
Jaesi menatap wajah Marco khawatir, tubuhnya berbalik arah menghadap ke arah di mana Jaeran berada saat ini. Perempuan itu memincingkan matanya curiga pada pemuda itu, bahkan tidak biasanya pemuda tampan tersebut menyerang seseorang yang sedang terluka cukup serius seperti ini. Jaesi sangat tau bagaimana sifat temannya itu, dia bahkan berani bersumpah jika orang tersebut adalah Jaeran. Gadis itu tak akan memaafkannya selamanya. "Please bilang bukan kalo memang itu elo," desisnya pelan.
Jaeran tetap bungkam dan tak mengatakan apapun, namun dari raut wajahnya yang semakin menunjukkan jika itu kebenarannya. "Iya, itu perbuatan gue." akunya.
"Bukannya loe udah setuju?" gadis itu tertawa sarkastik lalu menatap sengit Darren yang juga hanya menggeleng kepalanya cepat.
"Loe gak akan percaya," astaga apalagi ini? Apakah harus dibahas dalam keadaan seperti ini? Jujur Jaesi sudah terlalu lelah dengan semua orang.
"Apa loe mau bilang apa yang dibilang sama Darren? Jaeran, gue tau loe anggap gue adik. Tapi apa harus ya kaya gini? Gak cukup apa yang loe lakukan itu hanya jaga gue kalo gue terluka kaya sekarang!" teriak perempuan itu marah.
"Apa loe bakal terima kalo adik loe disakitin cowok lain? Gue rasa enggak," Jaesi mengernyit tak mengerti dengan arah pembicaraan pemuda itu. Gadis itu menghela panjang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruang kesehatan.
"Gue gak butuh belas kasihan loe! Dan ya, gue bukan adik loe." dorong gadis itu yang semakin menarik langkahnya ke arah pintu. Jaeran menggeleng kepalanya heran tak mengerti dengan apa yang ada dipikirannya Jaesi.
Darren pergi meninggalkan keduanya yang sama-sama terpaku menatap punggung Jaesi, ... Pemuda itu mencoba mengejar langkah kaki gadis itu. "Jaesi! Tunggu!" engahnya yang merasa lelah.
"Apalagi?" ketus gadis itu.
__ADS_1
"Seenggaknya loe dengar dulu penjelasan dari Jaeran. Kenapa loe gak cari tahu mengenai apa yang dikatakan sama Jaeran?" Jaesi terdiam sejenak kemudian tak lama gadis cantik itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju taman belakang sekolah. "Gue harap loe pikirin baik-baik, ..."
Matanya terpejam rapat menahan diri agar tidak terlalu larut dalam masalah, pemuda itu masih berpijak pada rumah yang bernuansa modern tropis. Kepalanya menoleh saat melihat seseorang datang dari arah berlawanan, ... Jaeril menyipitkan matanya guna memperjelas apa yang ia lihat. "Bang Jack?" teguran itu membuat sang empunya nama memiringkan kepalanya perlahan sambil tersenyum tipis.
"Jaeril"(?) keduanya saling melepas rindu lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Tak banyak yang berubah dari terakhir kali mereka bertemu satu sama lain, lelaki itu tampak semakin gagah perkasa. Jaeril tersenyum tipis agak terkejut dengan kepulangan tetangganya itu, ... Ouh, ya, mereka berdua lumayan dekat. Tak aneh jika gadis itu— Jaesi juga dekat dengan kakak dari sahabatnya.
"Jaesi, mana?"
"Belum pulang, paling bentar lagi." Jaeril melepaskan vest pada seragamnya lalu menuangkan meminuman untuk Jacob, kedua pemuda itu saling melempar canda yang sudah lama tak mereka berdua lakukan.
"Tau apa loe tentang Marco!! Tau apa hah!!?" balas Jaesi tak kalah sungut.
"Loe tau dia cuma mainin loe kan!!?" Jaesi berdecih seraya menarik sudut bibirnya tersenyum skeptis terhadap pemuda itu, ... lelaki itu masih berusaha untuk tetap menyadarkan kepalsuan dari lelaki yang tengah memacari gadis itu.
