
Darren mengalunkan lagu favoritnya dari 11:11 band pemuda memainkan gitarnya sembari bernyanyi bersama Jantho yang juga ikut mengalunkan nada melalui piano milik Darren, sedang Jaesi mendengarkan musik yang dimainkan teman-temannya itu seraya menganggumi itu. Cewek itu juga bersenandung kecil sambil memejamkan matanya menikmati lagu, siang ini rumah Darren sangat sepi dan hanya ada mereka bertiga.
"Gue laper masa," celetuknya, yang menghentikan permainan gitarnya.
"Gofood kali ya?" Tanya, Jantho sependapat.
"Males," sahut, gadis itu menatap wajah cowok itu. Jantho tak pedulikan omongan cewek itu dan langsung buru-buru mengambil handphonenya dari dalam tas. "Gue masakin ajh pada mau gak?" Usulan Jaesi langsung ditolak mentah-mentah sama kedua orang itu, Darren yang membayangkan dirinya sakit perut terhadap makan racun milik gadis itu ajh tak mampu. Jantho yang hanya dapat meneguk air liur kuat-kuat, perlu di ingat lagi, dulu saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Gadis itu pernah mengusulkan hal serupa dan berakhir mereka buang-buang air besar.
"GAK!!!!" kompak keduanya yang menyahut bersamaan.
Jaesi mengedipkan matanya lucu dan terkejut saat dengar itu, cewek itu mendengkus sembari memanyunkan bibirnya kesal. "Ya elah, kaya bakal diracun ajh,"
"Ingat gak waktu SMP?"
"Hm, ..."
"Kena racun juga kan? Makan loe gosong terus kita diare!" Jaesi meringis saat mengingat kejadian itu dan wajahnya langsung tersengir konyol lalu menggaruk tengkuknya kikuk.
Sebuah ide buruk jika Jaesi benar-benar dibiarkan masak dirumahnya itu, dan ide buruk juga kalau mereka gak makan. Perutnya udah menggelar konser orchestra koplo di dalam sana. Darren melangkah masuk ke dalam dapur, jujur sebenarnya pemuda dimple itu tak tau cara masak. Karena ia bukan Jaeran yang pintar dalam masakan.
__ADS_1
Pemuda itu mendengkus lalu memutuskan untuk mencari resep masakan di internet, cowok yang lagi melengang keluar dari area dapur berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil charger baterai. Jantho masuk ke dalam dapur dan menyalakan api kompor gas, dengan sok taunya pemuda itu memasak sebuah sayur asem yang hanya berisikan air panas tanpa bahan sayuran. Jantho meninggalkan tempat itu tanpa mematikan kompor terlebih dulu sebelum memasukkan bahan bakunya. Terdengar suara ledekan ketika itu dari belakang dapur, Jantho yang kembali menganga lebar melihat keadaan dapur rumah temannya udah hangus terbakar. Darren turun di anak tangga keempat matanya membulat sempurna melihat dapurnya hancur, sedang Jaesi kaget hingga menutupi seluruh mulutnya menggunakan tangan.
Aura Darren berubah menjadi hitam dan memandangi wajah Jantho yang melirik ke arahnya tersenyum damai, Jantho termundur ke belakang dan berbalik arah mau pergi. "Siapa yang bertanggungjawab atas ini semua?!" Geram Darren pada keduanya. Jaesi tanpa dosa menunjuk ke arah Jantho, dan cowok itu kontan menepuk tangannya. "Nur Jantho, ..." Panggil Darren. "Dapur nyokap gue,"
"Ren gue gak sengaja, sumpah dah!"
Darren masih diam saja menatapnya datar lalu melengang gitu ajh tanpa mengatakan apapun, pemuda itu benar-benar marah besar pada teman-temannya saat ini. Selepas itu pemuda berdimple itu kembali dengan melempar sapu serta serbet bersih. "Beresin," titahnya.
Vilanian
Jaeran menatap wajah Cilla yang tak melunturkan senyumnya, wajah berseri sang kekasih membuat pemuda tersebut tak tega untuk meninggalkannya sendirian ditempat ramai seperti ini, Cilla terus memeluk boneka beruang besar yang diberikan oleh Jaeran. Pemuda yang lagi menunggu chat balasan dari sang sahabat itu tak merespon ucapan gadis yang duduk disebalahnya.
