cewek yang ada di hadapannya kala itu Marissa kabur dari tempat kemah dan mengatakan banyak yang mengejeknya atas kasus kemarin. Pemuda gak bisa berbuat apa-apa karena sedang dalam masa skorsing, Jaeril menggenggam tangan cewek di sampingnya berusaha menenangkannya: baginya gak ada yang lebih penting dari kesehatan Marissa. "Lo harus makan dan cepet balik ke sana. Guru-guru pasti cari elo." Marissa enggan menjawab perkataannya: hatinya cukup terluka saat Jaeril mengatakan itu.
Baginya cewek yang saat ini duduk bersamanya itu sangatlah berharga karena berawal dari saling memusuhi sekarang mereka kini menjadi sangat dekat bahkan laki-laki itu rela melindungi cewek yang kini tengah menangis dan membuat rekor baru di dalam dunia sekolahnya. Jaeril kadang merasa kasian sama Marissa yang seperti bola pimpong terus digiring hanya pada satu titik aja. Pemuda itu mengantarkan sang pujaan kembali ke sekolah namun yang gak sampai masuk ke dalam karena takut ada yang melihatnya sore itu jadi sore yang penting ... entah keberanian dari mana sampai-sampai cowok itu menyatakan perasaannya pada cewek yang lagi menangis.
"Gue gak bisa apa-apa kalo gak ada elo," lirih Marissa yang menatap lurus dan meredakan sisa tangisnya.
"Sadar gak sih dulu kita gak akur." Jaeril tergelak kecil lalu mengusap pelan kepala ceweknya. Marissa juga kembali mengingat masa-masa itu, padahal guru lain sering banget menyatukan mereka dalam satu kelompokan hanya buat mendamaikan saja. Keduanya sama-sama larut dalam lamunan yang mengingatkan tentang masa lalu mereka lalu tak lama kemudian keduanya saling melempar senyum dan menertawakan diri sendiri.
"Iya, dulu kita gak akur. Kenapa sekarang malah jadi friendzone?"
"Ouh, jadi lo gak anggap pernyataan cinta gue yang barusan?!" omel cowok itu dan sontak saja membuat si gadis tertawa dengan kencangnya, Jaeril senang ketika Marissa sudah mulai tertawa lagi. Walaupun agak kesal juga mendengar ucapan cewek tersebut tapi setidaknya mengurangi luka hatinya: gadis itu masih tersenyum lalu turun dari atas motor sang kekasih kemudian ia memasukkan helmnya ke dalam rumah dan berpamitan pada pemuda tersebut. Perasaannya bahagia ketika mendapatkan pernyataan cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Namun raut wajahnya berubah pada saat sang papa berada di dalam rumah sontak saja itu membuatnya kaget lalu berusaha menguasai diri.
Marissa terus berjalan hingga detik berikutnya gadis itu menggeram kesal karena selalu di atur. "Marissa!" pekik sang papa dengan nada lantang.
__ADS_1
"Apa sih, kenapa papa selalu berusaha buat kehidupan aku kacau."
"Berani ya kamu!"
"Iya! Kenapa?! Papa gak suka!!? Aku bukan Marco yang bisa papa setir gitu aja?!!"
Kehidupannya selalu indah seperti apa yang dikatakan teman-temannya ada kalanya ia merasa ingin akhiri semua yang gadis itu punya karena percuma saja memiliki harta jika dirinya tak merasakan kebahagiaan atau malah sebaliknya penderitaan terus aja menghampirinya. Marissa selama udah cukup kuat menahan beban yang dirinya tanggung karena selama ini hanya marco yang bisa membuatnya terlepas dari siksaan sang papa namun selepas kakak laki-lakinya itu pergi untuk menimba ilmu di negeri paman sam tidak ada lagi yang melindunginya.
