Vilanian

Vilanian
19


__ADS_3

Cilla menyunggingkan senyumnya begitu memandang ke depan melihat ada Jaeran di sana sedang berlari ke arahnya lapangan basket bukan tempat janjian mereka akan tetapi jelas saja tempat itu paling strategis buat backstreet sama Cilla dan ... tanpa mereka sadar ada pasangan lain juga di sana Marco juga Vanilla, Jaeran bahkan gak sadar kalau itu adalah Marco yang lagi bersama cewek lain. Itu membuat Cilla melihat ke arah lapangan karena ada hal yang mengganjal di sana, gadis itu ingin memberitahu Jaeran akan tetapi apa yang harus ia katakan ketika cowok di sampingnya bertanya nanti dan hey! Itu bukan urusannya walaupun Jaesi teman baik pemuda yang menjadi pujaan hatinya, Cilla mengabaikan mereka berdua dan segera menyusul Jaeran di depannya. "Aku gak tau kalau di sekolah gak hanya cuma kita yang janjian," Jaeran mengernyitkan dahinya bingung lalu menghentikan langkahnya dan menoleh cepat.


"Siapa yang kamu maksud? Jaesi di rumah kok."


"Kamu yakin? Soalnya aku liat Mar—co" ucapan Cilla tak dihiraukan saat Jaeran mendemgar apa yang dikatakan cewek itu barusan, gadis itu menghela pendek lalu mengikuti langkah Jaeran yang agak terburu-buru. Cilla bingung kenapa Jaeran sangat begitu perhatian pada Jaesi ssdangkan mereka hanya sahabat dan lagipula tak ada hubungannya dengan mereka, sesak banget rasanya kalau lagi ngomong ditinggal begitu saja. Kaya gak ada artinya sama sekali, Cilla menahan lengan pemudanya lalu menatap dalam bagaimana hancurnya perasaan hatinya saat keduanya sedang bersama malah ada gadis lain di pikiran Jaeran, "kamu gak berniat untuk baku hantamkan?" genggaman tangan dari Jaeran mengerat saat mendapat hantaman dari pertanyaan yang tak pernah terbayangkan dari gadisnya itu. "Jangan lukain diri sendiri hanya karena hal sepele," ya sebenarnya gak penting juga buat cowok itu menghajar Marco. Karena sahabat tetap sahabat. Lebih sakit menerima kenyataan itu daripada tau kalau Jaesi diselingkuhi seperti ini.


"Kamu tuh bicara apa si," mengelak jalan satu-satunya buat Jaeran untuk menghindari konflik. Belum jadian tapi sudah diterpa masalah seperti ini bagaimana nanti? Ya paling tau habis pikir itu kenapa Jaeran selalu menomorsatukan Jaesi daripada dirinya, gak mungkin itu hanya sekadar sahabat. Cilla yakin akan hal ini.


Jaesi menunggu telpon dari Marco ya memang sedari pacarnya pergi sama sekali tak ada satu telpon atau pesan yang masuk, ketika ponselnya berbunyi ia pikir itu dari Marco namun rupanya hanya sebuah pesan operator yang menandakan kalau kuotanya akan habis sebentar lagi ... perempuan yang berdiri dengan gelisah itu cuma bisa membuka-tutup ponselnya, rasanya sepi sekali ketika punya pacar tapi malah keliatan seperti orang jomblo. "Berharap apa loe Jaes! Marco mana mau telpon duluan kalo gak lagi sawan elah!" rutuk Jaesi yang mendapatkan gelengan keras dari adiknya.


"Percuma ada status tapi rasa jomblo," Jaesi tau adik laki-lakinya itu menyindir dirinya tapi ia abai begitu saja. Jaesi diam sebentar lalu membalasnya tak kalah julit, gadis itu tau bagaimana ia harus membalas Jaeril yang bersikap seenaknya pada gadis tersebut tak lama sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Jaeril yang dibarengi sama Jaesi.

__ADS_1


"Mending mana? Ada status apa HTS?" Jaeril bungkam lalu menoyor kepala kakaknya dengan keras.


