
Jaeril menghela panjang ketika lagi-lagi melihat sang kakak hanya melamun seperti tak memiliki gairah hidup, pemuda itu bahkan sudah menawarkan banyak makanan juga camilan akan tetapi itu semua tertolak. Perempuan itu tersenyum miris pada dirinya sendiri, bahkan tak sekadar sampai di sana saja; pemuda itu juga melihat kakaknya itu tertawa bagaikan seorang wanita tidak waras. "Kak jangan buat takut gue dong," cicit pemuda itu yang hampir menghubungi nomor kedua orang tuanya.
"Kenapa loe harus takut? Gue gak apa-apa," sahut perempuan itu santai. Jaeril melotot saat mendengar penuturan dari kakak perempuannya, dan langsung memukulinya menggunakan bantal sofa. Jaesi meneriaki lelakinya itu kemudian membalas perbuatannya sang adik. Saat sedang bertengkar seperti ini, seorang laki-laki datang mengunjungi rumahnya dan mengajaknya berkendara mengelilingi kota Jakarta kala itu, Jacob menatap dengan wajah tanpa dosanya, lelaki tersebut hanya ingin membawa Jaesi pergi dari rumah saja sebentar. "Kalo mau ngajak gue kencan nunggu giliran dulu," Jacob mengerutkan keningnya bingung.
"Jangan dengerin, dia halu doang. Marco sibuk jadi gitu." ejek Jaeril yang menertawakan nasibnya Jaesi, lalu menatap perempuan yang kini melengos pergi seraya memberikan peringatan pada sang adik.
Jacob menghela panjang ketika mendengar suara derap langkah kaki seorang laki-laki datang, saat menoleh ke arah pintu. Pemuda itu mendapati sang adik bersandar pada daun pintu sembari tersenyum penuh arti pada sang kakak', perempuan tersebut mengerjapkan matanya kaget' pada saat turun dari atas tangga. Jaeril tampak acuh terhadap dua pemuda yang datang mengunjungi rumahnya hanya untuk mengajaknya pergi, sore itu hari semakin senja dan gadis itu tak bisa memilih diantara kakak beradik ini.
Jaeran mendekat pada Jaesi yang sudah duduk diruang tengah, perempuan itu tersenyum lalu menatap wajah pemuda tersebut dengan datarnya. Jaeril yang melihat hanya diam seraya mengamati keadaan di sana, bahkan Jacob ikut tenggang waktu adiknya itu menggenggam tangan gadis yang membuatnya seperti orang bodoh. "Kenapa ke sini? Gue gak minta loe ke sini," Jaeran tau gadis itu berusaha menjaga jarak dengannya setelah apa yang terjadi di sekolah mereka tadi siang. Namun pemuda tetap bertahan pada keputusannya yang tidak mau memberikan jarak pada Jaesi, cowok itu tersenyum lalu mengangguk sambil menyeruput Americano miliknya.
Gadis itu menghela panjang lalu menarik paksa lengan kakak dari sahabatnya itu pergi meninggalkan rumah, sedangkan Jaeran memegangi tangannya yang lain, membuat perempuan itu tertahan. "Loe gak harus sampai kaya gini buat jauh dari gue," pemuda itu tak akan mengerti bagaimana Marco selalu membuat kepalanya ingin pecah.
Jaeril mendekat pada pemuda yang masih memandangi punggung belakang kakak perempuannya itu, bahkan Jaeril tau jika ada sesuatu yang tak asing didepan matanya. Pemuda itu mengajak orang yang lebih tua darinya itu berjalan-jalan disekitar kompleks, Jaeran tak ada alasan untuk menolaknya; sebenarnya bukan tanpa alasan pula lelaki itu, membatalkan rencananya untuk pergi setelah mendengar penuturan sang kakak laki-lakinya untuk mengajak sahabat perempuannya pergi. Jacob mengantri di bagian depan tiket, perempuan yang menunggu tersebut memainkan ponselnya lalu wajahnya tampak seperti poker face saat lelaki itu kembali dengan film yang sangat tidak disetujuinya, Jaesi tersenyum horor pada Jacob akan tetapi hal ini akan sangat merepotkan jika sang gadis terus saja mempermalukan dirinya sendiri.
Satu setengah jam lebih mereka berdua nonton film tersebut, "kok gue nyesel deh milihnya ya," pelan Jacob yang tengah mengeluh tentang film mereka. Jaesi ingin meneriakinya kala itu namun demikian perempuan tersebut berusaha untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Tadi siapa yang milih Conjuring? Loe kan? Terima aja, siapa tau nanti setannya ngikutin loe." enteng gadis itu setengah menakuti-nakuti, Jaesi tersenyum jahil lalu meletakkan senter ponselnya berada dibawah dagunya. Jacob terkejut dan agak berteriak seperti seorang pria penakut, gadis itu tertawa puas akan ekspresi wajah sang pemuda.
