Vilanian

Vilanian
6


__ADS_3

Jaeril menatap kakaknya aneh yang sehabis pulang dari luar malah grasak-grusuk kaya orang lagi mau ribut berantem. Jaesi melirik sekilas adiknya dengan tatapan nyalang, pemuda yang menyusulnya dari belakang menaruh bokongnya santai diruang tengah dan menyalakan televisi.


"Kak, kenapa si? Loe dapet?" Jaeran menolehkan kepalanya lalu menimpuk adik kelasnya itu dengan tak santai. Pemuda itu langsung menaruh satu jarinya di depan mulutnya.


"Ssstt!" Jaeran menggeleng agar tak menyinggung hal itu.


Sang adik yang paham langsung ke lantai atas untuk memberikan jamu tradisional yang biasa perempuan itu minum. Maklum racikannya Mama sendiri lebih suka itu juga pendapat gadis itu, saat Jaeril masuk ke dalam gadis itu lagi jerit-jerit gak jelas. "Dih, udah aneh, makin aneh ajh. Minum dulu tuh." Ucapnya, seraya menaruh gelas itu diatas nakas. Jaesi menoleh ke arah adiknya dengan tatapan menohok.


"Apa loe?!" Galak gadis itu.


Jaeril mendengkus kecil lalu keluar dari kamarnya, pemuda itu menolehkan kepalanya sebentar lalu meninggalkan luka di kepala kakak perempuannya itu. Iya, pemuda itu sempat membawa botol susu kosong dari dapur, bekas tetangga sebelah rumah dulu.


Gadis itu berdiri dan keluar tanduk di kepalanya lalu melangkah maju ke depan muka Jaeril yang menelan ludah kasar. Dirinya lupa kalau kakaknya sedang masa tak bisa diganggu. Sebelum Jaesi mendekat pemuda itu keluar dari kamar tersebut kemudian lari mengunci pintu kamarnya sendiri. "Awas loe ya!" Ancam gadis itu yang menuruni tangga rumahnya. Jaesi duduk di samping Jaeran yang masih menonton film di Netflix rumah Jaesi.


"Jaes, kata si Jack loe beli baju Kopel ya?" Tanya, Jaeran yang menurunkan handphonenya dari depan mata.


Gadis itu kontan menoleh saat ditanya seperti itu. Jaesi tak menjawab dengan gamblangnya namun dari gerakan bibirnya pemuda itu tau, gadis disebelahnya membelikan untuk siapa. "Ren, loe gak takut gitu?" Cetus, gadis itu yang tiba-tiba random. Jaeran mengerutkan keningnya lalu menggeleng cepat sambil meraih toples kaca.


"Hm? Takut apa?"

__ADS_1


"Kalo tiba-tiba gue baper gimana?" Jaeran menghentikan kunyahannya itu dan menolehkan kepalanya secara sempurna serta mengubah posisinya jadi menghadap gadis itu. Pemuda itu menatap mata Jaesi sarat akan makna dalam, saat melakukan itu gadis itu menjadi salting sendiri.


"Emang loe baper?" Tanya, Jaeran serius.


"Enngg ... Huh? Siapa? Gue? Ha-ha-ha! M-mungkin," Jaesi menyahut seruan Jaeran dengan terbata-bata. "Heh! Biasa dong!" Sewotnya, yang menoyor kepalanya Jaeran. Namun tak ada raut bercanda diwajah pemuda itu.


"Gue lebih seneng kalo loe baper," kata pemuda itu yang beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Jaesi melotot kaget'. Dirinya jelas kaget dengan sikap frontal cowok itu.


Jaesi merenung sejenak dengan ucapannya tadi, mendadak dia jadi salah bicara soal perasaan pada cowok yang ada di dapurnya itu. Saat hendak menghampiri cowok itu bel rumahnya berbunyi, perempuan itu dengan malas membuka pintu depan rumah. "Marco?" Kagetnya yang melihat kedatangan Marco dengan seorang gadis cantik. "Dia siapa?"


"Temen aku,"


"Ngapain sih bawa dia," sahut, Jaesi agak gak enak.


"Ya gak gitu juga kali." Sinis, perempuan itu yang menatap wajah gadis disebelah pacarnya tersebut.