"Gak keduanya!" sinis pemuda itu yang meraih kunci motor lalu melengos pergi dari depan sang kakak perempuan Jaesi terbahak, merasa puas sudah membalas adiknya yang gak ada akhlak itu. Jaeril bahkan gak bisa membungkam ucapan gadis itu dengan serangan baliknya, "mendingan gue liat loe nangis daripada kena friendzone!" Tapi itu gak serius kok hanya becandaan dari Jaeril saja karena terlalu hening.


"Songong ya!" Jaesi menghela panjang lalu menggelengkan kepalanya dan terkekeh sendiri, kadang aneh saja mereka adik kakak tapi kaya berteman. Rasanya itu seperti memiliki sensasi tersendiri bagi mereka berdua, Jaesi memandang frame keluarga mereka yang tampak akur dan tak masalah, gadis itu mendengkus panjang ketika melirik frame disebelahnya. Di mana frame dirinya dan dua sahabatnya.


Jaesi duduk di kursi depan rumah seraya menyalakan musik pada saat mama balik ia tak mendengar suara deru mesin mobil jadi tak tau kalau mama dan papa sudah kembali dari perjalanan bisnisnya, ketika lagi asik mendengarkan musik dengan seenaknya mama menarik satu tali earphonenya dan menarik telinga Jaesi. "Gak sopan!" Omel mama yang memukul tangan anak gadisnya kemudian berlalu masuk ke dalam rumah. Mama meletakkan oleh-oleh lalu memanggil Jaesi agar membagikannya pada warga sekitar, "bagiin sama tetangga lama saja."


"Ya gak apa-apa, kan. Calon besan ini." Jaesi membeliak kaget kemudian menatap wajah mamanya sedatar mungkin bahkan papanya tergelak ketika mendengar ejekan istrinya itu, tak ada yang tau memang kalau keluarga agak akhlakles. "Papa saja setuju kalau kamu sama Jaeran, tinggal kamunya saja mau Jacob apa adeknya?" ledek mama yang sontak saja membuat pipi anak gadisnya bersemu merah.


"Ma! Aku ada Marco!"

__ADS_1


"Jujurli mama agak kurang suka sama Marco."


"Mama gaul sekali," celetuk papa yang sedari tadi diam saja sembari mengambil risol di atas meja. "Papa setuju si sama mama kamu, lebih baik orang yang sudah dekat." sahut papa yang mendapat pelototan dari mama karena ambilin gorengan terus-menerus, papa yang kelihatan seperti itu di mata mama cuma bisa cengengesan.


Jaeran bertengkar dengan Cilla yang lagi melarangnya duel sama Marco agak kaya orang pacaran si tapi mereka terlihat cocok di mata anak lain. "Marco mau selingkuh itu bukan urusan kamu!" jeda sebelum akhirnya Cilla mengalah pada kekeraskepalaan gebetannya tersebut. "Kamu tuh lebih peduli siapa!? Aku apa Jaesi!!" meski begitu tetap saja emosinya tersulut dengan mudah sama Jaeran yang terus-terusan bela Jaesi.


"Terus kamu maunya gimana?" lirih pemuda agak sedikit lelah sama pertengkaran mereka.


"Kepastian dari kamu." Jaeran membungkam lalu menghela kasar seraya mengusak rambutnya, jika itu yang dimau sama Cilla agak sedikit susah karena cowok ini belum bisa melepaskan Jaesi bersama Marco, "sebenarnya kita itu apa? Kenapa kita selalu kaya gini?" pertanyaan itu selalu muncul dibenak Cilla wajar jika: gadis itu meminta kepastian pada Jaeran. Sudah sebulan sejak mereka saling kenal dan menjadi akrab sehingga saling menautkan hati satu sama lain seperti saat ini, Cilla terisak pelan lalu mengusap air wajah dengan cepat sebelum Jaeran melihatnya.


"Maaf," hanya itu yang bisa cowok tersebut katakan karena Jaeran tak bisa berkata apa pun lagi. Dirinya saja tak tau perasaannya akan berlabuh pqda siapa dan gadis mana yang akan merasa tersakiti karenanya.

__ADS_1


__ADS_2