Jaesi mengulum bibirnya kelu, lalu menatap wajah sang pemuda beberapa saat. "Loe suka sama gue ya?" Telak Jaesi yang membuat Jaeran tak bisa berkata, ... Lelaki itu merunduk seraya memijat pelipisnya pening.
"Jaes, kita ini teman. Sahabat. Best friend. Loe paham gak sih, ..." gadis itu tak menampik kalau mereka memang menjalin hubungan pertemanan, namun sikap lelaki itu yang menurutnya janggal.
__ADS_1
"Kalo loe emang gak suka sama, jadian sana sama Cilla." Jaeran tertegun mendengar kata-kata itu lalu memutuskan untuk segera pergi meninggalkan Jaesi yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Gadis itu menghentakkan kakinya kesal, air matanya luruh berjatuhan kemudian saat di dalam kamar. Jaesi menelungkup kepalanya pada lipatan bantal dan meraung keras. "Yok bisa yok, jangan nangis." gumamnya guna menyemangati dirinya sendiri, namun hasilnya nihil. Ia tak bisa berhenti.
Entah kenapa rasanya sakit sekali ketika mengatakan hal seperti itu pada teman yang selalu ada untuknya, ... keadaan jauh berbeda dari yang ia duga sebelumnya. Hatinya begitu ngilu ketika mengatakan kata-kata yang bukan dari dalam dirinya sendiri, ... gadis itu jelas tak rela jika ia membagi rasa sayangnya pada perempuan lain, namun dalam kasus ini keduanya jelas berbeda argumentasi. Jaeril melihat sosok kakaknya yang tengah menangis, lalu mengusap pelan rambutnya Jaesi seraya menghela panjang kemudian melangkahkan tungkainya gontai.
Jaeril menggeleng kepalanya perlahan sambil terus berjalan keluar kamar, pemuda itu merasa ikut sedih dengan apa yang dirasakan sang kakak'. Namun pemuda itu juga tak bisa menyalahkan Jaeran atas masalah ini, pasalnya ia tak tahu duduk permasalahannya seperti apa. Jaeril menyipitkan matanya saat melihat kekasih kakaknya memarkirkan mobilnya dihalaman rumah mereka, ... "Kak, ada Marco." panggilnya yang kembali pada Jaesi.
Gadis itu mengulas senyum tipis lalu beranjak dari tempatnya saat ini. Jaesi berlari ke arah bawah lalu menghapus air mata yang sudah mulai mengering, Marco tersenyum lembut padanya tak lama pemuda itu menyadari sesuatu yang janggal. "Kamu nangis?" gadis itu menggeleng kepalanya cepat.
"Enggak!" serunya yang menaikkan satu nada suaranya. Marco terkejut setelah itu terkekeh geli melihat tingkah ceria gadis itu. Jaeran mengepal kuat tangannya rasa kesal semakin menjadi ketika melihat pemandangan yang menurutnya memuakkan, hey! Bukan Jaeran tidak menyadari bahwa gadis itu hanya dipermainkan oleh lelaki seperti Marco. Namun saat berada dimall pemuda itu tau jika selama ini Jaesi hanya dijadikan sebagai alasan pemuda tersebut.
Marco mengajak gadis itu hari ini berkencan dengannya namun lelaki itu tak meminta agar Jaesi berpakaian rapi, ... akan tetapi gadis itu tetap saja berpakaian rapi, maklum saja namanya juga wanita. Jika itu mengenai pacarnya pasti akan semaksimal mungkin, begitu pula dengan Jaesi.
Sudah cukup sore untuk waktunya pulang namun sang kakak perempuannya belum juga pulang ke rumah, rasa khawatir yang menjalar dari dalam dirinya membuat pemuda itu merasa gelisah. Ketika hendak bersiap-siap untuk pergi mencari sang kakak: tiba-tiba Jaesi pulang dalam keadaan kurang baik. Menimbulkan rasa penasaran dalam dirinya, tak seperti biasanya Jaesi akan selalu bercerita tentang alasan mengapa ia seperti ini, gadis itu hanya diam dan menatap wajah sang adik kosong.
Jaesi memutar tubuhnya sembari membuang nafasnya kasar, "gue gak mau diganggu sama siapapun termasuk loe." ujar sang kakak' yang semakin menimbulkan rasa curiga pada lelaki yang kini berdiri menatapnya dalam.
__ADS_1