
Jaeran membereskan barang-barangnya lalu melangkahkan kakinya lurus sejak masuk kuliah laki-laki itu sama sekali nggak mengikuti kegiatan yang ada di kampusnya bahkan ia dirinya jarang hadir dalam rapat organisasi di sana laki-laki itu benar-benar menjaga mobilitas pertemanannya sama siapapun tetapi di kampus itu ia memiliki satu teman laki-laki yang menurutnya bisa diajak mengadu nasib. Jaeran duduk lalu membuka roomchat grup persahabatan mereka bertiga.
...PENGABDI NYAI JAESI...
Darren
nyai dmn?
Jaesi
indo
gak ush ad pkrn nyusul
TAMPOL YA MA GUE!!
^^^Anda^^^
^^^elo bknny emg di indo?^^^
Darren
dih gk tau-tauan
Jaesi
hm
heh manusia kampang diem aja. @Darren
__ADS_1
shhtt!
Jaeran menghela panjang lalu menatap langit australia bahkan gadis itu masih gak meresponnya sama sekali. apa persahabatan mereka tuh gak bisa diperbaiki? kenapa semua malah berakhir menyakitkan seperti ini. Jaeran melihat Cilla datang menghampirinya lalu dengan langkah cepat pemuda tersebut pergi begitu saja dari tempatnya berada saat ini. "Jaeran!" lelaki tersebut gak menghentikan langkahnya sama sekali.
"Hm."
"Jaeran! kamu dengar aku gak sih?!"
"Cillaria let's break up." gadis itu tertawa seraya nggak ada hal apapun yang dikatakan oleh sang kekasih namun pada saat menatap mata laki-laki yang sudah menemaninya selama ini rupanya itu bukanlah hanya sebuah lelucon atau bahkan ilusi saja kekasihnya ini benar-benar ingin mengakhiri hubungan bersamanya. "mari kita udahin hubungan toksik ini." Cilla geming lalu gadis tersebut mengeluarkan hasul laboratorium.
"Aku mengandung." Jaeran menatap gak percaya kemudian melanjutkan langkahnya selama ini laki-laki yang lagi menahan emosinya itu sama sekali nggak pernah menyentuh pacarnya sendiri apalagi sampai berbuat sejauh itu dan hubungan mereka merupakan hubungan yang sangat sehat sehingga tahu batas kemampuan diri masing-masing tetapi surat itu dijadikan sebuah alasan untuk keduanya nggak mengakhiri hubungan yang lagi mereka jalin sejujurnya itu bukanlah hasil laboratorium milik gadis yang ada di belakangnya itu hasil laboratorium itu merupakan milik dari tantenya yang saat ini sedang mengandung anak kedua.
"Kamu pikir aku bego? itu bukan punya kamu!"
"Ini punya aku dan udah diberikan pada keluargaku. kedua orang tua kita mau: kamu bertunangan sama aku."
"Jangan gila."
"Jangan gila! apa dengan begitu kamu bisa merubah keputusanku untuk mengakhiri hubungan ini nggak sama sekali aku bahkan tetap akan melakukan sesuai keinginan aku dan hubungan ini harus tetap berakhir. gak ada lagi kata kita dalam hubungan aku sama kamu." pemuda itu gak percaya dengan begitu cepat atas apa yang dikatakan oleh sang kekasih atau bisa dikatakan mantan kekasihnya itu tetapi gadis yang tertinggal dalam langkah laki-laki tersebut tetap saja menganggapnya sebagai pacar.
"Aku gak mau tau kamu harus bertanggung jawab dan yah aku emang gila karenamu." Jaeran gak mau dipaksa atas apa yang sama sekali gak dirinya lakukan namun saat ini jelas Jaeran gak memiliki opsi lain.
Indonesia
Jaesi memerhatikan anak-anak yang latihan lalu ia duduk tepat disebelah Lio yang saat ini sedang melatih muridnya, gak sangka juga cowok tersebut bisa meneruskan pekerjaan coach mereka. "apa kabar?" tanya Lionel yang tau kedatangan sang teman.
"Gak baik, ya keliatannya gimana?!"
"Gak berubah fix!"
__ADS_1
"Power ranger kali ah! lanjut di mana Lio?"