"Ah! Anjir! Jaesillya jangan nakut-nakutin dong!!" omel pemuda tersebut dengan penuh mengomel. Jaesi tertawa senang lalu memukuli tubuhnya yang kekar, perasaan senang yang dimiliki oleh sang gadis melupakan semua hubungannya dengan Marco.
Jaeran
Msh jalan?
Jaesi
Jaeran
Kpn balik gue bsn!
Read
__ADS_1
Jaesi tersenyum lalu menatap punggung tegap Jacob yang melangkah lebih dulu darinya pemuda itu bahkan seakan meninggalkannya sendirian tetapi lelaki itu tetap melambatkan laju kakinya, perempuan tersebut sudah mengantungi ponselnya lagi dan mempercepat langkahnya dan mengobrol santai dengan kakak sahabatnya itu. "Sebenarnya gue gak yakin waktu loe ngajak jalan," tuturnya pelan. Jaesi mendengus dingin ketika menatap punggung tangan besar Jacob.
"Gue juga gak yakin mau ngajak loe, secara loe kan gak pernah memikirkan orang kaya gue." cibir Jacob yang malah mendapat pukul kecil dari gadis cantik disebelahnya, beberapa kali ponselnya berdering tetapi gadis itu mengabaikan pesannya lalu asik berbincang dengan Jacob mengenai apa yang ia rasakan beberapa hari terakhir ini. Terlalu banyak bercerita membuat sang gadis merasa lapar dan kehausan, akan tetapi lelaki itu tak mengajaknya makan disalah satu restoran mall.
"Cewek loe apa gak ilfeel sama keadaan kantong loe ya? Secara anak orang kaya tapi makannya kaki lima," ejek perempuan tersebut yang kemudian mendapat toyoran dari arah samping, menurut Jacob tak ada salahnya untuk mencoba makanan kaki lima selam itu masih dalam kadar yang terbilang sehat. Jacob menggelengkan kepalanya sembari tersenyum heran pada sang gadis, jujur saja Jaesi tidak pernah diajakin ketempat seperti ini sama kekasihnya sendiri. Marco. Rasanya ingin menukar keduanya saja, agar gadis merasa bisa lebih bersyukur karena mendapat perhatian dari orang kaya Jacob.
"Cewek gue bukan orang kaya loe," ujar Jacob sekenanya. "Loe harusnya dulu pilih gue aja, gak usah sama Marco kalo pada akhirnya akan tetap menyakinkan kaya sekarang." cibiran itu masih ditujukan untuk gadis yang tengah melahap makanannya, "kalo kaya gini, gue udah gak bisa sama loe lagi. Kan gue udah ada sekarang." goda lelaki itu.
Jaesi tersenyum lalu menatap punggung tegap Jacob yang melangkah lebih dulu darinya pemuda itu bahkan seakan meninggalkannya sendirian tetapi lelaki itu tetap melambatkan laju kakinya, perempuan tersebut sudah mengantungi ponselnya lagi dan mempercepat langkahnya dan mengobrol santai dengan kakak sahabatnya itu. "Sebenarnya gue gak yakin waktu loe ngajak jalan," tuturnya pelan. Jaesi mendengus dingin ketika menatap punggung tangan besar Jacob.
"Gue juga gak yakin mau ngajak loe, secara loe kan gak pernah memikirkan orang kaya gue." cibir Jacob yang malah mendapat pukul kecil dari gadis cantik disebelahnya, beberapa kali ponselnya berdering tetapi gadis itu mengabaikan pesannya lalu asik berbincang dengan Jacob mengenai apa yang ia rasakan beberapa hari terakhir ini. Terlalu banyak bercerita membuat sang gadis merasa lapar dan kehausan, akan tetapi lelaki itu tak mengajaknya makan disalah satu restoran mall.
"Cewek loe apa gak ilfeel sama keadaan kantong loe ya? Secara anak orang kaya tapi makannya kaki lima," ejek perempuan tersebut yang kemudian mendapat toyoran dari arah samping, menurut Jacob tak ada salahnya untuk mencoba makanan kaki lima selam itu masih dalam kadar yang terbilang sehat. Jacob menggelengkan kepalanya sembari tersenyum heran pada sang gadis, jujur saja Jaesi tidak pernah diajakin ketempat seperti ini sama kekasihnya sendiri. Marco. Rasanya ingin menukar keduanya saja, agar gadis merasa bisa lebih bersyukur karena mendapat perhatian dari orang kaya Jacob.
"Cewek gue bukan orang kaya loe," ujar Jacob sekenanya. "Loe harusnya dulu pilih gue aja, gak usah sama Marco kalo pada akhirnya akan tetap menyakinkan kaya sekarang." cibiran itu masih ditujukan untuk gadis yang tengah melahap makanannya, "kalo kaya gini, gue udah gak bisa sama loe lagi. Kan gue udah ada sekarang." goda lelaki itu.
__ADS_1