Gadis itu menangis seraya menundukkan kepalanya tepat di bawah lekukan lutut sang gadis SMA tetapi itu gak membuat papanya berpikir bahwa perlakuan yang didapat putrinya itu merupakan perlakuan kasar dari seorang ayah ke anak bungsunya. sore itu gadis yang berjalan dengan terseok-seok tersebut melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi, Marissa memutuskan untuk keluar dari acara kemah itu. "papa gak mau tau kamu harus bisa melebihi Marco! kalo kakak kamu mendapatkan universitas Columbia! kamu harus bisa mendapatkan John Hopkins kamu paham!!?" tekan papa Simon.
Jaeril menggeleng pelan saat mendapatkan note dari sang mama karena merasa sudah dewasa dan gak butuh note atas meja: pemuda itu gak habis pikir kenapa mamanya sendiri malah pergi meninggalkan dia sendirian di rumah padahal perempuan tua paruh baya itu tahu jika mereka hanya tinggal berdua saja saat ini. Anak laki-laki itu berjalan ke arah lantai dua kemudian membuka pintu kamarnya, Jaeril sangat menyukai hal-hal yang berbau dengan anime dan manhwa. pemuda itu bahkan memiliki nuansa kamar yang begitu tenang dan seperti tidak terlalu ramai sama seperti Jaesi yang juga menyukai ketenangan pemuda itu pun begitu.
Pemuda itu memandang figura besar yang ada di kamarnya terpampang fotonya dengan Jaesi. Jaeril sangat amat menyanyangi kakak perempuannya walaupun terkadang Jaesi suka gak mau menerimanya sebagai adik tetapi gadis yang mulai beranjak dewasa itu selalu memahaminya. "kak gue kangen sama lo. lagi apa ya elo sekarang?" entah angin apa yang membuat pemuda itu seperti sedang berimajinasi bahwa kakak perempuannya ada di sana saat itu.
"Jadi elo kangen gue?!" pekik Jaesi senang.
__ADS_1
"Gue halu ya?"
"Euy! nyata atuh!" lelaki itu langsung memeluknya begitu saja: tentu Jaesi memiliki maksud kembali ke jakarta. karena gadis itu ingat pengambilan ijazah gak bisa diwakilkan oleh pihak keluarga sebelum cap tiga jari. Jaesi meletakkan bahunya pada punggung sofa kemudian merebahkan badannya.
"kakak, lo tau. Marco gak di indonesia lagi?!" heboh pemuda itu yang menceritakan tentang mantan kakak perempuannya sendiri padahal adik dari mantan kakaknya itu sekarang menyandang status sebagai kekasihnya tetapi ia seakan gak malu dengan hal tersebut.
"Lo serius? seorang Marco melanjutkan kuliah bisnis?"
"Iya, dia rela mengorbankan segalanya demi Marissa." gadis itu membungkam lalu menghela panjang belum lama ini dirinya juga mendengar kabar perihal Jaeran namun sayangnya sampai detik yang sama Jaesi gak bisa mengalihkan perhatiannya terhadap lelaki itu. "kalo cari mama, dia gak ada gue sendirian. mama lagi ke Semarang karena eyang sakit."
"IH KOK GAK DIKASIH TAU?!"
"Ya gimana mau ngasih tau Maemuna! kan situ di luar negeri!" Jaesi meringis kemudian menarik kopernya masuk ke dalam kamar. gadis itu berharap dirinya sama sekali ga bertemu dengan sosok laki-laki yang selama ini ia hindari karena alasan pribadi namun dirinya juga berharap untuk melihat secara langsung namun dari jauh tanpa pengetahuan sang pemilik nama.
"Jaeran Petter Smith, i'm going to miss you."/ "Jaesillya Anastashya Pears. i'm miss you so bad." Jaesi gak tau jika di Australia sana Jaeran juga mengatakan hal yang sama dengan memandang langit. Jaeran mengembuskan napasnya pasrah lalu berlalu begitu saja selepas mengucapkan kata tersebut: keduanya mengucapkan dalam waktu yang bersamaan dan juga mereka mengucapkannya serentak tanpa menyadari jika satu sama lain saling merindukan.
__ADS_1