"Univ bunga bangsa. Fakultas asing, prodi bahasa." Jaesi jadi kepikiran sama Jaeran dulu cowok itu ingin memilih jurusan satra dan budaya agar bisa memahami banyak makna. apa sekarang Jaeran meneruskan niatnya itu ya? atau mengambil jurusan lain, "gue dengar-dengar elo udah gak berhubungan sama Jaeran semenjak nerusin keluar? kenapa? apa karena masalah diantara kalian?"
"Satu-satu nanyanya. mau rampok loe?"
"Haha, emang gak ada dua teman gue ini. gak bareng sama Jaeran?"
"Gak apa-apa, emang harus banget ya bareng terus. wkwk, it's not something new by the way." Lio kini jadi memahami hal yang selama ini sulit tuk Jaeran pahami seenggaknya dalam waktu singkat dirinya tau alasan kepindahan Jaesi karena apa. namun hal tersebut disalah artikan oleh Cilla dan Jaeran dan malah semakin memperlihatkan perasaan cowok itu terhadap sahabat masa kecilnya.
"Gue tau kok."
"Yaudahlah itu kan udah lama banget. lagian kenapa baru cari tau sekarang."
"Gue agak penasaran aja sama pertemanan kalian sekarang. setelah pertengkaran 3 bulan lalu apa semua kembali normal?" Jaesi menepuk pundak temannya itu kemudian tersenyum simpul: sudah jelas gak ada yang baik-baik saja tapi gadis itu malah mengiyakan perkataan dari temannya tersebut. "kalo cari bu Dini ada di ruang bk." lanjut Lio yang berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut. Jaesi memandangi setiap sudut sekolah. setiap ruangan yang dipenuhi dengan ingatan Jaeran beserta tingkah randomnya, ingatan di mana semua masalah mulai muncul dan gak terkendali.
"Setiap sudut gue habiskan sama loe Jae. gak ada satupun kenangan yang terlewatkan dari sekolah ini, parkiran, kantin, koridor dan perpus." gumam gadis tersebut yang mengepalkan tangannya kuat seraya menghapus air matanya dengan cepat. sesak rasanya ingat alasan mereka jadi seperti ini sekarang. keduanya sama-sama mengenang waktu yang gak mungkin bisa kembali selepas bertemu dengan bu Dini kemudian Jaesi melangkahkan kakinya untuk memenumui bu Jihan lalu pamit pulang akan tetapi sebelum itu gadis tersebut gak lupa membeli jajanan favoritenya. gadis itu benar-benar merindukan sosok laki-laki yang saat ini tengah menjalankan pendidikannya di negeri lain tetapi rasanya dirinya nggak menyesal karena sudah meninggalkan segala kenangan tentang laki-laki tersebut dan membiarkan cinta abadi nya itu bahagia bersama orang lain ... gadis tersebut merasa bahwa dirinya lah yang seharusnya mengorbankan segalanya demi pemuda yang sudah menghabiskan setengah hidupnya bersama ia.
Jaesi mengepalkan tangannya kuat lalu merapalkan doa agar ia gak lemah, "lho Jaesi?" tegur Jacob yang baru saja keluar dari ruangan bu Jihan. gadis itu terkejut dengan apa yang diliatnya lalu menyapa balik tetapi dengan perasaan kikuk.
"Jack."
"Bukannya elo ada di Paris?"
"Iya, gue balik karena harus selesaikan urusan disekolah. elo tau 'kan kalo ijazah itu harus pake tanda tangan sendiri dan cap tiga jarinya gak bisa diwakilin."
"Gue kira elo balik lama. sebelum berangkat ke Ausie Jaeran udah selesaikan semuanya, makanya adik gue belum balik lagi." Jaesi belum mengatakan apapun mengenai itu namun dirinya tau alasan kepergian sahabat baiknya bukan karena memang ingin menjauh, "loe kenapa gak pernah angkat panggilan dari Jaeran. dia secemas itu sama loe karena pergi gak bilang." Jaesi masih belum mengatakan apapun juga sampai di detik berikutnya gadis itu berbohong mengenai kondisinya selama di Paris.
"Gue mau move on." Jacob cukup terkejut atas apa yang didengarnya lelaki itu tau kalau gadis ini berbohong akan tetapi Jacob masih menghargai keputusan anak tetangganya itu.
__ADS_1
Satu notifikasi pesan belum dibukan
Jaeran gue harap apa yang dibilang Darren bohong