Jaesi mempersilahkan mereka berdua masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya agak gak rela gadis itu, karena rumahnya diinjak sama calon pelakor, karena gak mau dibilang sok jadi ia terpaksa harus melakukan itu. Jaeran yang baru dari dapur mengernyit heran kemudian melirik ke arah si gadis. Pemuda itu berdecak kesal lalu menatap wajah Jaesi yang terlihat gak senang.


Marco terus tersenyum pada perempuan yang ada disampingnya itu. Itu membuat Jaesi merasa cemburu namun ia sebisa mungkin menahannya, Jaeran mematikan lampu karena filmnya sudah mau mulai. Pada saat bagian kiss scene, Marco mencium bibir gadis itu dan Jaesi pun terkejut, tak lama Jaeran mengarahkan wajahnya untuk menatap matanya saja. Gak lama kemudian air matanya mengalir dari pipinya yang mulus, "eh, eh, jangan nangis. Masih ada gue, liat gue ajh." Ujar, Jaeran bernada lembut. Pemuda itu mendekat kepalanya dengan natural, lalu memiringkan kepalanya dan semakin mendekati wajahnya dengan wajah Jaesi.

__ADS_1


Jantungnya berdetak cepat. Jaesi memejamkan matanya seraya tak mau melihat bola mata pemuda di depannya itu. Jaeran menyentuh bibirnya dan bibir Jaesi yang tipis, dibelakang mereka Marco mengepal tangannya kuat. Ia tidak terima dengan cowok pendiam di depannya itu, sementara Jaeran menyeringai puas dengan pembalasannya.


Bukan. Itu bukan cium yang intim, namun itu hanya menempelkan bibir merah mereka satu sama lain. Diam-diam gadis yang masih ada di depan Marco itu memotret aksi pembalasan Jaeran dan mengirimkannya pada Cilla.


Vilanian


Cilla sedang mencari handphonenya yang gak berhenti berbunyi saat menemukannya. Ia segera membuka pesan yang baru saja dikirim untuknya, ia terkejut, tubuhnya terjatuh kepinggir kasur. Manik matanya memanas dan seperti ingin menangis saat ini juga.


Cilla menekan tombol power dan menonaktifkan handphonenya yang sedang tidak mau diganggu, cewek itu menangis tersedu-sedu saat kembali masuk ke ingatan yang baru saja dirinya terima.


Vilanian


Jaeran mencoba menghubungi nomor Cilla namun tak kunjung aktif juga. Katakanlah pemuda itu adalah pemuda brengsek, ia terlalu takut untuk kehilangan kesempatan dekat dengan Jaesi namun ia juga tak mau Cilla pergi. Jaeran mengusak rambutnya kasar dan kembali masuk ke dalam rumah Jaesi. Jaesi masih terpaku dengan perlakuan khusus Jaeran tadi, ia terdiam dan ada ketakutan yang luar biasa dari lubuk hatinya. Ia takut cintanya sepihak dari pemuda itu, namun ia tak mau egois dan tak memikirkan perasaan Cilla. "Ren, loe gak telpon Cilla?" Tanya, Jaesi memelan.


"Udah, tapi gak aktif,"


"Gue takut, ... Kalo gue cuma baper sepihak gimana?" Gumam, Jaesi yang masih terdengar oleh telinga pemuda itu. Jaeran menghela nafasnya panjang lalu menatap layar televisi dengan tatapan mata kosong.


"Gue pastiin loe gak sepihak," pemuda itu memberi keyakinan pada gadis yang lagi memandangi wajahnya dengan kedua alis yang tertaut.

__ADS_1


Cilla bahkan mengurung dirinya di dalam kamar. Sedangkan Jaeran berusaha meyakinkan Jaesi kalau dirinya tak sepihak, namun gadis itu tak mau mengambil risiko yang besar dan mengorbankan perasaan cewek lain.


Jaeran merapatkan jarak mereka dan mengikis tempat yang ada. Entahlah sedaritadi hormonalnya selalu bergejolak dengan Jaesi. Dia menatap gadis yang lagi asik nonton TV dengan tatapan sendu, pemuda itu tak bisa untuk gak menahan gejolak yang ada di dalam hatinya. Rasanya hanya tidak ikhlas jika sahabatnya bersama orang lain. Pemuda itu menatap binal bibir merah Jaesi, namun itu dirinya enyahkan dan menjauh dari sisi Jaesi.


__ADS_2