
Jaesi meraih gitar yang ada di dekat meja atas samping lemari dan memainkannya saat merasa bosan perempuan yang lagi duduk di pinggir balkon kamar karena merasa jenuh atas kegiatannya selama di rumah dan gak ada hal yang membuat gadis itu betah berada lama-lama di dalam kamar selama masa skorsingnya. Sejujurnya ia menyesal sudah ikut dalam aksi anarkis kemarin tapi ada kalanya dirinya berpikir kalau itu akan dirinya kenang baik-baik selama sama sekolah kapan lagi kan ikut-ikutan kaya begini ... siapa tau bisa diceritakan ke anak cucu nantinya. Tapi Jaesi sadar pikiran tersebut terlalu jauh karena itu mustahil terjadi. Jaeran lompat dari balkon samping lalu merebut gitar yang lagi dipangku oleh Jaesi. "Njaes!" panggil cowok itu manis.
"Apa, Njae." sahut gadis di depan dengan malas.
Jaeran memetik senar gitar lalu memainkan lagu Troy Sivan, gadis yang duduk di kursi tersebut menikmati alunan setiap nadanya ketika dipetikkan terakhir maniknya meneduh saat sepasang iris mata memandangnya dengan tatapan bertanya, Jaeran menghentikan permainan gitarnya. Sembari menurunkan pandangannya pada bibir lembab Jaesi, "sejak kejadian itu apa loe pernah kasih ke yang lain?" pertanyaan gak berdasar itu membuat sang gadis diam.
"First kiss gue kan mama, papa, sama Jaeril." asal Jaesi yang memainkan alisnya. Agak kalut sebenarnya saat mendengar jawaban dari Jaesi, apa mereka incest? Tidak. Lalu jenis ciuman seperti apa yang gadis itu maksud. "Waktu Jaeril kecil gue agak kesal karena dia lahir jadi gak pernah ngasih perhatian layaknya seorang kakak, sebagai permintaan maaf gue waktu itu dicium deh. Pasti dia kalo dengar geli. Soalnya udah lama banget." Jaeran bernafas lega berarti hanya dirinya yang melakukan hal itu.
"Berarti cuma gue ya?"
"Apaan sih!" Jaesi memainkan ponselnya lalu membuka sosial medianya, gadis tersebut cuma memantau search saja gak mau buka beranda depannya, gadis itu gak menghentikan gerakkan tangannya sama sekali saat Jaeran mengajaknya keluar rumah barulah atensinya teralih. "Ke mana? Ayo aja." ujarnya gadis yang lagi membenarkan rambutnya tersebut, Jaeran meletakkan gitarnya kemudian memeluknya dari belakang memang terlihat seperti sepasang kekasih namun kenyataan gak sesuai ekspetasi.
__ADS_1
"Kalo Aeon mau gak? Atau ada tempat yang mau loe kunjungi?"
"Ada si, South Lake beach? Itu lho yang di daerah pondok ungu," seraya melepaskan pelukkan tersebut tapi Jaeran enggan merenggangkannya. Jaesi melepasnya agak sedikit memaksa lalu duduk dipinggir kasur mendadak raut wajah pemuda di hadapannya jadi serius, Jaeran memandang paras sahabatnya penuh bukan karena nafsu tetapi ada hal lain yang ia ingin sampaikan. Ketika lelaki itu hendak berbicara ponsel gadis tersebut berdenting dan cowok itu urung mengatakannya, Jaesi sibuk dengan chatnya sontak saja itu menjadi merasa diabaikan.
"Njaes, loe tau gak sih anak pak Maman? Naksir sama loe."
"Yang beler itu? Najis banget!"
"Ouh, kalian. ada apa kemari, lagi gak salah rumah, kan?" sebenarnya Jaesi bukan takut dikira simpan pacar orang hanya karena hubungan Jaeran dan Cilla yang pacaran, mereka saja bersahabat. kemungkinan Cilla salah paham itu ada, apalagi kali terakhir gadis di depannya menamparnya karena masalah kecil.
"Gak kok, gue cuma mau minta maaf aja soal waktu itu." Cilla tulus saat meminta maaf tapi gak tau kenapa Jaesi seperti merasa waspada saja sama gadis ini, karena terlalu dekat juga gak baik.
__ADS_1
"Gue bukan orang pedendam jadi udah gue maafin dari lama," Jaesi memersilakan mereka masuk lalu menghela pendek saat lagi-lagi Jaeran datang dengan seenaknya. ketika cowok itu bilang mau ngobrol serius itu benaran adanya, Jaeran hendak mau membahas perkara di perpustakaan sama Cilla. Jaesi membuatkan minum untuk mereka semua namun saat di dapur cowok itu kembali memeluknya dari belakang bahkan terlihat sekali mesra, tanpa keduanya sadar ada yang memotretnya dan pergi begitu saja. saat di depan ruang tamu Friska menatap wajah Cilla dengan tatapan jengkelnya lalu membisikkan sesuatu kemudian menunjukkannya, gadis yang menaruh ponselnya dan langsung menyusulnya. matanya seakan menolak air yang keluar hatinya perih liat Jaeran memeluk perempuan yang bukan dirinya.
"Loe salah ngasih tantang kaya gitu ke Jaeran, dia cowok loe bodoh! kenapa elo malah izinin cowok loe deket sama yang lain? dasar gak berguna! itu cuma nambah-nambahin beban doang. sebaiknya loe berhenti La sebelum terlambat." tegur Friska yang diangguki oleh Mitha dan Siska.
"Menurut loe gitu?" lirih gadis tersebut.
"Yaiyalah!" Cilla mengusap wajahnya lalu tersenyum saat melihat Jaesi datang yang mengerutkan keningnya heran, pacar Jaeran kelihatan seperti habis nangis barusan. Jaesi membiarkan mereka berbincang lalu menghela panjang saat melihat jam sudah sangat siang pasti bentar lagi Jaeril pulang sekolah, Cilla buru-buru pulang perasaan si cowok gak enak saat liat pacarnya gak mau ngobrol sama dirinya. Jaeran menahan lengan gadisnya dan langsung membicarakan duduk permasalahannya dengan jelas, Cilla enggan memberi komentar namun ada gelenyar gak rela saat gadisnya ini bilang sudah cukup percaya dan Jaeran harus menjaga jarak sama Jaesi melebih dari batas seharusnya ... Cilla pamit dan masuk taksi.
Jaesi memilih untuk diam saat melihat pertengkaran lalu menutup pintunya, gak lama Jaeril datang dengan membawa makanan yang di minta sama Jaesi. Jaeril memerhatikan mereka yang ada di depan tanpa mau bertanya, "itu yang di depan gerbang gue belinya. jangan nitip lagi besok-besok kalo mau ayo gue anterin disangka punya cewek gue sialan." Jaesi cuma nyengir kemudian memakannya dengan lahap.
"Gak seneng gue titipin?!" seru gadis itu agak jutek, "masa sama kakaknya sendiri perhitungan." Jaeril memutar bola matanya malas lalu melengos masuk seraya menaruh kunci motor di dekat nakas meja samping, Jaesi makan gak ingat adiknya sendiri sampai-sampai seblaknya habis dimakan sendirian.
__ADS_1
"Gue? gue gak disisain?!" Jaesi geleng sambil lamutin ceker seblaknya bahkan gadis tersebut juga gak sisakan minuman dinginnya. "seenggaknya es tehnya bakal gue!" sinis adik laki-lakinya yang menggeram sebal sama kakak perempuannya.