"Kalo kamu cuma mau bahas Jaesi keanya aku pulang ajh, ..."
"Cill, tunggu. Aku belum selesai ngomong."
"Kamu bahas Jaesi lagi kita gak ketemu ya?" Ancam, Cilla yang membuat pemuda itu tak bisa berbuat apa-apa, gadis itu tau sekali gimana cara mengendalikan Jaeran.
Jaeran mengerang frustrated dan melangkah mendahului Cilla yang tersenyum menang, pemuda itu bahkan tau jika ego gadis itu mampu mengendalikan dirinya. Sepanjang jalan cowok itu terus kepikiran sama kata-kata Cilla yang selalu membuatnya jadi Kian tertekan. "Cill, sampe kapan kamu kendaliin aku kea gini? Harusnya kamu paham sama apa yang aku maksud. Kamu gak bisa berbuat seenaknya!" Geram Jaeran yang menghentikan langkahnya dan menatap wajah Cilla serious.
__ADS_1
"Aku gak akan kea gini kalo kamu berhenti bersikap heroik soal Jaesi! Inget kamu punya aku! Kalo pertanyaan itu aku balik gimana? Sampe kapan kamu gak bisa kendaliin perasaan kamu, ... Jujur aku capek bersikap kea pacar yang baik terus. Sebenarnya kamu anggap hubungan kita apa?"
"Cillaria!" Bentak Jaeran yang membuat gadis itu terkejut dan mematung dengar bentakkan itu.
Jaeran hendak meninggalkan perempuan itu di sana, namun Cilla menahan lengannya dan itu semakin membuat pemuda itu jengkel. Cowok itu menangkis tangan kecil gadis yang ada dibelakangnya dan melengang pergi gitu ajh. Cilla menahan sesak dadanya yang melihat Jaeran kian jauh dari pandangan matanya, hatinya semakin sakit saat ingat pertengkaran mereka terakhir Kali tadi.
Jaeran melajukan motornya kencang dan menebas jalanan yang lagi kosong, pemuda itu hanya kepikiran akan keadaan Jaesi yang saat sedang berada di mall bersama dua temannya itu. Jaesi tampak asik main Laughing of Leigh yang tengah viral saat ini, Darren juga lagi duel bersama gadis itu. Sesaat senyap dan tak ada obrolan serius, ketika Jantho menyinggung soal perasaan raut Jaesi berubah drastis. "Relationship loe tuh, terlalu susah ya, ..." Ujar, Jantho yang lagi menyeruput Green tea.
"Maksud?"
"Friends to lovers gitu,"
"Friendship?" Jantho ngangguk lalu mengambil kentang goreng milik Jaesi.
Jaesi tampak diam dan menghentikan permainannya itu kemudian beranjak dari duduknya lalu melangkah ke arah toilet, lalu berkata, "gue ajh gak ngerti apa yang kalian omongin." Sahutan itu membuat kedua pemuda itu menggeleng pelan lalu saling memandang.
"Anjim gue pikir dia ngerti," keluh Darren yang di angguki oleh Jantho. Pemuda tersebut lebih memilih untuk menghubungi sang kekasih daripada mendengar suara ocehan pemuda dimple itu.
Jantho melirik Jaesi yang kembali dengan wajah tercenung, keningnya mengerut bingung dan membuatnya kontan bertanya pada gadis itu. Namun saat hendak bertanya cowok itu terus menatap luar dan melihat Jaeran lagi jalan sama seorang cewek yang kayanya bukan Cilla. Cowok itu seperti tak sadar sedang dilihatin oleh seseorang,
__ADS_1
Pemuda yang lagi memandang itu langsung berdiri dan melangkah ke arah luar, Darren yang lihat mengerling acuh dan kembali menatap layar handphonenya. Jaesi berteriak kesal dan itu jadi pusat perhatian warga sekitar, untungnya gak lagi dirumah sakit. "Bicik Jaes," tegur pemuda itu yang menggeleng heran.